<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5601930913131294630</id><updated>2011-08-14T12:18:09.817-07:00</updated><title type='text'>Organik</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://pseks-organik.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-organik.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>38</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5601930913131294630.post-2948953043087131016</id><published>2011-08-11T12:15:00.000-07:00</published><updated>2011-08-14T12:18:09.945-07:00</updated><title type='text'>Siswa Panen Padi Organik Dalam Pot</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pelajar SMP Negeri 209 Jakarta mempelopori inovasi penanaman padi organik dalam pot di atas atap masjid sekolahnya. Panen padi jenis Ciherang tersebut mendapat perhatian dari staf Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementrian Pertanian yang dilaksanakan Kamis (11/8/2011).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Suhri, guru yang mengenalkan penanaman, menyatakan, ini merupakan program yang sudah berjalan hampir dua tahun. Ada 30 pot padi yang ditanam. Pupuk yang digunakan dari kotoran sapi yang difermentasi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cara penanaman ini cukup mudah dan murah, karena hanya menggunakan pot seharga Rp 5.000 per buah dan biaya fermentasi pupuk hanya Rp 1.000. Bahan seperti tanah dan pupuk kandang bisa didapatkan gratis.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Dalam tiga bulan bisa dipanen dengan produktivitas sekitar 200-300 gram gabah per pot. Dalam setahun minimal tiga kali panen" kata Suhri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Metode ini bisa menjadi solusi bagi masyarakat perkotaan yang ingin menanam padi organik. &lt;em&gt;(Kompas, 11 Agustus 2011)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5601930913131294630-2948953043087131016?l=pseks-organik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/2948953043087131016'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/2948953043087131016'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-organik.blogspot.com/2011/08/siswa-panen-padi-organik-dalam-pot.html' title='Siswa Panen Padi Organik Dalam Pot'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5601930913131294630.post-2320368631515682912</id><published>2011-06-15T11:45:00.000-07:00</published><updated>2011-08-14T11:48:49.270-07:00</updated><title type='text'>Nikmatnya Menjadi Petani Organik</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Uu Saeful Bahri hanya bisa mengelus dada saat beberapa warga menertawakan cara tanam padi yang dilakukannya. Bila biasanya petani membutuhkan 30-40 kilogram benih per hektar, ia hanya membutuhkan 5-7 kilogram. Selain itu, bila petani biasanya menanam padi lima pohon per lubang, ia hanya menanam satu pohon per lubang. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Mereka bilang kalau ada keong atau hama yang lain, bisa-bisa padi dimakan semua, saya bakal gagal panen dan rugi. Banyak lagi yang mereka tertawakan, seperti air di sawah yang tidak tergenang atau lahan yang tak ditaburi pupuk kimia,” cerita Uu mengingat peristiwa 12 tahun lalu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun, nada pesimistis itu perlahan lenyap berubah menjadi kekaguman. Pola tanam yang dilakukan Uu ternyata memberikan hasil yang jauh lebih banyak dan berkualitas. Satu hektar lahan sawahnya bisa menghasilkan 10 ton gabah kering dengan modal Rp 1 juta-Rp 2 juta per musim tanam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hal itu berbeda dengan lahan petani konvensional yang maksimal hanya menghasilkan 7 ton gabah dan menghabiskan modal hingga Rp 5 juta per musim tanam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perbedaan harga pasarannya pun tinggi. Beras organik dijual hingga Rp 10.000 per kilogram (kg), sedangkan dengan bibit yang sama, padi konvensional paling tinggi terjual Rp 7.000 per kg.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Ejekan mereka lalu berubah jadi rasa penasaran. Banyak petani ingin mengetahui apa rahasianya,” kata Uu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karena itu, cara tanam yang dilakukan Uu pun menjadi tontonan. Sejak menyemai benih hingga menanamnya di sawah, banyak warga berjejer di pematang sawah. Beberapa yang tertarik lebih jauh memberanikan diri bertanya dan spontan minta diajari cara menanam seperti yang dilakukan Uu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Tak ada sakit hati. Justru saya senang berbagi kemampuan demi hasil yang lebih baik,” katanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Metode yang diterapkan Uu adalah cara tanam padi organik. Metode ini intinya adalah teknik budidaya padi yang mampu meningkatkan produktivitas tanpa menghancurkan kualitas tanah. Setidaknya ada empat rekayasa teknis yang dibutuhkan di sini, yaitu persiapan benih berkualitas, pengolahan tanah teratur, pemupukan yang tepat menggunakan kompos dan pupuk hijau, serta pemeliharaan yang telaten dan teratur.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sesungguhnya sejak dulu petani Indonesia telah mengenal cara bertani seperti itu. Salah satu buktinya, menurut Uu, sejak dulu leluhur memperlakukan tanah dan padi sebagai induk dari kehidupan. Lahan sawah padi organik pun pantang ditaburi pupuk atau pestisida kimia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Kotoran sapi dan daun busuk punya unsur hara tinggi. Selama ini ada anggapan salah di kalangan petani. Mereka menganggap kalau mau panen banyak, harus mengutamakan kesuburan tanamannya. Padahal, yang terpenting adalah tanah. Kalau tanah subur, ditanami apa saja pasti tumbuh dengan baik,” katanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Dukungan daerah&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perkenalan Uu dengan padi organik berawal dari kegelisahannya dengan hasil panen petani yang tak maksimal pada 1999. Sebagai Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, ia harus memberikan alternatif baru cara tanam yang menguntungkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah mengikuti beragam pengenalan yang diadakan Dinas Pertanian Kabupaten Tasikmalaya, Uu yakin system of rice intensification (SRI) organik bisa memberi keuntungan bagi petani. Sejak tahun 2003 ia menetapkan padi organik sebagai program unggulan KTNA Kabupaten Tasikmalaya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun, tak mudah mengenalkan metode ini kepada petani. Muncul pro dan kontra terkait penerapan cara tanam ini. Atas dorongan beberapa kawan, Uu terus maju dan meminta dukungan Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya dan Provinsi Jabar. Bupati Tasikmalaya dan Gubernur Jabar memintanya terus mengembangkan metode itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pesertanya tidak hanya dari Pulau Jawa, tetapi juga dari berbagai daerah di Sumatera, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan, hingga Sulawesi. Bahkan, Norman Uphoff, pakar padi organik dari Cornell University Amerika Serikat, pun berkunjung ke Tasikmalaya dan mengacungkan jempol atas hasil yang diraih petani di kabupaten ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Mulai tahun 2004 hingga kini, bersama teman-teman petani organik, saya mempromosikan dan memberikan pelatihan bagi masyarakat. Ada pula sekolah singkat yang dikelola petani organik Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Simpatik untuk menularkan cara bertanam padi organik,” katanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Petani mandiri&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Khusus di Kabupaten Tasikmalaya, menurut Uu, lahan padi organik terus mengalami peningkatan. Kini ada delapan Gapoktan yang aktif melakukan penanaman padi organik. Rata-rata Gapoktan punya empat kelompok dengan anggota sekitar 25 orang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari 49.500 hektar lahan sawah di Tasikmalaya, baru 320 hektar yang merupakan sawah organik bersertifikat organik internasional dan perdagangan berkeadilan dari The Institute for Marketology yang berbasis di Swiss. Seluas 60 hektar lainnya baru mendapatkan sertifikasi Standar Nasional Indonesia. Rata-rata panen mereka 10 ton per hektar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Lulus sertifikasi itu tak mudah karena kami minimal harus tanam serempak dalam satu lahan luas selama tiga tahun. Selain itu, data sejak tiga tahun lalu harus dibuat dan diberikan kepada pengawas. Rumit pada awalnya, tetapi karena sudah terbiasa, kami bisa menikmatinya,” kata Uu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Padi organik telah dikenal di dalam dan luar negeri. Di dalam negeri, keberhasilan petani Tasikmalaya mengembangkan padi organik membuat Kementerian Pertanian menetapkan daerah ini sebagai sentra padi organik bersama Kabupaten Garut dan Kabupaten Ciamis, Jabar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pesanan padi organik dari luar negeri pun tidak pernah sepi. Permintaan 90 ton per pengiriman terpaksa ditolak karena petani baru bisa memenuhi pasar luar negeri secara teratur 18 ton per pengiriman. Permintaan datang dari Amerika Serikat, Jepang, dan Arab Saudi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Uu tetap bersemangat mengembangkan padi organik. Ini tak semata-mata demi memenuhi permintaan pasar, tetapi ada yang lebih penting, yakni menjaga kesuburan tanah untuk warisan generasi selanjutnya. Lewat padi organik pula, banyak lapangan pekerjaan baru tercipta.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Buat saya, yang paling penting dari semua itu adalah menjadikan petani mandiri, petani yang bisa menjadi tuan di atas lahannya sendiri,” kata Uu. &lt;em&gt;(Kompas, 15 Juni 2011)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5601930913131294630-2320368631515682912?l=pseks-organik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/2320368631515682912'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/2320368631515682912'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-organik.blogspot.com/2011/06/nikmatnya-menjadi-petani-organik.html' title='Nikmatnya Menjadi Petani Organik'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5601930913131294630.post-1534425740080121628</id><published>2011-05-06T09:58:00.000-07:00</published><updated>2011-05-06T09:58:05.079-07:00</updated><title type='text'>Mikroorganisme Lokal Mandirikan Petani</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Sebuah teknologi dari masa lalu yang terlupakan kini digali kembali. Penyubur tanaman memanfaatkan mikrobioorganisme lokal menjadi harapan menuju pertanian ramah lingkungan dan mandiri, bebas dari pupuk dan obat-obatan kimiawi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Delapan bulan terakhir, 42 petani Desa Embawang, Kecamatan Tanjung Agung, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, tak lagi menggunakan pupuk atau obat-obatan kimia. Mereka hanya menggunakan mikroorganisme lokal (MOL) dan kompos untuk menjaga kesuburan sawah mereka.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Hasilnya, panen beras awal tahun ini melimpah. Tiap hektar sawah rata-rata menghasilkan 6-10 ton beras. Panen itu jauh lebih besar dibandingkan hasil sawah yang diberi pupuk dan obat kimia yang 4,1-5,2 ton per hektar. Beras organik yang dihasilkan juga dihargai lebih.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;"Beras kami dihargai Rp 10.000-Rp 15.000 per kilogram karena kualitasnya lebih bagus, lebih wangi, dan lebih tahan lama. Adapun beras biasa Rp 7.000 per kg. Baru sekali ini kami dapat panen sebaik ini," kata Maman Suherman (50), petani Desa Embawang yang juga Kepala Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan, Kehutanan (BP3K) Pandan Enim, Muara Enim, akhir Maret lalu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Maman menuturkan, para petani Desa Embawang mulai mempelajari MOL dan kompos yang diterapkan dalam metode pertanian &lt;em&gt;system of rice intensification&lt;/em&gt; (SRI) Agustus 2010 melalui pelatihan yang diselenggarakan perusahaan minyak dan gas Medco. Praktik dimulai pada musim tanam terakhir 2010.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Sejak itu, mereka tak lagi dipusingkan kelangkaan atau tingginya harga pupuk atau obat- obatan kimia. Yang mereka gunakan kini adalah larutan hasil fermentasi berbagai bahan organik yang sarat dengan mikroorganisme lokal. Bahan organik yang mereka gunakan beragam, mulai dari buah-buahan busuk, sampah organik rumah tangga, bonggol pisang, tunas bambu (rebung), sampai urine ternak yang difermentasi dalam air cucian beras dan air kelapa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Maman menuturkan, petani harus bekerja lebih keras untuk membuat dan mengangkut sekitar 7 ton pupuk kompos untuk tiap hektar sawah dalam satu masa tanam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Tiga komponen utama membuat pupuk MOL adalah karbohidrat, gula, dan sumber mikroorganisme. Karbohidrat yang lazim adalah air cucian beras. Glukosa diperoleh dari air kelapa atau larutan gula.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Karbohidrat dan glukosa diperlukan sebagai media mikroorganisme. Adapun mikroorganisme alias makhluk tak kasatmata itu diperoleh dari buah- buahan, sayuran, tunas bambu (rebung), bonggol pisang, keong emas, atau urine ternak.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Ipli, salah satu petani Desa Embawang, menjelaskan, bahan-bahan itu dicampur menjadi satu dan ditutup rapat dengan kertas selama tujuh hari. Proses ini merupakan proses fermentasi guna membiakkan mikroorganisme.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Setelah tujuh hari, dihasilkan larutan keruh dan beraroma menyengat yang sudah bisa digunakan. Untuk mengawetkan dan menghilangkan aroma menyengat, petani Embawang melakukan proses anaerob, yaitu wadah MOL yang tertutup dihubungkan dengan selang ke wadah tertutup lain berisi air selama sepekan. Hasilnya adalah larutan MOL yang lebih bening dan aroma lebih baik. MOL disemprotkan ke tanaman ataupun tanah di sekitar tanaman.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;strong&gt;Pabrik nutrisi&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Peneliti pertanian organik yang juga pengajar Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung, Mubiar Purwasasmita, mengatakan, larutan MOL adalah pabrik nutrisi. "Jika ditakar, nutrisi dalam MOL tak seberapa. Namun, mikroorganisme dalam MOL akan menghasilkan nutrisi bagi tanaman terus-menerus," katanya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Menurut Mubiar, dalam larutan MOL umumnya ada tiga jenis bakteri dan jamur. Larutan MOL sampah dapur, misalnya, mengandung Bacillus sp, Saccharomyces sp, Azospirillum sp, dan Azotobacter sp. Selain itu, bisa mengandung Pseudomonas sp, Aspergillus sp, dan Lactobacillus sp.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Kombinasi mikroorganisme bisa berbeda tergantung bahan serta lokasi pembuatan. Jenis mikroorganismenya merupakan mikroorganisme lokal.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Setiap jenis larutan MOL mempunyai fungsi khusus. MOL buah-buahan untuk membuat bulir padi lebih berisi, MOL rebung untuk merangsang pertumbuhan tanaman.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Pengetahuan ini, kata Mubiar, diperoleh dari pengamatan petani, terutama petani di Jawa Barat, sebagai pengguna pertama MOL.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;strong&gt;Teknologi lama&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Meski sejumlah petani baru mengenalnya, kata Mubiar, teknologi MOL telah dikenal dan dipraktikkan petani Pulau Jawa pada masa lalu. Mubiar sempat menyaksikan orangtua dan petani di Garut mempunyai kolam di sekitar sawah ataupun ladang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Di kolam, mereka membuang segala sampah organik dan urine ternak. Lama kelamaan kolam mirip kubangan lumpur. Zat itu lantas disiramkan ke tanaman.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Sayangnya, teknologi ini hilang perlahan-lahan, tergantikan penggunaan pupuk kimia yang semakin masif.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Menurut Mubiar, pada dasarnya larutan MOL dan kompos menyeimbangkan ekosistem alami tanah. Secara sederhana, kompos adalah pembentuk rongga-rongga di tanah yang berfungsi sebagai tempat hidup mikroorganisme, mengalirkan air, dan nutrisi. Adapun MOL adalah kumpulan mikroorganisme yang bertugas sebagai ”pekerja” pembuat nutrisi bagi tanaman.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Uniknya, Mubiar melanjutkan, nutrisi yang dihasilkan MOL juga dikendalikan tanaman. Ini berlangsung melalui mekanisme komunikasi lintas spesies yang cukup rumit dan melibatkan berbagai reaksi biokimia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Secara sederhana, komunikasi ini berawal dari informasi yang tersimpan dalam getah ataupun cairan tanaman lain. Informasi ini berisi nutrisi-nutrisi yang dibutuhkan tanaman. Ketika getah ataupun cairan jatuh ke tanah, informasi ditangkap mikroorganisme yang kemudian merespons dengan menghasilkan nutrisi yang dibutuhkan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;"Dulu orang biasa melukai batang pohon mangga yang tidak pernah berbuah untuk mendorongnya berbuah. Cara ini cukup manjur meski orang-orang tidak tahu mekanismenya. Tetapi sebenarnya itulah yang terjadi, saat getah jatuh ke tanah, komunikasi terjadi," kata Mubiar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Sistem yang saling mendukung ini tak tercipta pada penggunaan pupuk kimia. Mikroorganisme lenyap karena rongga tanah tak terbentuk. Tanah menjadi padat dan keras, kesetimbangan ekosistem sawah dan ladang pun rusak. Karena itu, tanaman yang dipupuk secara kimiawi akan sangat tergantung dari asupan pupuk karena di tanah tak lagi tersedia nutrisi. Alam pun menjadi kurang bersahabat saat kesetimbangannya tak dijaga. &lt;em&gt;(Kompas, 6 Mei 2011)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5601930913131294630-1534425740080121628?l=pseks-organik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/1534425740080121628'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/1534425740080121628'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-organik.blogspot.com/2011/05/mikroorganisme-lokal-mandirikan-petani.html' title='Mikroorganisme Lokal Mandirikan Petani'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5601930913131294630.post-1552624970770710315</id><published>2011-03-18T12:09:00.000-07:00</published><updated>2011-08-14T12:13:29.637-07:00</updated><title type='text'>Rezeki Besar Petani dari Padi Organik</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Panen raya padi di Desa Embawang, Kecamatan Tanjung Agung, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, musim panen ini benar-benar diliputi kegembiraan. Tak hanya hasilnya yang jauh lebih tinggi dari panen-panen sebelumnya, beras yang diperoleh pun dihargai jauh lebih tinggi dari biasanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cucuran peluh para petani selama mempraktikkan pertanian padi organik dengan sistem intensifikasi padi organik selama delapan bulan ini pun menuai hasil yang memuaskan. Beberapa petani yang tergabung dalam kelompok tani system of rice intensification (SRI) Desa Embawang itu ibarat mendapat berkah tak terduga pada panen kali ini. Arsan, Komri, dan Feri, misalnya, memperoleh Rp 30 juta di tempat yang akan dibagi bertiga.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebanyak dua ton beras organik panenan mereka langsung dib orong pejabat dari Kementerian Pertanian yang hadir dalam acara panen raya perdana padi organik SRI Desa Embawang, Sabtu (12/3/2011). &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tak kurang dari Menteri Pertanian Suswono, Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin, Bupati Muara Enim Muzakir Sai Sohar, dan sejumlah pejabat perusahaan hulu minyak dan gas bumi Medco hadir dalam acara panen raya tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setiap kilogram beras organik ketiga petani itu dihargai Rp 10.000-Rp 15.000 atau jauh lebih tinggi dari beras yang dihasilkan dari metode bertani konvensional yang harganya hanya berkisar Rp 6.000-Rp 7.000. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Petani lainnya, Erwan, sudah menerima pesanan sebanyak dua ton beras organik dari Bupati Muara Enim Muzakir Sai Sohar. Nasi dari beras organik dari Desa Embawang patut dihargai lebih tinggi. Selain pulen, aroma beras tersebut sedap saat dicecap.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Panen kali ini merupakan panen perdana padi organik dengan sistem SRI di Desa Embawang. Dari sekitar 100 petani di Desa Embawang, terdapat 42 petani yang menerapkan sistem padi organik SRI. Sistem ini baru pertamak ali diterapkan di desa yang sebagian besar penduduknya bertani. Luas lahan mereka mencapai 38,5 hektar dari sekitar 138,5 hektar lahan sawah di Desa Embawang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sistem bertani padi yang ramah lingkungan dan tanpa bahan kimia itu membuahkan hasil. Setiap peta ni padi organik SRI memperoleh hasil sebanyak 6-12 ton setiap hektarnya. Jumlah ini jauh lebih tinggi dari hasil bertani padi dengan cara konvensional yang banyak bergantung pada pupuk dan obat-obatan kimia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kalau bertani konvesional, hasilnya rata-rata hanya 4,8 ton per hektar. Panen kali ini memang benar-benar berhasil, kata Maman Suherman (50) salah satu petani Desa Embawang yang juga Ketua Badan Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Pandan Enim.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan sistem padi organik SRI ini, para petani tidak menggunakan pupuk maupun pemberantas hama kimia. Mereka mengandalkan kompos, sejenis nutrisi tanaman organik yang disebut MOL (mikro-organisme lokal), dan kerja keras. Untuk setiap hektar sawah, dibutuhkan tujuh ton pupuk kompos yang didapat dengan mengolah kotoran hewan dan sampah organik.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk itu, para petani memang harus bekerja lebih keras. Dengan pupuk kimia, sistem pemupukan cukup ringkas. Namun dengan pupuk kompos, para petani harus mau bersusah payah mengumpulkan kotoran hewan, mencac ah sampah organik, dan membawanya tujuh ton pupuk kompos ke sawah. Kesulitan utama muncul karena mereka kesulitan memperoleh kotoran hewan sehingga harus membeli dari desa tetangga. Di Desa Embawang sendiri, tak banyak penduduk memiliki ternak.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selain itu, para petani juga harus telaten membuat MOL yang dihasilkan dari fermentasi alami bahan-bahan organik seperti bonggol pisang, rebung, sisa nasi, maupun sampah daun-daunan. Selain itu, sawah sistem SRI pun harus lebih sering disiangi dari gulma. "Karena sawah SRI tidak digenangi air, gulma menjadi lebih sering tumbuh. Untuk ini mudah saja, kami melibatkan istri-istri kami untuk ikut turun ke sawah dan menyiangi setiap dua hari sekali," ujar Arsan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Mengembalikan ekosistem alami&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sistem SRI adalah teknik budida ya padi yang mampu meningkatkan produktifitas padi dengan cara mengembalikan sifat dan ekosistem alami tanaman, tanah, air dan unsur hara. Berbeda dengan penanaman konvensional, padi ditanam dengan jarak lebih renggang satu sama lainnya. Sawah pun tak dig enangi air seperti biasanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saat penanaman bibit, satu lubang cukup diisi dengan satu bibit padi. Hasilnya, padi dapat menghasilkan lebih banyak anakan, batang padi tumbuh lebih besar, hemat air hingga 60 persen, hemat bibit hingga lima kilogram setiap hek tarnya, dan hasil panen lebih banyak. Sistem padi organik SRI ini juga lebih tahan hama karena adanya keseimbangan jumlah hewan pengganggu dan pemangsanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Wereng dan walang sangit ada, tapi jumlahnya tidak banyak sehingga tidak jadi hama karena di sawah kami pun banyak katak, capung, dan laba-laba. Mereka ini berperan sebagai predator hama. Kalau di sawah konvensional, katak, capung, dan laba-laba ikut mati kena semprot pestisida," kata Arsan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Para petani di Desa Embawang mulai mengenal sistem SRI sejak Agustus tahun 2010. Saat itu, sebanyak 80 petani dan penyuluh pertanian Pandan Enim dilatih untuk mengembangkan sistem pertanian padi organik SRI ini yang difasilitasi oleh dana tanggungjawab sosial (CSR) perusahaan minyak dan gas PT Medco Energi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Para pelatih merupakan praktisi padi organik SRI yang telah berhasil mempraktikkanya di Ciamis, Jawa Barat. Pendamping petani Embawang yang juga Pakar pertanian padi organik SRI dari Jawa Barat, Alik Sutaryat menuturkan, metode SRI ini pertama kali ditemukan di Madagaskar sekitar tahun 1980-an oleh rohaniwan asal Prancis, Henri de Laulanie, SJ. Sistem ini telah berhasil diterapkan di berbagai daerah. Di Garut dan Aceh, sistem padi organik SRI ini mampu menghasilkan 11 ton setiap hektarnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Melihat keberhasilan panen ini, Pemerintah Kabupaten Muara Enim Muzakir Sai Sohar berniat mengembangkannya. Musim tanam kedua tahun ini, sistem bertani padi organik SRI akan ditularkan ke enam desa yaitu Tanjung Agung, Muara Emil, Pandan Enim, Lesung Batu, Lubuk Nipis dan Tanjung Bulan. Luasan sawah organik SRI ditargetkan 20 hektar di setiap desa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menteri Pertanian Suswono pun menyatakan dukungannya untuk pengembangan pertanian padi organik SRI ini. Sistem bertani ini dinilai penting untuk dikembangkan ke berbagai daerah di Indonesia guna mencegah krisis pangan yang telah menghadang di depan mata.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tidak saja untuk kegembiraan mereka sendiri, kerja keras pada petani di Desa Embawang telah membuka mata banyak pihak akan tingginya potensi pertanian yang sehat dan ramah lingkungan. &lt;em&gt;(Kompas, 18 Maret 2011).&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5601930913131294630-1552624970770710315?l=pseks-organik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/1552624970770710315'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/1552624970770710315'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-organik.blogspot.com/2011/03/rezeki-besar-petani-dari-padi-organik.html' title='Rezeki Besar Petani dari Padi Organik'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5601930913131294630.post-3137973420146733203</id><published>2011-01-29T11:49:00.000-08:00</published><updated>2011-08-14T11:52:36.913-07:00</updated><title type='text'>Saksi Kemerdekaan Petani Organik</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rumah sederhana TO Suprapto tak pernah sepi dari tamu. Petani dari Sabang sampai Merauke, bahkan dari luar negeri, datang berguru. Ibarat dunia persilatan, dialah salah seorang suhu yang harus dicari untuk berguru. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagi Suprapto, bertani organik juga sebuah filosofi. Bertani organik adalah soal kebutuhan dan kejujuran. Dari tembang-tembang Jawa kuno, ia menimba ilmu pertanian. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lima paweling atau wejangan tentang pertanian pun disarikannya dari tembang kuno sebagai dasar lahirnya konsep pertanian Manajemen Akar Sehat (MAS). Tahun 1996 konsep MAS itu dibagikan kepada petani dari 16 negara yang berlatih di wahana pembelajaran organik Joglo Tani yang ia dirikan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Metode MAS lalu dialihbahasakan ke dalam bahasa Inggris menjadi System of Rice Intensification (SRI). Metode SRI sukses dikembangkan di Madagaskar. Anehnya, Pemerintah Indonesia mengadopsi teknologi itu dari Madagaskar, bukan dari sumbernya di Sleman. ”Teknologi temuan petani masih dianggap remeh karena bukan temuan institusi,” ujar pria yang akrab dipanggil Pakde TO itu. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Metode SRI terbagi tiga prinsip pertanaman, yaitu tanam satu, tanam muda, dan tanam dangkal. Padi ditanam satu bibit satu lubang, bibit harus sudah berdaun empat, dan ditanam dangkal. Metode SRI terbukti meningkatkan hasil dan ramah lingkungan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Ajaran leluhur &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Wejangan lain tentang pertanian yang dianjurkan adalah pemberian pupuk sebagai makanan dan air sebagai penghidupan. Keduanya harus seimbang. Keluarnya bunga jangan sampai bersamaan dengan banyaknya angin sehingga harus ada perhitungan jadwal tanam. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Metode ajaran leluhur dipakai, tetapi kita harus terus membaca situasi kekinian dengan memasukkan teknologi di tengah perubahan iklim,” katanya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sejak tahun 1990-an, ia menularkan konsep dasar pertanian itu. Diawali dari petani di Sleman, Yogyakarta, ilmu pertanian organik tersebar di seantero Nusantara. Pelatihan pertanian organik di Joglo Tani juga diminati anak-anak dari taman kanak-kanak hingga mahasiswa. Dalam sebulan, lebih dari 100 orang belajar dari Suprapto. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pemerintah Provinsi DI Yogyakarta pun secara rutin mengirim calon transmigran dari Yogyakarta untuk belajar ilmu pertanian organik. Sepanjang tahun 2010, terdapat 10 angkatan atau 250 transmigran belajar di Joglo Tani. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tahun ini, pemerintah menjadwalkan pelatihan bagi 13 angkatan transmigran yang masing-masing angkatan terdiri dari 25 orang. Ditjen Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional pun rutin memberi beasiswa pelatihan di Joglo Tani. Para peserta harus mengetahui komposisi dan praktik pembuatan pupuk organik. Muaranya adalah kemerdekaan petani dari ketergantungan pada pabrik pupuk dan benih! &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Belum merdeka &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut Suprapto, petani di Indonesia belum merdeka. Mereka hidup di bawah tekanan ekonomi, alam, sosial, budaya, globalisme, dan kebijakan. Pemerintah belum berpihak kepada petani. Beragam tekanan itu kian mengimpit petani karena mereka cenderung berjuang sendiri dengan kepemilikan lahan rata-rata di Jawa hanya 0,1-0,2 hektar per petani. Kelompok tani biasanya hanya sebatas papan nama sehingga mudah dimainkan tengkulak. ”Dari pemenuhan kebutuhan awal produksi, mayoritas petani sudah dikangkangi kapitalis sehingga tidak mandiri,” katanya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mengawali pekerjaan sebagai guru dan sempat menjadi wasit sepak bola nasional, Suprapto mulai memperdalam ilmu pertanian sejak mengikuti Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) tahun 1989-1999. Meski tak dibayar, ia bersemangat menjadi pemandu kelompok-kelompok petani di Kabupaten Sleman. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika pemerintah tak lagi melanjutkan proyek SLPHT, Suprapto dan rekan-rekannya melahirkan wadah baru Ikatan Petani Pengendalian Hama Terpadu Indonesia (IPPHTI). Sejak tahun 1999 hingga kini, ia menjadi koordinator umum IPPHTI nasional dengan keanggotaan sekitar 10 juta petani di seluruh Indonesia. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagi dia, Joglo Tani menjadi monumen kebangkitan petani. Petani yang pernah berjaya lalu terpuruk bisa bangkit lagi menjadi mandiri. Namun, kemandirian harus diawali perubahan pola pikir dari anorganik ke organik. Agar tak mudah dipermainkan rantai panjang produsen ke konsumen, petani perlu kembali membangun monopoli kelompok dengan menciptakan pupuk, pestisida, dan benih sendiri. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Secara fisik bangunan, Joglo Tani baru diresmikan Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X tiga tahun lalu. Namun, proses pelatihan pertanian organik sudah diawali tahun 1990. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tenaga pendidik berjumlah 16 orang, ditambah pengajar dari Institut Pertanian Bogor, Universitas Gadjah Mada, atau Institut Pertanian Yogyakarta. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Memandirikan dusun &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Joglo Tani di Dusun Mandungan I, Margoluwih, Seyegan, Sleman, itu menempati lahan seluas 8.000 meter persegi. Selain membangun pendopo untuk berkumpul, Suprapto menanam padi, beternak, dan membangun kolam ikan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ia mendapat penghasilan harian dari menjual telur itik serta mengolah dan menetaskannya. Penghasilan juga dia dapat dari panen ikan, padi, sayur, serta menjual ternak. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan menyewa tanah kas desa seluas 2,25 hektar yang dimanfaatkan sebagai kolam ikan dan lahan pertanian, Joglo Tani menyumbang pendapatan asli bagi dusun. Dari lahan seperempat hektar dibangun 17 kolam ikan, 5 di antaranya diberikan cuma-cuma kepada semua ketua RT sebagai kompensasi. Satu kolam diberikan kepada kelompok karang taruna dan 11 kolam disewakan kepada masyarakat. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hidup Suprapto dilandasi prinsip, kang kongkon yo kang nglakoni (yang menyuruh juga harus yang melakukan). Ia bermimpi, konsep wadah pembelajaran Joglo Tani bisa dikembangkan hingga ke seluruh Nusantara. Ia mengajak petani untuk tidak kecewa terhadap keadaan, tetapi bergerak maju dengan kemandirian. Merdeka. &lt;em&gt;(Kompas, 29 Januari 2011)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5601930913131294630-3137973420146733203?l=pseks-organik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/3137973420146733203'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/3137973420146733203'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-organik.blogspot.com/2011/01/saksi-kemerdekaan-petani-organik.html' title='Saksi Kemerdekaan Petani Organik'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5601930913131294630.post-5792030993572462448</id><published>2010-12-13T11:57:00.000-08:00</published><updated>2011-08-14T12:00:18.449-07:00</updated><title type='text'>Kotoran Sapi Pun Menjadi Duit</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selama bertahun-tahun, Ngatijan (56) merasa tidak nyaman dengan tumpukan kotoran sapi yang tidak terpakai di kampungnya di Dusun Margaraya, Desa Lurung, Kecamatan Natar, Lampung Selatan, Provinsi Lampung.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Onggokan kotoran sapi di sana kian hari kian menumpuk mengingat hampir setiap warga di kampung tersebut memiliki sapi untuk membajak sawah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada tahun 2004, lelaki kelahiran Daerah Istimewa Yogyakarta ini pun mencoba memanfaatkan kotoran sapi yang terserak di kampungnya untuk membuat pupuk organik.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Awalnya, usaha Ngatijan jatuh bangun. Maklum, tidak mudah mendapatkan pasar pupuk organik di tengah masih populernya pupuk kimia dan kuatnya permainan mafia pupuk.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mula-mula ia hanya bisa memproduksi puluhan ton per bulan. Namun, dengan keuletan dan kerja keras, saat ini Ngatijan bisa memproduksi pupuk organik hingga 500 ton per bulan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tenaga kerjanya yang awalnya hanya 5 orang kini berkembang menjadi 20 orang. Dengan harga pupuk organik sebesar Rp 500 per kilogram, omzet Ngatijan bisa mencapai Rp 250 juta per bulan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kejelian dan kerja kerasnya memproduksi pupuk organik tidak hanya menguntungkan dirinya sendiri. Sekitar 500 petani yang tinggal di kampungnya dan kampung sekitarnya kini juga bisa menangguk tambahan penghasilan dari kotoran sapi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ngatijan tidak mengambil kotoran sapi itu cuma-cuma, tetapi menghargainya dengan uang. Kotoran sapi yang sebelumnya dianggap masyarakat kurang bermanfaat ternyata bisa menjadi duit di tangan Ngatijan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Meskipun tidak besar, tambahan penghasilan tersebut cukup untuk menambah modal usaha tani dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat kampung.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Usaha pupuk organik Ngatijan melambung ketika pemerintah mengeluarkan program Bantuan Pupuk Pemerintah (BPP) untuk petani miskin tahun 2009. Pabrik dan distributor pupuk besar yang diminta menyalurkan BPP, seperti PT Pertani dan PT Sang Hyang Seri, pun bekerja sama dengan produsen pupuk-pupuk organik skala menengah dan kecil.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Suami dari Sudarti ini pun menangkap peluang tersebut dengan ikut serta menjadi pemasok pupuk organik dari kotoran sapi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Proses produksi pupuk organik dimulai dengan mengumpulkan bahan baku berupa kotoran sapi dari para penduduk. Untuk meningkatkan motivasi dan semangat petani mengumpulkan dan mengeringkan kotoran sapi, Ngatijan biasanya membayar di muka atau mengijon kotoran sapi tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Harga kotoran sapi yang telah dikeringkan selama seminggu sekitar Rp 40 per kilogram. Jadi, dengan dua sapi, satu keluarga petani biasanya bisa memperoleh upah sekitar Rp 50.000 per bulan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selanjutnya, kotoran sapi yang telah kering diangkut dari rumah-rumah penduduk ke tempat produksi, yang terletak di areal persawahan, tak jauh dari rumah Ngatijan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Proses pupuk organik&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk membuat pupuk organik, kotoran sapi tersebut dicampur bahan lain dengan komposisi: kotoran sapi sebesar 80-83 persen, serbuk gergaji 5 persen, bahan pemacu mikroorganisme 0,25 persen, abu sekam 10 persen, dan kapur 2 persen.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Campuran ini kemudian dibiarkan selama satu minggu sembari dibolak-balik untuk menjaga kadar oksigen. Setelah selama satu minggu, pupuk organik biasanya telah matang dengan warna pupuk coklat kehitaman bertekstur remah dan tidak berbau.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Langkah berikutnya, pupuk diayak atau disaring untuk mendapatkan bentuk yang seragam serta memisahkan dari bahan yang tidak diharapkan, seperti batu, potongan kayu, atau tali rafia, sehingga pupuk organik yang dihasilkan benar-benar berkualitas.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pupuk organik selanjutnya dimasukkan ke dalam karung kemasan 50 kilogram yang telah disediakan dan diberi label oleh distributor sebagai pupuk bantuan dari pemerintah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pupuk organik yang telah dikemas tersebut kemudian diambil oleh distributor pupuk untuk disalurkan secara gratis kepada para petani sebagai pengganti pupuk kimia di kawasan Lampung dan sekitarnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pria yang hanya lulusan sekolah dasar ini mengatakan, keberhasilan usahanya tidak terlepas dari bantuan Swamitra, lembaga keuangan mikro yang dibentuk koperasi dengan bantuan dana dan manajemen dari Bukopin.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan pinjaman dana dari Swamitra, Ngatijan bisa membeli bahan baku kotoran sapi dari petani dalam jumlah besar dan membangun tempat produksi serta membeli mesin penggiling. Dengan bantuan Swamitra pula, Ngatijan tidak sampai terjerat tengkulak yang biasanya mematok bunga selangit.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ke depan, bapak enam anak ini berencana meningkatkan kapasitas produksinya dengan menambah mesin penggiling dan memperluas areal produksi serta menambah tenaga kerja. Harapannya, ia bisa memproduksi sekitar 1.000 hingga 2.000 ton setiap bulan agar bisa memenuhi permintaan yang selama ini tidak bisa dipenuhinya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maklum, Ngatijan juga ingin lebih banyak menjual pupuk organik ke pasar komersial. Menurut dia, pupuk organik yang dijual secara komersial harganya bisa lebih tinggi dibandingkan dengan dijual sebagai pupuk bantuan pemerintah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika produksinya meningkat, Ngatijan tentu juga bisa lebih banyak menggandeng petani di kampung-kampung sekitarnya untuk dibeli kotoran sapinya sehingga lebih banyak lagi kesejahteraan petani yang terangkat. &lt;em&gt;(Kompas, 13 Desember 2010)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5601930913131294630-5792030993572462448?l=pseks-organik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/5792030993572462448'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/5792030993572462448'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-organik.blogspot.com/2010/12/kotoran-sapi-pun-menjadi-duit.html' title='Kotoran Sapi Pun Menjadi Duit'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5601930913131294630.post-8189028828715278980</id><published>2010-07-28T03:33:00.001-07:00</published><updated>2010-08-30T06:28:27.556-07:00</updated><title type='text'>Melihat Peta Gerakan HPS, Vikep Kediri dan Blitar</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFANcNp-bKI/AAAAAAAABT0/JeF4gCGGfkg/s1600/sby.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 200px; DISPLAY: block; HEIGHT: 133px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5498909923372592290" border="0" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFANcNp-bKI/AAAAAAAABT0/JeF4gCGGfkg/s200/sby.jpg" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pertemuan aktivis pengembangan sosial ekonomi atau seksi sosial Paroki se-Vikep Kediri dan Blitar dilaksanakan pada 24-25 Juli 2010 lalu di Wisma Hening St. Catharina, Puhsarang. Pertemuan ini menjadi kesempatan untuk melihat kembali gerakan Hari Pangan Sedunia (HPS). Tahun lalu Vikep Cepu dan Madiun telah mengadakan kegiatan yang sama berupa pelatihan pertanian organik di Desa Randusongo, Ngawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara diawali dengan Rm. Agustinus Widodo, Pr yang memperkenalkan tim HPS Keuskupan Surabaya. Ada 9 orang petani atau penggerak pertanian yang berasal dari Vikep Kediri, Blitar, Madiun dan Cepu. Tim ini yang kelak akan menggerakkan kegiatan-kegiatan HPS di paroki se-Keuskupan Surabaya. HPS bukan pertanian organik semata, tetapi pemberdayaan pangan umat. Setelah itu menyusul perkenalan seluruh peserta sebanyak 36 orang dari 7 paroki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, Rm. Agustinus Made, Pr mengajak peserta menggali pemahaman tentang Hari Pangan Sedunia. Setiap peserta diminta menulis pada secarik kertas. Hasilnya antara lain: memperingati apa yang dimakan, hari pangan sedunia, menghormati alam yang diciptakan Tuhan untuk sarana hidup manusia sehingga perlu dipelihara, gerakan menuju kecukupan pangan, peduli pada alam, membuat sehat lingkungan demi kesehatan pribadi, upaya memecahkan masalah lingkungan pertanian dan ketahanan pangan. Ada lagi yang menyebutkan bahwa HPS itu misa pengumpulan dana, acara makan-makan serta kegiatan yang berkaitan dengan masalah pangan atau acara yang mengingatkan betapa penting lahan pertanian, mencari alternatif pangan manusia dan menghargai makanan, minuman dan air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Praksis Gerakan HPS&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sesi berikutnya, peserta menceritakan kegiatan apa saja yang telah dilakukan selaras dengan semangat HPS dan partisipasi apa yang akan dilakukan berkenaan dengan HPS ? Paroki St. Yosef, Mojokerto saat ulang tahun paroki ke-75, menanam 1.000 pohon rambutan dan mangga serta mejadi peninjau di setiap ada pameran / perayaan HPS di Cepu, Blitar, Madiun dan nanti di Puhsarang. Sementara Paroki St. Petrus dan Paulus, Wlingi memprihatinkan banyak tanah yang digunakan untuk perumahan, sehingga lahan produktif menjadi berkurang. Saat menghadiri perayaan HPS di Blitar, semua diikuti dengan baik namun belum dipraktekkan. Meskipun para peserta adalah petani, namun belum paham benar pemupukan tanaman sehingga belum bisa melaksanakan HPS dengan baik. Harapan yang dibutuhkan adalah hal-hal praktis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paroki St. Yosef, Kediri mulai merintis pertanian organik didukung oleh Rm. Hardo Iswanto, CM. Petani di Desa Sambirejo sekarang sudah menanam padi semi organik karena airnya masih bercampur dengan aliran pengairan lain. Selain itu umat telah membuat dan menggunakan pupuk kandang, tidak lagi menggunakan pupuk kimia. Paroki St. Mateus, Pare memang mengikuti perayaan HPS di Blitar dan ingin terlibat dalam pembibitan, seseorang yang mengaku buruh ternak dan tani,. Ia sendiri tertarik dengan pertanian Rm. Hardo yang sudah panen beras jenis Pandanwangi, yang menurutnya enak. Saat ini di Desa Kampung Baru sedang mencoba bertanam pada lahan tadah hujan dengan memanfaatkan kotoran sapi, air kencing hewan dan sisa air dapur untuk menyeprot tanaman padi di lahan kering. Hasilnya, sudah mulai kelihatan kini tanaman menjadi hijau dan menunjukkan tanda keberhasilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paroki St Maria, Blitar memulai dengan memanfaatkan pekarangan untuk tanaman blimbing oleh masing-masing warga di pekarangan rumah. Saat ini ada 1.800 pohon yang ditanam umat. Hasilnya bahkan ada yang diekspor ke Malaysia. Pohon blimbing milik Bp. Imam bahkan sudah mendapatkan sertifikat dari pemerintah. Berbagai olahan buah blimbing itu, antara lain berupa selai, sirup dan dodol. Salah seorang petani bernama Bp. Agus dulu bekerja sebagai sopir dan mengalami kecelakaan kini fokus menanam blimbing dan dapat membiayai keluarga. Inilah dua contoh pengusaha dan petani kecil di paroki St. Maria, Blitar yang berhasil. Selain itu ada juga pembuatan kripik singkong rasa gadung di salah satu stasi yang sudah diproduksi secara massal, pembuatan pewarna batik dengan bahan dari daun nangka, mahoni dan lainnya serta pembuatan kripik jagung. Ada pula seorang ketua stasi yang mempelopori pembuatan gula kelapa, dengan menderes sendiri dari pohon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara dari Paroki St. Yusuf, Blitar pernah ada usaha pertanian lestari bekerjasama dengan Universitas Widya Mandala, Surabaya, namun tidak berhasil. Ada pula usaha menggulirkan 18 ekor kambing, juga tidak berhasil. Demikian halnya dengan kursus pembuatan pupuk organik, pelatihan budidaya blimbing dan pupuk organik. Bahkan, sekolah-sekolah yang digerakkan tidak menindaklanjuti. Usaha saat ini setiap keluarga diharapkan dapat menghasilkan sayur secara mandiri dan mengolah limbah rumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Belajar Bersama&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kesempatan berikutnya, para peserta mendapatkan beberapa pembelajaran dari rekan paroki lain yang saat ini konsisten melakukan gerakan HPS. Bp. Sitris dari Paroki St. Willibrordus, Cepu memperkenalkan energi limbah hewan, berupa contoh pupuk cair dari limbah hewan untuk alternatif pupuk tanaman ramah lingkungan dan lestari. Limbah hewan juga bisa dipakai untuk biogas pengganti LPG, tetapi tingkat resikonya sangat kecil. Penjelasan dengan foto-foto proses pembuatan kompor biogas menarik peserta yang antusias mengajukan pertanyaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Bp. Anton Nur dari paroki St. Yoseph, Ngawi memperkenalkan pemanfaatan pekarangan / halaman dengan tanaman klengkeng pingpong. Ia menjelaskan bahwa pertanian organik menjadi alternatif pertanian ramah lingkungan. Apalagi mengingat biaya produksi dengan pupuk kimia per tahun cenderung meningkat. Petani selalu terpicu untuk meningkatkan produksi, sedangkan harga gabah justru turun di saat panen raya. Klengkeng pingpong yang digeluti selama 5 tahun menghasilkan 2 kwintal per musim. Tanaman ini tidak menggunakan pupuk kimia, sangat mudah, cocok untuk ditanam di lahan kering dan cuaca panas. Ia menyarankan, yang ideal satu lokasi, satu komoditi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bp. Jimat dari Paroki St. Yusup, Blitar memimpikan bagaimana petani dapat hidup &lt;em&gt;wareg, waras lan tentrem uripe&lt;/em&gt;. Melalui kelompok petani &lt;em&gt;Sekartanjung&lt;/em&gt; (yang artinya: semangat untuk berkarya), ada tujuh kelompok tani yang sebagian besar berusia lanjut. Pernah suatu kali para petani membutuhkan pupuk, tetapi pupuk hilang dari peredaran. Maka mereka membuat pupuk dengan bahan daun dan kotoran hewan. Menurutnya, tantangan ke depan jika mau membantu petani adalah membuat petani mandiri, membimbing petani dengan teknologi sederhana dari bahan baku ternak dan daun, pendampingan pada kelompok, bukan perorangan, memberi contoh lebih dahulu, sebelum mendampingi. Pendek kata, menurutnya, yang perlu diorganikkan adalah diri sendiri dulu baru tanah dan tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Bp. Untung bersama tim dari Paroki St. Yoseph, Mojokerto mensharingkan pengalaman selama 2 tahun membawa anak-anak &lt;em&gt;play group&lt;/em&gt; dan taman kanak-kanak St. Theresia, Krian pergi ke sawah dan kebun untuk memetik sendiri jagung dan kacang. Kemudian membawa pulang jagung dan kacang sebagai oleh-oleh. Ada sekitar 70 anak bersama guru memasuki sawah dan kebun. Tujuannya agar anak mengenali tanaman dari makanan yang pernah mereka makan seperti &lt;em&gt;popcorn&lt;/em&gt;, kacang dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Rencana HPS&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendengarkan berbagai masukan tentang pemahaman gerakan HPS, masing-masing paroki berkelompok untuk mencanangkan rencana mereka di masa mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paroki St. Yoseph, Kediri akan mematangkan pertanian organik seperti: padi, sayur dan pupuk serta ternak sapi. Rencana yang sedang dikerjakan adalah pusat pelatihan pertanian dan peternakan bagi petani sekitar dan umat stasi yang akan diresmikan oleh provinsial CM, melibatkan penyandang dana yang peduli dalam bidang pertanian dan peternakan. Selain itu mengadakan pameran hasil-hasil pertanian organik seperti padi, sayur, buah dan bunga pada misa Jumat Legi. Harapannya ada semacam buku pintar dan kotbah Romo yang menyinggung tentang HPS, 14 Oktober 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini, Paroki St. Yoseph, Mojokerto telah melakukan kegiatan penghijauan menanam 1.000 pohon mangga dan rambutan dalam rangka HUT Paroki ke-75. Hasilnya masih dalam masa pertumbuhan. Penanaman tersebut menyesuaikan kondisi lahan masing-masing seperti, Randegan (pertanian dengan kondisi tanah tandus), Pacet, Wunut dan Trawas (peternakan kambing, sapi, susu perah, dan pertanian), Krian (rempah-rempah seperti: kunir, jahe, laos, sere) dan kota (jamur, kripik singkong, jamu bubuk). Pada kegiatan HPS mereka akan memamerkan hasil panen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paroki St. Maria, Blitar berencana akan melakukan gerakan pemberdayaan lahan pekarangan rumah tangga dengan tanaman obat keluarga dan sayuran. Gerakan ini akan melibatkan kerjasama WKRI, KPG, seluruh lingkungan dan stasi. Pengolahan pangan alternatif akan fokus pada mendayagunakan jagung sebagai makanan olahan dengan produksi krupuk jagung, blimbing, gula kelapa, kripik gadung, batik dengan pewarna alam serta tanaman obat yang akan ditampilkan pada peringatan HPS, 14 Oktober 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa usulan yang muncul ialah: tindak lanjut pelatihan pembuatan biogas limbah hewan saat lokakarya menjelang misa Malam Jumat Legi, perlunya buku pintar tentang potensi pertanian organik yang ada, masalah-masalah pertanian, bahaya-bahaya makanan rekayasa genetik serta menggerakkan kaum ibu yang membutuhkan bantuan secara sosial ekonomi untuk mengikuti pelatihan pembuatan kripik dan batik dan mendorong agar di sekolah-sekolah yang ada menyediakan makanan tanpa bahan pengawet dan tanpa bungkus plastik. &lt;em&gt;(Untung Subagyo, tim gerakan HPS Keuskupan Surabaya).&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5601930913131294630-8189028828715278980?l=pseks-organik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/8189028828715278980'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/8189028828715278980'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-organik.blogspot.com/2010/07/melihat-peta-gerakan-hps-vikep-kediri.html' title='Melihat Peta Gerakan HPS, Vikep Kediri dan Blitar'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFANcNp-bKI/AAAAAAAABT0/JeF4gCGGfkg/s72-c/sby.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5601930913131294630.post-1511473328230523510</id><published>2010-07-24T10:06:00.000-07:00</published><updated>2010-07-30T10:34:41.133-07:00</updated><title type='text'>Catatan Pertemuan PSE Se-Regio Jawa</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFMJcP5XY1I/AAAAAAAABVQ/ZvicYeWffbY/s1600/Rm+Teguh,+Pr+(kiri)+dan+Rm.+P.+Wiryono+SJ+menyampaikan+materi+pertanian+organik.JPG"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 200px; DISPLAY: block; HEIGHT: 133px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5499749950857634642" border="0" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFMJcP5XY1I/AAAAAAAABVQ/ZvicYeWffbY/s200/Rm+Teguh,+Pr+(kiri)+dan+Rm.+P.+Wiryono+SJ+menyampaikan+materi+pertanian+organik.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFMJbpPv6yI/AAAAAAAABVI/bkULar-HvZk/s1600/DSC03832.JPG"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 200px; DISPLAY: block; HEIGHT: 133px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5499749940482534178" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFMJbpPv6yI/AAAAAAAABVI/bkULar-HvZk/s200/DSC03832.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;Muntilan adalah daerah subur berkat abu Gunung Merapi, tempat ini menjadi Pusat Misi Katolik. Tampaknya bukan hanya menjadi Pusat Misi Katolik, namun juga menjadi pusat pemerintahan Mataram Kuno. Di kota ini, tepatnya di rumah retret milik suster Fransiskan, tanggal 6-8 Juli diadakan pertemuan Hari Pangan Sedunia (HPS) seluruh Keuskupan Se-Regio Jawa. Masing-masing Keuskupan mengirimkan utusannya. Ada 68 peserta dari 7 Keuskupan. Keuskupan Surabaya mengirim 10 utusan di bawah koordinasi Ketua Komisi PSE, Rm. A.Luluk Widyawan. Pr beserta moderator Komisi PSE Kevikepan Blitar dan Kediri, ialah Rm Agustinus Made, Pr dan Rm. Agustinus Widodo, Pr. Bersama mereka ada penggiat pertanian dari keempat Vikep yaitu: Bp. Eman Rokak dan Bp. YF Sujimat (Vikep Blitar), Bp. Untung Subagya (Vikep Kediri), Bp. Titus Triwibowo dan Sdr. Antonius Nurdianto (Vikep Madiun) serta Sdr. Endi Priyanto dan Bp. PH. Sitris (Vikep Cepu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inti dari HPS adalah “&lt;em&gt;Gerakan bersama mendunia untuk mengembangkan kesadaran pemerintah dan rakyat, akan pangan yang cukup, sehat dan bermutu bagi semua orang. Kebersamaan HPS bertujuan untuk menggerakkan kesadaran bersama akan kebutuhan bersama yang mendasar dan mendesak akan pangan. Gereja Katolik melibatkan diri dalam gerakan HPS bukan terutama karena persoalan teknis, tetapi utamanya persoalan etis. Gereja ingin melibatkan diri, agar wawasan pangan dunia mengutamakan hidup manusia yang bermutu.&lt;/em&gt;” Demikian pesan KWI pada surat edaran Pangan Sebagai Anugerah Tuhan, yang diterbitkan pada Desember 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber utama dan pertama pangan adalah tanah dan air. Maka membangun dan memelihara sumber pangan, berarti mengembalikan kesuburan tanah dan memelihara sumber-sumber air. Jika Gereja berkomitmen untuk terjun dan berkarya nyata dalam HPS, kita (semua umat) harus terlibat secara pribadi atau bersama-sama menghindarkan segala bentuk pencemaran air dan tanah. Cara yang paling sederhana, setiap keluarga Katolik mulai memisahkan limbah organik (daun, sisa makanan dan lain-lain) dan anorganik (plastik, karet dan lain-lain), menimbun limbah organik sehingga menjadi kompos untuk mengembalikan kesuburan tanah dan mendaur ulang sampah anorganik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunakan setiap jengkal tanah dan halaman yang ada untuk menanam pohon yang dibutuhkan untuk kebutuhan rumah tangga seperti cabai, singkong, talas, bayam, kangkung, tanaman hias dan lainnya. Sampah anorganik misalnya bungkus minyak goreng isi ulang, kaleng bekas, berupa plastik pembungkus bisa dijadikan pot-pot tanaman, bila halaman kita sempit. Gunakan air cucian beras, ikan dan sayur untuk menyirami tanaman-tanaman dalam pot atau kebun di pekarangan. Bila memungkinkan peliharalah dua atau tiga ekor ayam, bisa juga beberapa ikan dalam kolam mini sehingga sisa makanan bisa diberikan kepada hewan piaraan. Kotoran binatang akan menjadi kompos yang bagus untuk kesuburan tanah. Siklus ini sederhana, tetapi jika hal ini menjadi gerakan seluruh Umat Katolik, maka gemanya akan sangat terasa dan manfaatnya akan dirasakan oleh bumi, air dan semua mahluk hidup yang ikut hidup di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapannya, gerakan ini menular, menjadi gerakan seluruh umat manusia yang hidup di bumi ini. Jika gerakan ini kemudian menjadi kebiasaan hidup (habitus), menjadi cara hidup (filosofi hidup) maka bumi ini akan kembali menjadi asri, bersahabat dengan semua mahluk hidup yang hidup di dalamnya. Semoga ! &lt;em&gt;(Untung Subagya, tim gerakan HPS Keuskupan Surabaya) &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5601930913131294630-1511473328230523510?l=pseks-organik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/1511473328230523510'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/1511473328230523510'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-organik.blogspot.com/2010/07/catatan-pertemuanpse-se-regio-jawa.html' title='Catatan Pertemuan PSE Se-Regio Jawa'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFMJcP5XY1I/AAAAAAAABVQ/ZvicYeWffbY/s72-c/Rm+Teguh,+Pr+(kiri)+dan+Rm.+P.+Wiryono+SJ+menyampaikan+materi+pertanian+organik.JPG' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5601930913131294630.post-2213613908199968070</id><published>2010-07-23T09:52:00.000-07:00</published><updated>2010-07-30T10:06:04.918-07:00</updated><title type='text'>Revitalisasi Gerakan HPS, Gereja Katolik Indonesia</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFMF4lmdxjI/AAAAAAAABVA/Uek2Fv-DMBs/s1600/05a+jajar+legowo+04a.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 200px; DISPLAY: block; HEIGHT: 138px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5499746039673767474" border="0" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFMF4lmdxjI/AAAAAAAABVA/Uek2Fv-DMBs/s200/05a+jajar+legowo+04a.jpg" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFMFs9TAc0I/AAAAAAAABUw/dyBYbUnMf30/s1600/06a.+jl+1.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 200px; DISPLAY: block; HEIGHT: 138px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5499745839876174658" border="0" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFMFs9TAc0I/AAAAAAAABUw/dyBYbUnMf30/s200/06a.+jl+1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kehadiran gerakan HPS dalam Gereja kita yang sudah berlangsung sejak 1982 hingga saat ini memperlihatkan adanya pertumbuhan pemahaman dan semakin berkembang dalam sikap dan perilaku umat dan ini menunjukkan kepedulian yang semakin luas. Gerakan HPS di dalam Gereja katolik sejak awal diprakarsai oleh Komisi PSE KWI sebagai Komisi yang gerak langkahnya sejalan dengan pengembangan HPS ini. Proses waktu sejak 1983 dimana sekretaris Komisi PSE KWI juga Direktur LPPS KWI maka kemudian LPPS KWI mengkoordinir pelaksanaan HPS tersebut bersama dengan Komisi Pendidikan, Komisi Komsos, Komisi PSE, WKRI dan Koptari. Sejak saat itulah LPPS KWI memproses bergulirnya Gerakan HPS bersama dengan mitra tersebut diatas sampai dengan tahun 2001. Berbagai upaya motivasi Gereja terhadap umat dan masyarakat sejak saat itu berproses mulai dari penyebaran leaflet sampai pengembangan solidaritas umat dan masyarakat baik yang berupa materiil maupun non materiil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esensi Gerakan HPS adalah membawa manusia sampai pada keselamatan sejati. Pangan adalah hidup dan hidup manusia telah tertebus oleh Yesus Kristus melalui solidaritasnya terhadap dunia. Yesus telah mengutus kita bersama untuk melanjutkan penyelamatannya bukan hanya melalui pengungkapan iman melainkan melalui perwujudan iman yang akan mampu menyelamatkan dunia dari kehancuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu Gerakan HPS kita adalah Gerakan Kehidupan, bukan gerakan teknis melainkan gerakan penyadaran terhadap arti pangan bagi kehidupan manusia. Berbagai persoalan kelaparan sampai ketidakadilan sebenarnya adalah persoalan ketiadaan kesadaran iman dan tanggungjawab perutusan kita bersama sebagai putra-putri Allah. Ekaristi telah membawa kita masuk dalam satu kesatuan dengan Allah Sang pemberi hidup. Ekaristi adalah wujud kesediaan Yesus untuk menjadi makanan abadi bagi kita semua. Maka kitapun diutus untuk memberikan diri bagi kesejahteraan banyak orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui peringatan HPS gerakan HPS diharapkan menyebarkan kebaikan Allah atas hidup dan kehidupan. Allah telah menganugerahkan semua sangat baik adanya, maka Gereja Katolik mengemban &lt;em&gt;messages&lt;/em&gt; yang membangun kesadaran iman yang akan membentuk perilaku manusia yang menghargai kehidupan. Tugas dan perutusan akan &lt;em&gt;messages&lt;/em&gt; HPS perlu dikomunikasikan agar ada disain baru karena perkembangan dan perubahan dunia selalu memerlukan jawaban yang kontekstual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Revitalisasi Gerakan HPS&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kembali kepada perutusan iman kristiani kita bahwa Allah telah menciptakan segala sesuatu baik adanya. Seperti halnya Kerajaan Surga di dunia ini setiap insan manusia berkewajiban membangun dan memelihara keutuhan ciptaan-Nya. Memang Kerajaan Surga seumpama harta yang terpendam di ladang (Mat 13:44-46). Perlu usaha yang tekun untuk menemukannya seperti perintah Yesus: “&lt;em&gt;Duc in altum&lt;/em&gt;” (bertolaklah ke yang lebih dalam). Itu tantangan besar bagi kita di zaman ini yang mau hidup serba mudah. Awalnya kita harus bersusah-susah, namun kita harus percaya pada Yesus, yang akhirnya akan mendapatkan hasil berkelimpahan. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Namun demikian, perkembangan dunia ini telah menciptakan dua sisi mata uang: si kaya dan si miskin. Maka terhadap yang miskin dan berkekurangan pangan, Yesus berkata: “Kamu harus memberi mereka makan” (Mat 14:13-21). Seperti kejadian ketika ada 5.000 orang pengikut Yesus yang lapar. Pengajaran yang hendak disampaikan dalam peristiwa itu adalah upaya membangun persaudaraan dan solidaritas, mengembangkan kemampuan diri dari apa yang mereka miliki yang dikumpulkan bersama dan untuk kepentingan bersama; yang selalu dikaitkan dengan peran serta Allah dalam hidup manusia. Ini yang menginspirasi kita dalam &lt;strong&gt;tema HPS KWI 2010-2012: Menyelamatkan Pangan Bagi Semua&lt;/strong&gt;. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kita sadar bahwa Gereja tidak memiliki kemampuan teknis untuk membangun kecukupan pangan bagi semua. Lewat Gerakan HPS inilah kita berupaya membangun persaudaraan dalam mengembangkan kemampuan kita, sehingga Gerakan HPS kita adalah gerakan kehidupan dengan pangan sebagai investasi yang menghidupi. Dengan demikian segala upaya manusia membangun kehidupan pangan haruslah bermuara pada terwujudnya kesejahteraan bersama (&lt;em&gt;bonum communae&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Harus diakui, sampai saat ini, banyak umat Katolik belum tahu Gerakan HPS. Sebagian besar dari umat yang tahu HPS menyamakan dengan gerakan pertanian organik dan seremonial HPS pada bulan Oktober sebagai sarana memperkenalkan keanekaragaman pangan. Secara khusus bagi sekolah-sekolah Katolik, HPS adalah saatnya membantu (dengan kolekte) teman mereka yang lapar. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Arah revitalisasi Gerakan HPS adalah untuk memaknai Gerakan HPS sebagai Gerakan Kehidupan. Bahwa pangan sebagai bahan pokok untuk manusia, harus mendapat perhatian serius dalam bidang: &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;a. Produsen: Meningkatkan kemampuan petani dalam produksi pangan dan ketrampilan mengolah pangan yang sehat, bermutu dan berkelanjutan, secara khusus mengarahkan pada pertanian organik.&lt;br /&gt;b. Konsumen: Meningkatkan kesadaran akan pangan yang sehat dan bermutu; mengembangkan keanekaragaman pangan lokal, meningkatkan pengetahuan tentang gizi dan teknologi pangan.&lt;br /&gt;c. Modal: Mengembangkan permodalan yang dapat diakses dari dan untuk petani, termasuk tanah, sarana produksi, modal kerja; dalam hal ini berkaitan dengan upaya mengembangkan Lembaga Keuangan Mikro (CU, Koperasi, BPR) di daerah.&lt;br /&gt;d. Pasar: Mengembangkan pasar yang berkeadilan dan berkelanjutan; mengembangkan relasi produsen dan konsumen (antara paroki pedesaan dan paroki kota).&lt;br /&gt;e. Jaringan: Mengembangkan kerjasama kolaboratif antar pemangku kepentingan pangan yang saling memberdayakan.&lt;br /&gt;f. Teknologi: Mengembangkan teknologi tepat guna yang ramah lingkungan, termasuk benih, peralatan pertanian, pembuatan pupuk, bio-energi, teknologi pengolahan pangan.&lt;br /&gt;g. Lumbung Pangan: Mengembangkan ketersediaan pangan yang sehat, bermutu, beranekaragam dan berkelanjutan dalam sistem lumbung pangan.&lt;br /&gt;h. Pemberdayaan alam: Mengelola sumberdaya alam yang tidak merusak dan menjamin berkelanjutan untuk kesejateraan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Komitmen dan Strategi&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam mengembangkan HPS sebagai Gerakan bersama, sangat dibutuhkan komitmen bersama serta strategi bersama baik dalam permasalahan penyadaran pada pemeliharaan kehidupan serta membangun solidaritas khususnya bagi mereka yang berkekurangan juga teknik produksi pangan yang murah, aman, sesuai budaya lokal dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena pentingnya penyadaran HPS maka berdasarkan Surat Keputusan No.11 Sidang Tahunan Para Waligereja Indonesia tertanggal 4-8 November 2002 jajaran Komisi PSE diberi tugas untuk melanjutkan promosi dalam bentuk motivasi dan animasi dan pelayanan Hari Pangan Sedunia (HPS) dengan kemitraan : Komisi Pendidikan KWI, Komisi Komunikasi Sosial KWI, Koptari dan WKRI. Kemitraan ini diwujudkan dalam satu nama, &lt;strong&gt;Panitia HPS-KWI&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tingkat keuskupan, Komisi PSE mengambil peran utama dalam menggerakkan HPS yang dapat bekerja sama dengan komisi dan lembaga gerejani setempat, komunitas religius, DPC Wanita Katolik RI, kelompok basis, perguruan tinggi bahkan kelompok profesional yang peduli pada sosial kemasyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diakui, Gereja sebagai persekutuan murid-murid Yesus Kristus tidak mempunyai kecerdasan teknis atau pun teknologi untuk mengatasi persoalan pangan. Gereja memiliki panggilan perutusan untuk menghadirkan wawasan kemanusiaan dalam persoalan pangan. Wawasan kemanusiaan ini terutama terkait dengan kehadiran kerjasama yang mampu menggerakan manusia untuk membangun kedaulatan pangan bagi diri sendiri dan sesama. Ajaran Sosial Gereja mengarus-utamakan wawasan bahwa Gereja adalah &lt;em&gt;an expert in humanity&lt;/em&gt; Persoalan pangan menjadi perhatian Gereja, karena manusia mempunyai hak atas pangan sebagai bagian utuh perjalanan hidup di atas bumi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Berikut adalah skema kegiatan yang terkait dengan Gerakan HPS:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PENYADARAN&lt;/strong&gt;: spiritualitas yang menggerakkan, perayaan iman, Surat Gembala HPS dsb&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PENDIDIKAN&lt;/strong&gt;: penghargaan pangan di sekolah dan di rumah, peduli pada lingkungan, pengetahuan pemanasan global, pendidikan gizi dsb.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SOLIDARITAS&lt;/strong&gt;: peduli pada sesama (yang lapar), kolekte HPS, uang saku sehari untuk peduli lingkungan, Rp. 1000 untuk temanku yang lapar, dsb.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PRODUKSI&lt;/strong&gt;: pemanfaatan pekarangan untuk bertanam sayur dan buah, aneka tabulampot, kebun herbal, budidaya padi SRI, pertanian organik dsb&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PENGOLAHAN&lt;/strong&gt;: pengetahuan olah pangan yang sehat, teknik pengolahan aneka pangan lokal, teknologi tepat guna, kerjasama dengan Lembaga Pendidikan, dsb&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;DISTRIBUSI&lt;/strong&gt;: membangun jalur pemasaran pangan sehat, peluang usaha kelompok dsb&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PERMODALAN&lt;/strong&gt;: mengembangkan LKM, CU yang peduli pada petani, dsb&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;TEKNOLOGI&lt;/strong&gt;: mengembangkan teknologi tepat guna, murah dan efektif.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;LINGKUNGAN HIDUP&lt;/strong&gt;: aksi penanaman pohon, peduli air untuk kehidupan, memelihara kawasan mangrove untuk sumberdaya ikan, dsb&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;JEJARING&lt;/strong&gt;: mengembangkan kerjasama dengan banyak pihak. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dari skema diatas terdapat banyak peluang untuk berpartisipasi dalam Gerakan HPS. Kita yakin bahwa banyak orang dengan berbagai pengalaman hidup khususnya yang berkaitan dengan pangan, akan peduli dengan gerakan HPS. Karena itu umat yang tergerak karena kasih perlu mengorganisasikan diri untuk memberikan pelayanan yang utuh (seperti yang ditandaskan dalam Ensiklik &lt;em&gt;Deus Caritas Est&lt;/em&gt;). Kerelaan kehadiran (partisipasi) dalam mewujudkan gerakan pangan didukung umat, dengan kapasitas pengalaman masing-masing, sebagai SDM yang memperkaya dan memperkuat dalam gerakan HPS yang bernafaskan Kristiani. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bagi umat yang berminat menambah informasi tentang HPS dapat mengunjungi website: &lt;a href="http://haripangan.net/"&gt;http://haripangan.net/&lt;/a&gt; atau bergabung dalam grup Facebook: Gerakan HPS. Selamat ber-HPS &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5601930913131294630-2213613908199968070?l=pseks-organik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/2213613908199968070'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/2213613908199968070'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-organik.blogspot.com/2010/07/revitalisasi-gerakan-hps-gereja-katolik.html' title='Revitalisasi Gerakan HPS, Gereja Katolik Indonesia'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFMF4lmdxjI/AAAAAAAABVA/Uek2Fv-DMBs/s72-c/05a+jajar+legowo+04a.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5601930913131294630.post-3304141695611739311</id><published>2010-07-09T14:32:00.000-07:00</published><updated>2010-07-30T14:58:22.760-07:00</updated><title type='text'>Meningkatkan Hasil Panen, Dengan Pupuk Organik</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Pemakaian pupuk organik dalam proses budi daya tanaman, ternak, atau ikan, sangatlah dianjurkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdorong niat yang besar untuk menciptakan produk pertanian yang aman dikonsumsi, akhirnya penulis berhasil menciptakan suatu formula pupuk organik cair yang memiliki kandungan unsur hara yang tergolong lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pupuk organik tersebut mengandung unsur hara makro, unsur hara mikro, asam amino, berbagai hormon pertumbuhan, dan juga mikroorganisme yang menguntungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa keunggulan dari pupuk organik cair hasil ramuan penulis sebagai berikut: dapat menghemat biaya produksi; memperbaiki kualitas buah, daun, dan umbi; memperpanjang umur produksi tanaman; mempercepat masa panen; meningkatkan daya tahan tanaman, ternak, dan ikan terhadap hama dan penyakit; mampu memberantas penyakit CVPD pada tanaman jeruk; efektif memberantas hama ulat yang suka memakan daun padi yang masih primordial; meningkatkan penambahan bobot harian badan ternak; mengurangi persentase kematian ternak dan ikan. &lt;em&gt;(Inilah.com, 8 Juli 2010)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5601930913131294630-3304141695611739311?l=pseks-organik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/3304141695611739311'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/3304141695611739311'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-organik.blogspot.com/2010/07/meningkatkan-hasil-panen-dengan-pupuk.html' title='Meningkatkan Hasil Panen, Dengan Pupuk Organik'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5601930913131294630.post-4123546566217356055</id><published>2010-07-06T13:27:00.000-07:00</published><updated>2010-07-30T13:29:00.213-07:00</updated><title type='text'>Semi Organik, Transisi Petani Bawang Merah Menuju Pola Tanam Organik Murni</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Petani di tiga kecamatan, Pacet, Trawas, dan Gondang, kini menanam bawang merah menggunakan pola tanam semi organik. Dengan menerapkan pola itu, banyak keuntungan diperoleh petani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran petani di Kab. Mojokerto bercocok tanam dengan mengurangi penggunaan bahan kimia (pola tanam semi organik) semakin meningkat. Pola itu menjadi pola transisi bagi petani untuk bercocok tanam pola organik (tanpa bahan kimia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petani sadar menanam bawang merah berpola semi organik membuat kualitas tanaman mereka menjadi tahan lama, produksinya meningkat, mengurangi biaya produksi, tidak terlalu mengganggu kesehatan yang mengkonsumsi serta harga jualnya meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kahumas Pemkab Mojokerto Hj Alfiyah Ernawati Ssos MM mengatakan, sekarang ini Dinas Pertanian, Peternakan, dan Perikanan (DP3) Kab. Mojokerto gencar menyosialisasikan menanam hortikultura dengan pola organik murni, namun hal itu belum bisa berjalan 100%. Petani masih suka bercocok tanam menggunakan pola non organik. Untuk mengubah pemikiran itu, butuh waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan benih, pupuk, obat, dan air yang dipakai bercocok tanam harus bebas bahan kimia. “Persyaratan itu yang belum bisa dilakukan kebanyakan petani. Untuk mencapai program organik itu, lebih dulu petani menempuh cara semi organik sebagai sarana transisi dari non organik ke organik,” tandasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bercocok tanam dengan pola semi organik masih menggunakan bahan kimia antara 25% sampai 30%. Seandainya petani sudah menggunakan benih, pupuk, dan pembasmi hama organik, tapi air yang digunakan dari sungai yang tercemar bahan kimia, tentu saja belum bisa dijamin kalau mereka telah menerapkan pola tanam organik. Itulah yang menjadi salah satu kendala petani untuk menerapkan pola organik murni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasalnya, tidak semua petani meninggalkan bahan kimia, terutama pada tanaman padi. Tidak menutup kemungkinan air sungai tercemar bahan kimia dari pertanian non organik. Begitu juga sisa makanan ternak yang sebagian juga mengandung bahan kimia, kalau mencemari sungai juga berdampak pada kemurnian tanaman organik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena itu, pola organik murni itu masih sulit diterapkan di wilayah Mojokerto. Kecuali, air untuk mengairi sawah dari sumber mata air pegunungan yang bebas bahan kimia,” tandasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu, dengan pola semi organik, petani di Pacet, Trawas dan Gondang mampu meningkatkan produksinya, terutama setelah ada penambahan areal tanam dari 450 hektare menjadi 600 heltare. Sepanjang tahun lalu produksi bawang merah di tiga kecamata itu mencapai 5.600 ton, tahun ini hingga Juni kemarin sudah menghasilkan 9.750 ton. Sekitar 20% produksi bawang merah Kab. Mojokerto dipasok ke luar Jawa, yakni Kalimatan, Sulawesi dan Makasar. &lt;em&gt;(Surabaya Post Online, 6 Juli 2010)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5601930913131294630-4123546566217356055?l=pseks-organik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/4123546566217356055'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/4123546566217356055'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-organik.blogspot.com/2010/07/semi-organik-transisi-petani-bawang.html' title='Semi Organik, Transisi Petani Bawang Merah Menuju Pola Tanam Organik Murni'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5601930913131294630.post-6228994058641364025</id><published>2010-06-28T08:22:00.000-07:00</published><updated>2010-07-28T11:19:28.278-07:00</updated><title type='text'>Tanamlah Pohon</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFBLmQU7NXI/AAAAAAAABUE/BsnSjO1S4SA/s1600/Uskup+Surabaya+menanam+pohon.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 167px; DISPLAY: block; HEIGHT: 200px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5498978265609221490" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFBLmQU7NXI/AAAAAAAABUE/BsnSjO1S4SA/s200/Uskup+Surabaya+menanam+pohon.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Jika engkau berpikir untuk satu tahun ke depan, semailah sebiji benih.&lt;br /&gt;Jika engkau berpikir untuk sepuluh tahun ke depan, tanamlah sebatang pohon.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Kalimat bijak di atas adalah pepatah Cina yang sudah ada sejak 500 tahun sebelum Masehi. Di masa yang amat lalu itu ternyata orang sudah menyadari arti penting pohon. Hal ini bisa dibilang ironis, karena pada masa itu, jumlah pohon yang menutupi permukaan bumi relatif lebih banyak dari sekarang. Pun, tingkat pembangunan yang menyebabkan polusi masih belum setinggi saat ini. Namun demikian, keberadaan sebatang pohon sudah disadari betul manfaatnya, tercermin dari kata-kata bijak di atas tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa sebatang pohon begitu penting artinya, sampai-sampai dipandang sebagai “bekal yang cukup” untuk hidup sepuluh tahun ke depan? Jawabannya tak lain dan tak bukan adalah karena sebatang pohon mampu memberikan banyak manfaat. Di masa lalu, pohon adalah penyedia naungan, makanan, dan kayu bakar bagi manusia. Kini, di masa yang bentuk kehidupannya lebih kompleks, peran pohon pun juga bertambah. Berikut bisa Anda simak 30 alasan mengapa pohon sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Mengurangi efek rumah kaca. Efek rumah kaca disebabkan oleh polutan gas CO2 yang lepas ke udara dan terakumulasi di atmosfer. Pohon adalah “pelahap” CO2 yang rakus. Dalam pertumbuhannya, sebatang pohon membentuk masa batang, utamanya dari karbondisoksida yang diserap untuk fotosintesis. Sebatang pohon mampu menyerap 6 kg CO2/tahun. Karena itu 1 acre (± 4.047 m2) hutan berisi pepohonan muda menyerap 2,5 ton CO2/tahun. Pohon mencapai kemampuan maksimalnya menyerap CO2 sekitar usia 10 tahun. Sebatang pohon yang ditanam di perkotaan (yang notabene memiliki kadar polusi CO2 lebih tinggi) setara nilainya dengan penyerapan CO2 oleh 15 pohon di hutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Meningkatkan kualitas air tanah. Pepohonan mengurangi aliran permukaan (&lt;em&gt;run-off&lt;/em&gt;), karena akarnya menyerap air yang jatuh ke tanah. Lebih banyak air yang terserap ke dalam tanah artinya lebih banyak kesempatan untuk memperbaiki kualitas dan kuantitas air tanah. Hal ini juga mengurangi tercemarnya air tanah oleh bahan kimia yang ada di permukaan tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Pepohonan membersihkan udara yang kita hirup. Partikel debu, CO, SO2, dan polutan-polutan lain akan diserap oleh tanaman sehingga kita bisa menghirup udara yang lebih baik kualitasnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;4.Udara yang kering dan panas bisa diatasi dengan menanam pohon. Pepohonan akan menambah kelembaban atmosfer dan pada akhirnya bisa mengurangi konsumsi air (misalnya untuk menyiram tanaman).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.Mengurangi erosi tanah khususnya di lahan miring. Ketika hujan turun, akar pohon akan menyerap air. Jika tak ada yang menyerap, air yang mengalir di permukaan akan membawa serta lapisan tanah, khususnya lapisan atas tanah yang subur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.Jika diperhitungkan secara keseluruhan, pepohonan yang tumbuh di suatu kota bisa “mendinginkan” kota tersebut. Kota adalah pulau panas (&lt;em&gt;heat island&lt;/em&gt;) yang suhunya 5—9 derajat lebih tinggi dari daerah suburban. Dan setiap tahun, kota cenderung melakukan ekspansi ke daerah suburban. Dengan demikian pulau panas yang tercipta lama kelamaan makin besar. Pepohonan khususnya yang bertajuk besar mampu mendinginkan kota melalui bayangan tajuknya dan proses evapotransipasi yang melepaskan uap air ke udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.Pepohonan yang ditanam di dekat badan air mencegah pendangkalan dan penyempitan badan air. Erosi oleh aliran permukaan akan membawa tanah lalu mengendapkannya di badan sungai dan laut. Selain itu pohon yang tumbuh di dekat air (misalnya jenis tanaman bakau) menyediakan habitat ideal bagi hewan air, misalnya kepiting. Nah, Anda tentu tak ingin bukan bila lima puluh tahun lagi, cucu Anda tak bisa menikmati lezatnya kepiting saus padang akibat sang kepiting tak punya tempat hidup lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.Rumah yang memiliki pepohonan dan tanaman hias yang tertata rapi akan meningkat harga jualnya. Karena secara keseluruhan penampilan rumah menjadi lebih cantik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.Pada skala perumahan, pepohonan dan taman akan menambah keindahan lingkungan. Tak heran jika kini banyak pengembang yang sengaja menyisihkan tanah yang lumayan luas untuk membuat taman perumahan. Dengan adanya taman, lingkungan lebih cantik dan asri, harga jualnya pun cenderung lebih tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.Selain fungsi estetika, pepohonan yang ditanam berjajar di tepi jalan bisa berfungsi sebagai penanda area dan menunjukkan arah/pengarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11.Kondisi perkotaan yang kumuh dan gersang bisa diperbaiki dengan menanam pepohonan dan membuat taman kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12.Tergantung dari jumlah, ukuran, dan lokasi tumbuhnya, keberadaan pohon bisa mengurangi ongkos pemakaian AC hingga 30%. Sebatang pohon dewasa, melalui proses evapotranspirasi bisa menghasilkan efek pendinginan yang setara dengan sebuah AC ukuran ruangan normal yang beroperasi selama 20 jam sehari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13.Mengurangi stress. Setelah lelah bekerja seharian, tentunya sangat nyaman jika sesampainya di rumah kita disambut oleh hijaunya taman yang asri. Keampuhan pohon dalam meredam stress dibuktikan dengan penelitian di laboratorium. Sejumlah relawan yang melihat gambar hutan mengalami penurunan tingkat tekanan darah dan tegangan otot yang signifikan setelah lima menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14.Berdasarkan riset yang dilakukan di sejumlah rumah sakit di Amerika, pasien yang kamarnya menghadap ke taman, lebih cepat sembuh ketimbang pasien yang hanya “menikmati” tembok bangunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15.Kondisi bumi yang makin panas, rupanya juga berpengaruh pada temperamen orang yang semakin keras dan brutal. Hal ini utamanya terjadi di daerah perkotaan yang memang lebih sedikit memiliki area berpohon. Pepohonan bisa menyediakan lingkungan yang lebih sejuk, nyaman dan rileks. Kondisi ini secara psikologis akan membantu “mendinginkan” temperamen manusia perkotaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16.Pepohonan juga memberikan tempat rekreasi yang murah meriah bagi Anda dan anak-anak. Duduk-duduk di bawah pohon rindang sambil membaca buku dan menikmati bekal adalah rekreasi sederhana yang asyik namun tidak menguras dompet. Dengan berada di alam, Anda juga bias mengajarkan ilmu hayati kepada anak secara lebih nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17.Pepohonan tertentu memiliki nilai medis yang bisa dimanfaatkan, baik untuk keperluan sendiri maupun keperluan komersial. Misalnya dengan mengeringkan dan mengemas bagian pohon yang berkhasiat untuk dijual sebagai obat herbal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18.Penanaman pohon dan semak-semak akan secara signifikan menurangi polusi suara, khususnya untuk rumah-rumah yang terletak di tepi jalan raya yang sibuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19.Pepohonan yang ditanam berjajar dan berlapis akan berperan sebagai penghalang pandangan guna meningkatkan privasi penghuni rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20.Pepohonan dan semak-semak yang ditanam di sekitar rumah bisa melembutkan “garis-garis keras” bangunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21.Pepohonan juga berpotensi menghasilkan angin sepoi-sepoi dari gesekan dedaunan yang memberikan efek nyaman bagi penghuni rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22.Bayangan tajuk pohon bisa mengurangi efek silau dari jalan dan lapangan parkir plus membuatnya lebih sejuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23.Jika Anda gemar bercocok tanam maka pepohonan yang ditanam di halaman akan membantu pertumbuhan tamanan lain yang lebih kecil. Keberadaan pohon menciptakan iklim mikro yang membuat lingkungan hidup bagi tanaman-tanaman lain lebih nyaman dengan mengurangi terpaan angin dan panas yang bisa menimbulkan stress bagi tanaman. Pohon juga melindungi terkelupasnya lapisan &lt;em&gt;top soil&lt;/em&gt; atau humus yang subur dan berguna bagi pertumbuhan tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24.Pohon buah-buahan yang Anda tanam di halaman akan memberikan hasil bumi yang segar dan lebih sehat karena bebas pestisida.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25.Penanaman pohon dalam jumlah besar bisa menjaga ketersediaan suplai kayu untuk kebutuhan bahan bangunan rumah dan furnitur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;26.Selain membersihkan udara, keberadaan pohon, khususnya yang berbunga bisa mengharumkan udara. Contohnya adalah sebatang pohon cherry yang bisa mengharumkan udara dengan 200.000 kuntum bunga saat musim semi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;27.Pohon—khususnya yang menghasilkan buah atau kacang—adalah rumah yang nyaman bagi hewan-hewan liar seperti tupai dan burung. Tentunya sangat nyaman bila pagi hari Anda disambut oleh kicauan burung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;28.Serasah daun pohon yang berguguran ketika melapuk dan membusuk akan membentuk lapisan humus yang menyuburkan tanah dan meningkatkan kualitas media tanam bagi tanaman lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29.Anda sedang ingin membentuk badan? Aktivitas merawat pohon (memupuk, memangkas, menggemburkan tanah, dan menyapu daun-daun keringnya) bisa menjadi olahraga ringan yang membantu menyehatkan dan membentuk tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30.Dengan menanam pohon, berarti Anda mewariskan sesuatu yang berarti bagi anak cucu Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, bagaimana jika Anda segera menanam sebatang pohon di halaman? &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5601930913131294630-6228994058641364025?l=pseks-organik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/6228994058641364025'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/6228994058641364025'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-organik.blogspot.com/2010/06/tanamlah-pohon.html' title='Tanamlah Pohon'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFBLmQU7NXI/AAAAAAAABUE/BsnSjO1S4SA/s72-c/Uskup+Surabaya+menanam+pohon.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5601930913131294630.post-5562703431175107442</id><published>2010-06-17T13:22:00.000-07:00</published><updated>2010-07-30T13:23:31.611-07:00</updated><title type='text'>Distribusi Pupuk Organik Madiun Terkendala Uji Laboratorium</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Pendistribusian pupuk organik bersubsidi pemerintah ke tingkat petani di wilayah Kabupaten Madiun, Jawa Timur, terkendala hasil uji laboratorium, hingga berakibat stok di kios menipis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebelum didistribusikan, pupuk organik bersubsidi pemerintah harus sudah lulus uji kandungannya oleh PT Sucofindo Laboratorium di Surabaya sebanyak dua kali. Proses uji laboratorium inilah yang menghambat keberadaan pupuk, padahal petani segera butuh pada bulan Juli untuk persiapan musim kemarau (MK) II," ujar Kepala Bidang Produksi, Dinas Petanian Kabupaten Madiun, Ibu Swastini, Rabu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, jumlah stok pupuk organik yang telah ada di kios petani untuk persiapan MK II hanya sebanyak 600 ton saja. Padahal, untuk pemupukan selain pupuk kimia, dibutuhkan pupuk organik sebanyak 3.500 ton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Karenanya, kami mengimbau kepada pihak-pihak terkait seperti Dinas Pertanian Provinsi Jatim dan laboratorium untuk segera menyelesaikan proses uji laboratorium agar pada bulan Juli nanti pupuk dapat didistribusikan," kata dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dijelaskan dia, selain pendistribusian terganggu, uji laboratorium kandungan pupuk sebanyak dua kali ini, juga membuat penyerapan pupuk organik di tingkat petani rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data dinas pertanian setempat menyebutkan, dari jatah pupuk organik Kabupaten Madiun tahun 2010 sebanyak 8.559 ton, baru 20 persen saja atau sekitar 2.000 ton pupuk organik yang telah digunakan oleh petani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini sangat disayangkan oleh dinas dan petani. Padahal, petani di kabupaten Madiun sudah sangat mendukung program pemerintah pusat untuk menggalakkan penggunaan pupuk organik selain pupuk kimia untuk mengembalikan tingkat kesuburan tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Kelompok Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Madiun, Suharno, membenarkan jika seluruh petani di Kabupaten Madiun telah menggunakan pupuk organik disamping pupuk kimia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Meski jumlah penggunaannya minim, namun seluruh petani di Kabupaten Madiun telah menggunakan pupuk organik. Kebutuhan pupuk tersebut, sebanyak 20 persen disubsidi dari pemerintah dan 30 persen lainnya diperoleh dari nonsubsidi, dengan petani membuat sendiri pupuk dari bahan limbah ternak," ujar Suharno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, dari jumlah yang ada tersebut, belum mencukupi kebutuhan pupuk organik di wilayahnya yang mencapai hingga 20 ribu ton. Idealnya, per hektare sawah dibutuhkan dua ton pupuk organik. Namun, karena keterbatasan stok, petani hanya menggunakan 250 kg per hektarenya yang telah disesuaikan dengan rencana devinitif kebutuhan kelompok (RDKK) petani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guna memenuhi kebutuhan tersebut, petani dengan bantuan dari pemerintah baik daerah maupun pusat diharapkan mampu memproduksi pupuk organik sendiri. Di wilayah Kabupaten Madiun telah terdapat sedikitnya delapan kelompok tani yang mendapat bantuan pembuatan pupuk organik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Delapan kelompok tani tersebut di antaranya terdapat di wilayah Kare, Gemarang, Kaibon, Pilangkenceng, Jiwan, Dagangan, Kebonsari, dan Dolopo. &lt;em&gt;(Antara News, 16 Juni 2010)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5601930913131294630-5562703431175107442?l=pseks-organik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/5562703431175107442'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/5562703431175107442'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-organik.blogspot.com/2010/06/distribusi-pupuk-organik-madiun.html' title='Distribusi Pupuk Organik Madiun Terkendala Uji Laboratorium'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5601930913131294630.post-2621347375311216312</id><published>2010-03-28T08:12:00.000-07:00</published><updated>2010-07-28T08:20:48.147-07:00</updated><title type='text'>Dari Sampah, Lahirlah Bisnis</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFBKhdd3pTI/AAAAAAAABT8/jcg0yLrHRSg/s1600/4283920688_fe3b9c4696.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 179px; DISPLAY: block; HEIGHT: 200px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5498977083725423922" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFBKhdd3pTI/AAAAAAAABT8/jcg0yLrHRSg/s200/4283920688_fe3b9c4696.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sebuah kampung kecil yang berlokasi di belakang pembangkit listrik PLN Jatirangon, Bekasi, Jawa Barat, ternyata menyimpan keistimewaan. Perkampungan yang bisa ditempuh sekitar dua jam perjalanan dari terminal Lebak Bulus di Selatan Jakarta ini dinaungi pepohonan hijau sehingga memberi udara segar. Di tempat itu, terlihat drum-drum kaleng berisi sampah berwarna biru bertuliskan: ‘Sampah Organik Mittran Daur Ulang’. Inilah wadah awal yang dirintis oleh Rumah Perubahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagar kayu cokelat besar bertuliskan “Rumah Perubahan” (RP) menyambut di salah satu sudut rumah yang menjadi tempat berkumpulnya komunitas pendaur ulang sampah. Tampak pula pohon jati berumur sekitar dua tahun setinggi kurang lebih enam meter, yang berjejer rapi ditanam sebagai salah satu pagar alam. Hijau dan mulai rindang. Pohon durian, rambutan, dan kelapa turut meneduhkan halaman RP. Tempat ini dirintis oleh Rhenald Kasali, dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Belakangan, Rhenald bukan hanya rajin menulis buku, tetapi juga aktif menyuarakan sampah. Rupanya, sang empunya sudah menunggu di salah satu gedung yang baru sebulan ini rampung, gedung yang disebutnya Power House.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari zaman dulu yang namanya bisnis beranjak dari masalah. Bagi orang yang mengerti bisnis, setiap masalah adalah kesempatan, dan setiap ada kemajuan pasti ada masalah,” Rhenald membuka obrolan. “Kita melihat sampah sebagai masalah. Masalah bagi yang buang dan masalah bagi yang rumahnya kebanjiran,” katanya. Padahal, ia melanjutkan, “Di dalam sampah tersimpan sumber energi yang berasal dari gas metan. Kita membuat teknologi yang dikerjakan sendiri oleh anak-anak kita dan tetangga-tetangga kita. Di sini karyawan saya 20 orang. Usaha ini berbasis komunitas,” Rhenald memaparkan dengan semangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dijelaskannya, sebelum ini di daerah itu ada koperasi. Tetapi karena kendala teknis, koperasi ini tidak berjalan sesuai harapan. “Tidak berjalan karena pengurusnya tidak tetap. Sekarang kami remajakan melalui wadah rumah perubahan,” ujar penulis buku Recode DNA ini. Nantinya, ia berharap, akan ada banyak program turunan yang bisa dijalankan oleh koperasi. Sampah yang setiap hari diangkut dari tempat sampah penduduk kemudian diolah menjadi biomassa dan kompos. “Bisa dilihat, setiap lima rumah ada satu drum sampah organik yang berasal dari rumah perubahan. Mereka (penduduk) membayar Rp 30 ribu per lima rumah. Berarti tiap rumah hanya mengeluarkan Rp 6 ribu. Setiap hari sampahnya kami angkut dengan mobil-mobil kecil dan langsung diolah,” ujar Rhenald menjelaskan. ”Kalau di perumahan mewah mereka mau bayar Rp 25 ribu/bulan. Sehingga, kami bisa menggaji anak-anak putus sekolah yang membantu di sini, sopir, petugas yang mengelola mesin dan yang nge-press,” katanya menambahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekadar gambaran, biomassa yang dihasilkan banyak dipesan oleh sektor industri. Saat ini harga biomassa hanya 1/3 batubara sehingga membuat pelaku industri mulai beralih ke energi alternatif ini. Inilah peluang di depan mata bagi pengusaha biomassa. “Mesinnya dibuat oleh UKM-UKM yang kami bina. Yang kerja di sini adalah anak-anak putus sekolah, mantan napi, dan tenaga-tenaga yang tidak punya keterampilan,” jelas ayah dua putera ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya itu. RP juga melatih cara memisahkan plastik yang memiliki 20 jenis tekstur. “Kalau sudah terlatih sambil mata merem juga bisa. Plastik ini bisa diolah menjadi lahan ekonomis. Harganya Rp 2 ribu/kilogram,” ungkap Rhenald. Agar mandiri RP membuat mesin pemisah plastik sendiri. “Mesinnya tidak ada namanya, ya kami sebut sebagai mesin rumah perubahan saja,” ujar Rhenald berseloroh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cita-cita RP adalah Indonesia yang bersih dan sehat. Rhenald percaya, perubahan akan terjadi karena ada kegiatan ekonomi. “Sejauh ini masyarakat sekitar mendukung, tapi ada satu-dua orang yang antipati karena mereka belum mengerti,” katanya. Menurut Rhenald, jika masyarakat mendapatkan keuntungan dari sebuah perubahan yang berbasis komunitas, maka secara alamiah mereka pasti mendukung. “Ini punya masyarakat, bukan milik Rhenald Kasali,” katanya tegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampah yang diolah di sini, 80% menghasilkan biomassa dan 20% menjadi kompos. Program pengolahan sampah menjadi kompos, disebutkan Rhenald, akan menurunkan banyak program, antara lain bidang pertanian, seperti kebun sayur, tanaman hias, dan menanam padi. RP berusaha memaksimalkan semua yang berasal dari sampah, termasuk belatung yang dapat dijadikan tepung untuk makanan ikan. Sektor wisata juga diliriknya karena dapat memaksimalkan potensi sawah, farmer’s market, dan pemancingan. Semua potensi tersebut ia rencanakan akan masuk ke dalam program outbound berbasis pelatihan dan wisata. “Kami kerja sama dengan radio untuk mempromosikan hari panen di rumah perubahan. Jadi, siapapun bisa belanja ke rumah perubahan,” tutur Rhenald.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini RP memiliki tiga program utama, yaitu pelatihan, budidaya, dan kebudayaan. Pelatihan memiliki dua program, yaitu change dan entreprenuership. Program entrepreneurship memiliki cabang lagi, yaitu program menanam tanaman hias, ikan hias, sayur, bunga potong, anggrek, kaktus, dan ikan. Sementara program budidaya yang sudah berjalan adalah budidaya pohon jati. “Kami jual bibit jati kurang lebih Rp 35 ribu/bibit,” ungkapnya. Sedangkan program kebudayaan yang akan diretas -- salah satunya -- adalah wisata outbound.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hadirnya rumah perubahan harus bisa memberi manfaat bagi banyak orang. Kami mulai dari sekitar sini. Di sini akan ada pelatihan-pelatihan untuk berubah. Kami akan melatih orang untuk berwirausaha. Termasuk membangun jejaring. Kami juga melatih bagaimana caranya agar orang-orang bisa bankable,” ujarnya. Memang, Rhenald menekankan agar sebuah usaha visible, maka harus dilatih secara administratif agar sesuai dengan keinginan pihak bank. Misalnya, bagaimana membuat pembukuan yang benar. “Jadi, jangan mengeluh sajalah bangsa ini. UKM mengeluh tidak dapat kredit dari bank. Itu karena UKM-nya tidak bankable. Maka, di sini menjadi tempat pertemuan untuk melatih orang. Kalau melatih orang tentu saja tidak seluruhnya sosial, tapi ada pula biayanya. Misalnya, perusahaan yang karyawannya mau pensiun, bisa mengirimnya ke sini untuk diberi beberapa pelatihan,” tutur Rhenald menjelaskan. &lt;em&gt;(Majalah Human Capital, Juni 2008)&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5601930913131294630-2621347375311216312?l=pseks-organik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/2621347375311216312'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/2621347375311216312'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-organik.blogspot.com/2010/07/dari-sampah-lahirlah-bisnis.html' title='Dari Sampah, Lahirlah Bisnis'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFBKhdd3pTI/AAAAAAAABT8/jcg0yLrHRSg/s72-c/4283920688_fe3b9c4696.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5601930913131294630.post-6497073206408618811</id><published>2010-02-14T13:25:00.000-08:00</published><updated>2010-07-30T13:26:25.324-07:00</updated><title type='text'>Pakde Karwo: Petani Jatim Stop Gunakan Pupuk Kimia</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Gubernur Jatim Soekarwo meminta kepada para petani di Jatim agar tidak menggunakan pupuk kimia untuk pertanian. Pasalnya, pemprov pada tahun ini akan membagikan secara bertahap alat pembuat pupuk organik pada kelompok tani di Jatim. Tahun ini, ketergantungan petani Jatim pada pupuk kimia ditarget menurun 30-40 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dengan pupuk organik, tentu lebih menguntungkan petani, karena ramah lingkungan dan cara pembuatannya pun relatif mudah. Dengan bahan dasar kotoran ternak saja, satu unit granulator (alat pembuat pupuk organik, red) bisa membuat 500 kilogram butiran pupuk organik dalam waktu satu jam," kata Pakde Karwo kepada wartawan seusai acara konser peringatan 1 tahun, Jumat (12/2/2010) malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, penggunaan pupuk kimia harus direduksi secara bertahap. Sehingga, kalau bisa hingga beberapa tahun mendatang, secara keseluruhan petani Jatim menggunakan pupuk organik. Pembuatan satu unit granulator senilai Rp 30 juta, dimana pada tahun ini seluruhnya dianggarkan Rp 18 miliar. Pada 2009 pemprov, pemprov telah membagikan alat sebanyak 660 unit. Tahun ini, pemprov menargetkan pembagian sebanyak 668 unit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Idealnya, perlu ditambahkan 668 unit lagi, sehingga tiap kecamatan di Jatim memiliki tiga unit alat untuk mengurangi ketergantungan petani pada penggunaan pupupk kimia," imbuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun ini, pemprov juga akan meningkatkan fungsi dan peran kelompok tani dalam menyusun dan mengajukan Rancangan Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) dalam pendistribusian pupuk bersubsidi. Alokasi pupuk bersubsidi tahun ini, meliputi Urea sebanyak 1,325 juta ton, SP 36 sebanyak 200 ribu ton, ZA sebanyak 421.994 ton, NPK sebanyak 466.667 ton, dan pupuk organik sebanyak 206.267 ton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pupuk bersubsidi itu diharap tidak menjadi ketergantungan bagi petani, karena pupuk itu itu hanya untuk tambahan saja," pungkasnya. &lt;em&gt;(Beritajatim.Com, 13 Februari 2010)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5601930913131294630-6497073206408618811?l=pseks-organik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/6497073206408618811'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/6497073206408618811'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-organik.blogspot.com/2010/02/pakde-karwo-petani-jatim-stop-gunakan.html' title='Pakde Karwo: Petani Jatim Stop Gunakan Pupuk Kimia'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5601930913131294630.post-6012300900626957775</id><published>2009-11-28T09:26:00.000-08:00</published><updated>2009-11-28T09:27:28.600-08:00</updated><title type='text'>Padi Jenis Aromatik Lebih Dihargai Tinggi</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Beras organik yang diminati saat ini dan bisa dipasarkan dengan harga tinggi adalah jenis aromatik yang baunya harum. Ini yang mestinya dipahami para petani yang akan beralih dari bertanam padi secara anorganik, menjadi secara organik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padi jenis aromatik tersebut, antara lain mentik wangi, rojolele, dan pandan wangi. Walau pertaniannya dilakukan total secara organik, namun padi yang ditanam bukan jenis aromatik, maka hasilnya (beras) tetap susah dijual di pasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Misalnya petani menanam beras IR secara organik, harga jualnya pun tetap sama seperti beras IR yang ditanam secara anorgani," ujar Edy Suharyanta, Kepala Dinas Pertanian Bantul, di sela-sela panen padi organik di Jayan, Imogiri, Kamis (2/4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, lanjut Edy, jika berasnya dari padi aromatik tetapi menanamnya secara anorganik, pedagang bisa mengaku berasnya organik dan pembeli pun percaya. Fenomena ini aneh, tapi memang demikian. Artinya, petani mesti menangkap peluang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari 16.200 hektar sawah di Bantul, hanya 1,5 persen atau 250 hektar yang menerapkan pertanian organik. Sisanya, masih pertanian yang memakai pupuk dan pestisida kimia. Lambat laun, tanah yang selalu diberi pupuk kimia akan berkurang kesuburannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agung Gunawan, Ketua Masyarakat Pertanian Organik DIY mengatakan, permintaan beras organik cenderung meningkat, terutama di kota-kota besar. Ini adalah peluang. Tinggal bagaimana mengubah cara pandang petani, agar pendapatan mereka meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gabah dari padi aromatik yang ditanam organik harganya bisa Rp 2.700 per kg kering panen. Berasnya bisa dijual ke distributor Rp 5.800-Rp 6.000 per kg. Setelah dibersihkan dan dikemas rapi, di pasaran minimal Rp 7.000 per kg. "Bandingkan dengan padi jenis IR (ditanam organik dan anorganik) yang gabah keringnya hanya laku Rp 2.100 per kg, dan berasnya hanya laku Rp 5.000-an," ujar Agung yang juga pimpinan PT MAS (bergerak dalam pertanian organik, termasuk sebagai distributor beras organik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngatijo, Ketua kelompok Tani Madya di Jayan, mengatakan, sebanyak 10 hektar sawah di dusunnya sudah menerapkan 100 persen pertanian organik setahun lalu. Mereka menanam padi jenis IR. Menurut dia, ke depan, jika prospek menguntungan, petani jelas mau menanam padi aromatik. Perlahan, pertanian organik bisa dipahamkan pada petani, karena hasilnya terbukti bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pada panen awal jika menerapan pertanian organik, hasilnya tak sebanyak jika memakai pupuk kimia. Tapi perlahan, panen meningkat. Nasi dari beras organik juga lebih pulen dan tahan lama. Petani tentu mau beralih ke organik. Yang kami butuhkan adalah jaminan padi kami dibeli dengan harga tingi, jika kami menanam secara organik. Selama ini, panenan kami makan sendiri dan sisanya dijual," ujar Ngatijo. &lt;em&gt;(Kompas, 2 April 2009)&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5601930913131294630-6012300900626957775?l=pseks-organik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/6012300900626957775'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/6012300900626957775'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-organik.blogspot.com/2009/11/padi-jenis-aromatik-lebih-dihargai.html' title='Padi Jenis Aromatik Lebih Dihargai Tinggi'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5601930913131294630.post-8905819082422182370</id><published>2009-11-28T08:57:00.000-08:00</published><updated>2009-11-28T09:20:15.083-08:00</updated><title type='text'>Emily, Dara Peretas Ekspor Beras Organik</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SxFa87kGFtI/AAAAAAAABQE/ea7zOT7h8eE/s1600/vImage.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 200px; DISPLAY: block; HEIGHT: 297px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5409204630276413138" border="0" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SxFa87kGFtI/AAAAAAAABQE/ea7zOT7h8eE/s320/vImage.jpg" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div align="justify"&gt;Tak ada yang mengira kalau dara ini salah satu sosok penting di balik suksesnya Indonesia mengekspor beras organik untuk pertama kali. Dia akrab dengan petani. Ia bersentuhan langsung dengan mereka. Dia juga bukan tipikal pengusaha yang gemar menekan petani kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku mau petaniku menjadi yang paling maju, paling sejahtera hidupnya, dengan menjadikan mereka sebagai pengusaha kecil,” kata Emily Sutanto, pendiri sekaligus Direktur Utama PT Bloom Agro, di Tasikmalaya, Jawa Barat. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dengan bendera PT Bloom Agro yang ia dirikan setahun lalu, Emily mengekspor beras organik bersertifikat ke Amerika Serikat. Tahap awal pengiriman sebanyak 18 ton. Pengapalan ekspor beras organik perdana ini dilakukan pada Minggu (30/8) melalui Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beras organik yang diekspor tak sembarang organik, tapi organik bersertifikat. Kata ”bersertifikat” sekadar membedakan produk beras organik ini dengan beras ”organik” yang ada di pasaran, tetapi sesungguhnya tak mengikuti standar produksi beras organik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sertifikat beras organik dikeluarkan &lt;em&gt;Institute for Marketecology&lt;/em&gt;, lembaga sertifikasi organik internasional, berbasis di Swiss, yang terakreditasi mendunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Logo sertifikat yang dikeluarkan pun tak tanggung-tanggung, langsung untuk tiga negara, yakni AS dengan &lt;em&gt;US Department of Agricultural National Organic Program&lt;/em&gt;, Uni Eropa, dan Jepang dengan &lt;em&gt;Japanese Agricultural Standard&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain, beras organik itu sudah mendapatkan ”paspor” untuk masuk ke negara-negara yang paling ketat memberlakukan sistem keamanan pangannya di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beras organik ini diproduksi oleh para petani kecil di tujuh kecamatan di Tasikmalaya, Jabar. Mata rantai dalam sistem perdagangan pun mengadopsi prinsip &lt;em&gt;fair trade&lt;/em&gt;, yang oleh Menteri Pertanian Anton Apriyantono disebut-sebut sebagai yang pertama dilakukan oleh pengusaha beras ekspor Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengadopsi prinsip fair trade atau sistem perdagangan berkeadilan, tujuan menyejahterakan petani bukan lagi omong kosong. Bila suatu kali kedapatan petani organik mengalami tekanan harga, pemutusan kontrak kerja sama ekspor terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena alasan fair trade dan kemanusiaan itulah, Emily tak akan mau menekan harga beli beras. Usaha penggilingan padi yang dapat memberikan nilai tambah bagi petani yang dikelola Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Simpatik bantuan Departemen Pertanian ini dibiarkan tumbuh bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tak harus membeli beras dari petani, tetapi cukup melalui Gapoktan Simpatik agar petani mendapat nilai tambah. Gabah organik setelah diproses di penggilingan milik petani menjadi beras dibeli Emily dengan harga Rp 8.000 per kilogram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan harga beli yang tinggi, Gapoktan membeli gabah kering pungut dari petani anggotanya dengan harga Rp 3.500 per kilogram atau lebih tinggi Rp 1.500 dibandingkan gabah nonorganik. Pada tahap ini jalur perdagangan semakin pendek dan tidak ada celah bagi tengkulak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin mantap lagi posisi petani ketika model penanaman padi dengan sistem intensif membuat ada petani yang mampu meningkatkan produktivitas padinya hingga menghasilkan 10 ton gabah kering panen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan produktivitas setinggi itu, pendapatan kotor petani dalam satu musim tanam (empat bulan) bisa sekitar Rp 35 juta. Apabila dalam setahun padi bisa ditanam tiga kali, pendapatan kotor petani dengan lahan 1 hektar dapat menembus Rp 105 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mulai dari nol&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kisah perjumpaan Emily dengan beras organik terjadi secara tidak sengaja. Peraih gelar master bidang Manajemen Internasional dan &lt;em&gt;Mass Communication&lt;/em&gt; dari &lt;em&gt;Pepperdine University&lt;/em&gt;, Los Angeles, California, dan Bond University, Australia, ini pada awal 2008 ditawari Solihin GP, yang dia sebut sahabat keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bapak Solihin GP waktu itu mengatakan, ’Mau enggak kamu bantu petani? Mereka (petani) mau ekspor beras organik, tetapi pemerintah belum bisa berbuat apa-apa’,” kata Emily mengutip permintaan mantan Gubernur Jabar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala itu Emily masih ragu. Dia sangsi, apa benar ada beras yang benar-benar organik di Indonesia. Karena gamang, ia lalu pergi ke Tasikmalaya, dan melihat langsung proses produksi beras organik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emily terpana. Mengapa selama ini konsumen beras organik dunia hanya tahu beras organik Thailand saja? Padahal, di Indonesia beras organiknya jauh lebih bagus. Produk beras organik yang dihasilkan begitu orisinal. Secara fisik, beras organik itu lebih empuk dan berat, pertanda banyak kandungan serat dan vitamin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses produksinya juga penuh cinta karena dilakukan secara tradisional. Makin terpikat lagi Emily ketika tahu semangat petani yang berapi-api untuk mengekspor beras organik itu. Namun, mereka tak tahu bagaimana caranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kalau beras organik dari petani bisa diekspor, ini bisa memacu semangat petani untuk lebih maju,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah selanjutnya giliran sertifikasi. Emily menjalani proses ini sampai tiga bulan. Dia memerlukan sertifikasi itu, dengan pertimbangan agar ke depan produksi beras organik bisa berkelanjutan. Di sini perlu diterapkan sistem pengawasan yang dilakukan internal dalam kelompok antarpetani. Dalam hal ini kejujuran petani benar-benar diuji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah produknya beres, mulailah ia melirik pasar ekspor. Kebetulan dari &lt;em&gt;Cornell University&lt;/em&gt;, AS, juga sedang menggarap produk pertanian organik. Jadilah dia dipertemukan dengan calon pembeli, &lt;em&gt;Lotus Foods&lt;/em&gt;, yang sangat mendukung program pelestarian lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Perbedaan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Emily, merintis jalan ekspor tidak mudah. Apalagi, sejak usia sembilan tahun ia tinggal di Singapura, AS, dan Australia untuk belajar. Baru sekitar dua tahun lalu dia kembali ke Indonesia. Untuk berkomunikasi dia tak hanya terkendala budaya, tetapi juga bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil merintis jalan, Emily belajar bahasa Indonesia. Tak jarang, budaya lugas dan cara mengatasi masalah yang tidak bertele-tele seperti yang kerap dia lakukan selama tinggal di luar negeri terbentur budaya petani yang kerap bersikap pasrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ada persoalan menyangkut hama penyakit, misalnya, Emily langsung bertanya mengapa bisa terjadi dan bagaimana solusinya. Pada awalnya petani takut-takut menjawabnya karena mengira Emily marah. Lama-kelamaan mereka bisa memahami cara kerja dia. Apalagi, ketika Emily kerap mengajak petani lesehan membicarakan masalah bersama-sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku minta para petani memanggilku Emily saja, jangan panggil ibu karena kami mitra,” ungkap Emily yang tak suka disebut pengusaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengaku tidak akan meninggalkan pekerjaannya sebagai pengekspor beras organik. Dia optimistis beras organik dari Indonesia bisa bersaing di pasaran internasional. Buktinya, tambah Emily, dalam waktu dekat ini sudah ada permintaan untuk mengekspor 19 ton beras organik ke Malaysia. &lt;em&gt;(Kompas, 4 Sept 2009)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;klik, &lt;a href="http://www.bloomagro.com/"&gt;www.bloomagro.com&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5601930913131294630-8905819082422182370?l=pseks-organik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/8905819082422182370'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/8905819082422182370'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-organik.blogspot.com/2009/11/emily-dara-peretas-ekspor-beras-organik.html' title='Emily, Dara Peretas Ekspor Beras Organik'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SxFa87kGFtI/AAAAAAAABQE/ea7zOT7h8eE/s72-c/vImage.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5601930913131294630.post-7017520782020140860</id><published>2009-11-28T08:10:00.000-08:00</published><updated>2010-07-28T08:11:59.047-07:00</updated><title type='text'>Warga Rungkut Lor, Berjuang Bersama Sampah</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Makin banyak saja wilayah di Surabaya yang mampu menyulap sampah menjadi barang berharga. Kali ini adalah warga RW XIV Rungkut Lor yang sukses mengubah sampah menjadi kompos. Bukan itu saja. Mereka juga berhasil menjadi produsen keranjang takakura yang ordernya sampai ke luar pulau. Dari 50 ton sampah justru berhasil diolah, sedangkan yang dibuang hanya 2,5 ton sampah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BISA jadi, RW XIV Rungkut Lor merupakan salah satu RW paling modern di Surabaya. Betapa tidak, RW itu telah mempunyai renstra (rencana strategis) untuk seluruh aspek kehidupan warganya. Masalah drainase, penghijauan, pendidikan, kesehatan, hingga sampah benar-benar dikonsep matang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, yang paling menonjol pada RW itu adalah pengolahan sampahnya. Berbeda dari Kelurahan Jambangan -yang terkenal dengan sentra daur ulang sampah keringnya-, RW XIV Rungkut Lor fokus pada pengolahan sampah basah menjadi kompos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama seperti Jambangan, warga empat RT, yakni RT 1, 2, 3, dan 4 yang tergabung dalam RW XIV, sudah mempunyai kesadaran sendiri untuk memilah sampah. Karena itu, ada dua tempat sampah di tiap rumah warga, yakni sampah basah (organik) dan sampah kering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, tiap hari ada tiga petugas yang mengangkuti sampah-sampah tersebut. Gerobak sampah milik RW XIV Rungkut Lor juga berbeda dari gerobak sampah kebanyakan. Gerobak sampah mereka, baknya disekat menjadi dua bagian. Dapat ditebak, yang satu untuk sampah kering dan satu lagi untuk sampah basah. Sampah kering dikumpulkan untuk dibuang ke TPS (tempat pembuangan sementara), sedangkan sampah basah masuk ke tempat pengolahan warga. Di tempat itu, sampah basah tersebut akan diolah menjadi kompos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat di ujung gang Rungkut Lor VII, ada lahan seluas sekitar 100 meter persegi yang dijadikan "pabrik" kompos atau warga menyebutnya "rumah kompos". Di situlah perjalanan sampah warga berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengubah sampah basah menjadi kompos, bukan pekerjaan sulit. Awalnya, sampah basah dimasukkan ke keranjang takakura susun -sebuah kotak plastik seperti krat soft drink. Di dalam keranjang itu sudah ada kompos. Perbandingan antara kompos dengan sampah baru adalah 1:1. Tinggal ditambah sekam, sampah basah tersebut dibiarkan selama dua hari agar terurai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dua hari, isi keranjang itu dimasukkan mesin giling khusus. Hasil penggilingan tersebut dikumpulkan dalam sebuah ruang. Nah, di dalam ruang itu, proses komposisasi berlangsung. Tiap dua hari sekali, tumpukan sampah yang telah digiling tersebut digeser. "Perjalanan dari hasil gilingan hingga menjadi kompos siap pakai selama 14 hari," jelas Joego Ariefianto, kepala produksi rumah kompos itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk apa kompos-kompos tersebut? Warga bisa menggunakannya untuk apa saja. Tapi, warga setempat memanfaatkannya untuk dua hal. Yakni, untuk bahan keranjang takakura baru (yang banyak dibeli warga daerah lain) dan untuk memupuk tanaman di kampung itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan metode seperti itu, per bulan, warga RW IX Rungkut Lor bisa memproduksi 48 ton kompos. Bila dirupiahkan, nilainya setara Rp 48 juta (harga pasaran satu kilogram kompos Rp 1.000).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti apa cara kerja keranjang takakura? Keranjang sampah takakura adalah keranjang pengurai sampah organik. Isinya, kompos hasil pengolahan sampah warga, di atasnya diberi semacam filter dari kain -yang juga berisi kompos. Cara membuang sampah organik di tempat sampah takakura itu cukup sederhana. Tumpukan kompos di keranjang tersebut digali dengan sekop, kemudian sampah basah (biasanya berupa sisa-sisa nasi dan sayuran) ditaruh di tengahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seberapa banyak daya tampung keranjang takakura? Menurut Arief, misalnya keranjang itu dipakai dalam keluarga, sebuah keluarga dengan lima jiwa, tempat sampah tersebut bisa bertahan selama empat bulan (empat bulan baru penuh). Setelah penuh, kompos yang meluber itu dibiarkan di tempat sejuk (terlindung dari hujan dan sinar matahari) selama tiga hari, maka sudah bisa menjadi penyubur tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terpenting, sampah yang diolah dengan cara itu tidak akan menjadi penyumbang emisi gas buang. "Kalau sampah yang dibuang begitu saja, selain karbondioksida, juga lebih banyak menghasilkan gas metana," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gas metana adalah salah satu gas yang dianggap paling bertanggung jawab atas terjadinya global warming. Berbeda halnya dengan takakura, yang dihasilkan hanyalah karbondioksida.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah kompos binaan Pusdakota (Pusat Pemberdayaan Masyarakat Kota) Ubaya itu kini menjadi jujugan Dinas Kebersihan se-Jawa Timur, bahkan luar Jawa. Selain belajar, mereka biasanya membeli keranjang takakura yang sudah siap pakai. Mereka, antara lain, berasal dari Nusa Tenggara Barat dan Kalimantan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, rumah kompos itu baru saja menyelesaikan order pembuatan 6.500 tempat sampah takakura pesanan Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Surabaya. Harganya, tiap keranjang Rp 90 ribu. Untuk order tersebut, Arief mengaku mendapat laba Rp 70 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan itu juga mampu menyerap tenaga kerja. "Semua bahannya, mulai tempat sampah, karton, penjahitan kain filter, hingga sekop, semua produksi dari kelompok-kelompok informal yang kurang beruntung. Misalnya, kelompok stren kali dan kaum difabel (cacat, Red)," ungkapnya. Contohnya, sekop takakura yang dibuat kelompok stren kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain berdampak sosial positif dan menyerap banyak tenaga kerja, pengolahan sampah tersebut bisa mengurangi timbunan sampah di LPA (lahan pembuangan akhir). Menurut Arief, tiap bulan, RW-nya rata-rata menghasilkan 50 ton sampah. Di antara jumlah itu, yang benar-benar disetor ke LPA hanya 2,5 ton. "Bayangkan kalau tiap kelurahan mempunyai pengolahan seperti ini. Umur LPA bisa semakin panjang belasan tahun," tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekilas, sistem pembuangan sampah ala RW XIV tersebut gampang diadopsi dan bisa langsung sukses. Namun, seperti lazimnya dalam kisah sukses, tetap saja awal-awal babat alas selalu sengsara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Habib, ketua RW XIV, perjuangan itu dimulai sejak delapan tahun lalu. "Tepatnya pada 2000," kata pria 46 tahun tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habib mengungkapkan, awalnya sangat sulit mengajak warga mau memilah sampah. "Kuping harus tebal, Mas," ungkapnya lalu tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Omongan yang terlontar pun bermacam-macam. Di antaranya. "Ngapain sih memilah sampah segala? Wong sudah bayar iuran sampah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, melalui pertemuan demi pertemuan, warga mulai memahami pentingnya mempunyai sistem pengolahan sampah yang baik. Akhirnya, pada 2003, ada konsensus. Isinya, untuk warga yang tak memilah sampah, sampahnya tidak akan diangkut petugas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski sudah konsensus, tak mudah menjalankannya. Pernah, seorang penggiat sistem pengolahan sampah tersebut dipukul warga sendiri. Gara-garanya, ada seorang warga yang bersikeras tak mau memilah sampahnya. Otomatis, sampahnya pun tak pernah diangkut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marah, warga tersebut mendatangi salah seorang penggiat sampah, kemudian memukulnya. "Tapi, sampahnya tetap tidak kami angkut. Demi sebuah konsensus. Kalau dipukul, terus kami angkut, tentu menjadi contoh buruk bagi warga lain," ujar Habib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga tersebut tetap bersikeras dan menyatakan langsung membuang sampahnya ke TPS (tempat pembuangan sampah sementara). Namun, lama-kelamaan, warga itu repot sendiri dan akhirnya mau memilah sampahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan itu, RW tersebut kemudian mendapat bantuan dari Pusdakota Ubaya untuk membuat rumah kompos. Pada 2005, sebuah unit pengolahan sampah menjadi kompos lengkap dengan mesin gilingnya pun didirikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, untuk mengawasi pengolahan sampah, RW XIV sampai mempunyai task force (pasukan khusus) beranggota 15 orang yang bertugas mengontrol, memonitor, dan mengevaluasi jalannya sistem pengolahan sampah tersebut. Kendati wewenangnya hanya menegur, rekomendasi task force cukup membuat kapok warga yang masih mokong tak memilah sampahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa itu? "Kalau sekali, dua kali, tiga kali ditegur tidak bisa, akan kami masukkan ke dalam daftar hitam warga mokong," tegas Habib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, tidak ada sanksi perdata atau pidana untuk para warga yang masuk dalam daftar hitam. Namun, efeknya cukup membuat warga berhitung berkali-kali kalau tetap tak memilah sampah. "Saat mengurus surat-surat ke RT dan RW, akan kami ingatkan lagi. Kalau mokong, bisa dipersulit," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untunglah, sejak task force dibentuk setahun lalu, belum ada warga yang masuk daftar hitam. "Semua warga di sini tampaknya sudah tertib memilah sampah," ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, Habib dan warga RW XIV lainnya pun mulai mengecap hasilnya. Di antaranya, berkat "rumah kompos", tiap tiga bulan, tersedia dana Rp 750 ribu untuk PAUD (pendidikan anak usia dini) dan kesehatan warga. "Kalau hasilnya (dari rumah kompos, Red) memang bagus, tak menutup kemungkinan biaya PAUD dan kesehatan warga bisa gratis," jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu merupakan hal bagus, mengingat modal untuk itu hanyalah kemauan untuk memilah sampah dan bahan bakunya adalah sampah -yang notabene barang tak berguna. Sampah, bagi warga RW XIV, kini tak lagi menjadi sampah. (Jawa Pos, 25/5/08) &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5601930913131294630-7017520782020140860?l=pseks-organik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/7017520782020140860'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/7017520782020140860'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-organik.blogspot.com/2009/11/warga-rungkut-lor-berjuang-bersama.html' title='Warga Rungkut Lor, Berjuang Bersama Sampah'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5601930913131294630.post-6968436218227888837</id><published>2009-11-09T08:56:00.000-08:00</published><updated>2010-09-01T08:57:36.694-07:00</updated><title type='text'>Perjuangan Pak Tani (2), Catatan Hari Pangan Keuskupan Surabaya</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SvhMW5N4abI/AAAAAAAABNs/ow6miCI0VNQ/s1600-h/P1070958.JPG"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 200px; DISPLAY: block; HEIGHT: 150px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5402151709230786994" border="0" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SvhMW5N4abI/AAAAAAAABNs/ow6miCI0VNQ/s200/P1070958.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SvhLYwBjVBI/AAAAAAAABNk/ScYzjzjVAq8/s1600-h/P1070957.JPG"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 200px; DISPLAY: block; HEIGHT: 150px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5402150641611265042" border="0" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SvhLYwBjVBI/AAAAAAAABNk/ScYzjzjVAq8/s200/P1070957.JPG" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SvhKcn1d-YI/AAAAAAAABNc/8PrjfC6Z9ww/s1600-h/pestistisida+6.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 200px; DISPLAY: block; HEIGHT: 140px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5402149608620947842" border="0" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SvhKcn1d-YI/AAAAAAAABNc/8PrjfC6Z9ww/s200/pestistisida+6.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SvhKKmSOc4I/AAAAAAAABNU/AlBMfHkr7Jg/s1600-h/pestisida+1.jpg"&gt;&lt;/a&gt;Pertanian organik, merupakan sebagian kecil dari trend hidup sehat. Hidup sehat tidak dimulai dari sepiring nasi di meja makan, namun dari tangan Pak Tani pula. Meskipun masih sedikit di antara kebanyakan yang lebih mementingkan hasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aspek sehat suatu tanaman ditentukan oleh pestisida. Pestisida organik, meski efeknya lebih lambat, namun lebih aman karena hanya membunuh hama sasaran dan menghasilkan produk pertanian yang aman untuk dikonsumsi. Beberapa jenis pestisida ramah lingkungan di antaranya adalah jus cabai yang bisa dimanfaatkan untuk mengusir hama wereng, jus daun mimba dan pepaya untuk mengusir lalat buah, ubi kayu yang direbus air kelapa untuk mengusir tikus, di mana ubi diletakkan di rongga-rongga sarang tikus. Jika termakan, tikus akan mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aspek sehat suatu tanaman ditentukan pula oleh pupuk. Pupuk yang sehat memberi kesuburan biologi tanah sehingga organisme yang ada di dalam tanah menjadi seimbang dan penguraian bahan organik tanah optimal. Tidak hanya itu, pupuk yang sehat berdampak pula pada kesehatan manusia yang memakan produk pertanian yang dihasilkan. Bahan dasar pembuatan kompos ini misalnya kotoran sapi, serbuk gergaji, sekam, jerami padi dan lain-lain yang didekomposisi dengan bahan pemacu mikroorganisme dalam tanah ditambah bahan untuk memperkaya kandungan kompos seperti abu dan kalsit / kapur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kotoran sapi, selain untuk pupuk bisa juga dipakai untuk menghasilkan biogas dengan peralatan yang sederhana. Bahan yang dibutuhkan konstruksi tabung digester bervariasi, bisa menggunakan plastik, fiber, drum plastik / plat dan tembok / cor. Yang terpenting, kondisi digester yang dibangun memenuhi persyaratan untuk tumbuh dan berkembangnya bakteri metanogenik, serta memungkinkan gas methananya dapat dipanen. Bahan baku utama biogas adalah kotoran sapi yang dicairkan dengan air, dengan perbandingan 11, kemudian dimasukkan ke tabung digester melalui pipa paralon sebagai corong pemasukan. Tabung ini tempat proses menghasilkan biogas. Bahan dimasukkan setiap hari, dengan hasil kotoran sapi dari empat ekor sapi akan menghasilkan gas metana (CH4) yang terbentuk pada digester dan pipa disambungkan ke tabung plastik yang merupakan tempat penampungan biogas. Dengan sedikit memodifikasi kompor gas, selang tabung digeseter dapat dihubungkan ke alat lain untuk berbagai keperluan. Karena, terbukti mekanisme itu terbukti membuat 1 meter kubik biogas setara dengan 1,75 kwh listrik, 0,46 kg elpiji, dan 0,62 liter minyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman kelompok tani Bumi Berseri yang mau belajar dan memulai, kiranya menjadi inspirasi. Cibiran dan kegagalan, termasuk ketika pulang pelatihan sempat ditahan Pak Polisi, tidak menjadi halangan untuk terus berjalan… &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5601930913131294630-6968436218227888837?l=pseks-organik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/6968436218227888837'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/6968436218227888837'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-organik.blogspot.com/2009/11/perjuangan-pak-tani-2-catatan-hari.html' title='Perjuangan Pak Tani (2), Catatan Hari Pangan Keuskupan Surabaya'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SvhMW5N4abI/AAAAAAAABNs/ow6miCI0VNQ/s72-c/P1070958.JPG' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5601930913131294630.post-3458974481716489011</id><published>2009-11-09T08:45:00.000-08:00</published><updated>2010-09-01T08:58:42.290-07:00</updated><title type='text'>Perjuangan Pak Tani, Catatan Hari Pangan Keuskupan Surabaya</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SvhI_7F8KhI/AAAAAAAABNE/knKhW1R_Rrw/s1600-h/06a.+jl+1.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 200px; DISPLAY: block; HEIGHT: 138px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5402148016062474770" border="0" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SvhI_7F8KhI/AAAAAAAABNE/knKhW1R_Rrw/s200/06a.+jl+1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SvhI_u1LTgI/AAAAAAAABM8/V7nV1PVglDg/s1600-h/13.+diserang+tikus+habis.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SvhI_ajfIzI/AAAAAAAABM0/oD1pFrZ4Ypc/s1600-h/09.+hama+keong+mas.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 200px; DISPLAY: block; HEIGHT: 136px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5402148007328031538" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SvhI_ajfIzI/AAAAAAAABM0/oD1pFrZ4Ypc/s200/09.+hama+keong+mas.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SvhI_DvP9TI/AAAAAAAABMs/lojGLVHhmro/s1600-h/03.+Untitled-Scanned-03.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 200px; DISPLAY: block; HEIGHT: 141px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5402148001203352882" border="0" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SvhI_DvP9TI/AAAAAAAABMs/lojGLVHhmro/s200/03.+Untitled-Scanned-03.jpg" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Acara Hari Pangan Keuskupan Surabaya yang diadakan di Paroki St. Cornelius, Madiun, Minggu, 8 Nov 2009 kemarin memberi kesempatan para petani berbagi kisah. Sebagaimana tema Hari Pangan kali ini, Menegakkan Kedaulatan Pangan - Petani Sebagai Subyek. Salah satunya, Kelompok tani Bumi Berseri yang berada di bawah naungan dan binaan Seksos Paroki St. Willibrordus, Cepu. Setelah bulan Februari lalu mengikuti pelatihan pertanian organik di Randusongo, Ngawi, dengan niatan mulia mempraktekkan cara bertani organik dengan metode SRI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada petak sawah yang tersedia, bertanam padi dengan model maju ini dilakukan. Sesudah 20 hari, hasilnya tanaman memberi harapan. Apalagi setelah 30 hari, rimbunan padi mencapai sekitar 30 batang anakan. Saat itulah hama pertama datang tak diundang, ialah keong emas yang meninggalkan telornya pada batang. Belum habis kegelisahan, burung-burung emprit tergoda memangsa padi yang mulai tumbuh. Sampai akhirnya, gerombolan tikus, hama khas area persawahan tepi Bangawan Solo berpesta di lokasi yang sama. Di sana sini, batang termakan habis. Namun tak kurang akal, area tanaman padi pun dikelilingi plastik penahan. Dasar tikus, memang benar-benar rakus, perlahan namun pasti memangsa bulir padi yang ditanam dengan metode SRI, yang mulai malai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukurlah, perjuangan di area lain membuahkan hasil, yaitu di sawah yang menggunakan sistem Jajar Legowo. Sistem ini bertujuan meningkatkan produktivitas pertanian, yang merupakan penanaman padi yang diatur sedemikian rupa dengan lorong atau ruang terbuka yang cukup lebar. Awalnya, benih ditanam dengan jarak lebar lorongan 35 cm, 20 cm dan 35 cm. Sedangkan panjangnya ditanam dengan jarak 12,5 cm. Pengaturan jarak tanam sangat erat hubungannya dengan tingkat kesuburan tanah dan jenis varietas yang akan ditanam yang sangat menentukan tingkat produktivitas pertanian saat panen. Tentu dengan tetap memperhatikan, pengolahan tanah yang bertujuan untuk menggemburkan dan memperbaiki struktur tanah serta membuang gulma-gulma serta pemilihan benih yang bermutu. Alhasil, beras organik dengan kekhasan tanpa pupuk dan tanpa pestisida kimia pun, meskipun sedikit masih dapat dihasilkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petani dari Paroki St. Paulus, Nganjuk, Bp. Sukino, mensharingkan bahwa sebenarnya hasil yang maksimal dapat dicapai jika diiringi doa. Terutama untuk menghindari hama tikus, ia menganjurkan petani bersandar pada keyakinan iman. Selama masa tanam hendaknya petani rajin berputar keliling petak sawah sambil berdoa Rosario, niscaya hama berlalu, demikian tipsnya. Dan itulah bedanya resep dari petani asli dengan resep dari petani yang pastor. Sampai jumpa pada Hari Pangan tahun depan...&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5601930913131294630-3458974481716489011?l=pseks-organik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/3458974481716489011'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/3458974481716489011'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-organik.blogspot.com/2009/11/perjuangan-pak-tani-catatan-hari-pangan.html' title='Perjuangan Pak Tani, Catatan Hari Pangan Keuskupan Surabaya'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SvhI_7F8KhI/AAAAAAAABNE/knKhW1R_Rrw/s72-c/06a.+jl+1.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5601930913131294630.post-7266340066832410031</id><published>2009-11-03T12:23:00.000-08:00</published><updated>2010-09-01T08:59:41.984-07:00</updated><title type='text'>Refleksi, Gereja Dan Pertanian</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SvCTuYEKR_I/AAAAAAAABME/GbmelymuwcQ/s1600-h/11460_1257497965689_1476825625_714914_741900_n.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 162px; DISPLAY: block; HEIGHT: 200px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5399978378160392178" border="0" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SvCTuYEKR_I/AAAAAAAABME/GbmelymuwcQ/s200/11460_1257497965689_1476825625_714914_741900_n.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Salah satu persolan besar dalam dunia pertanian di Indonesia adalah praktik yang sangat boros? Apa maksudnya? Asupan yang diberikan pada tamanaman dan pertanian–pestisida-pupuk, benih hibrida, mekanisasi pertanian-mengisap BBM-berlebihan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Harus diakui pertanian yang boros ini telah mengatasi beberapa persoalan kritis kehidupan manusia: mengurangi kelaparan, dan meningkatkan standar hidup yang rendah. Namum, pemecahan persoalan yang satu telah menimbulkan persoalan lain yang tidak kalah gawatnya. Input yang digelontorkan pada pertanian adalah sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui (misalnya minyak bumi). Cara bertani semacam ini membutuhkan modal besar dan sangat kapitalistik. Pengembangan varietas baru (padi, jagung, gandum) telah mengisap, kemudian menghancurkan lingkungan karena membutuhkan pupuk buatan dan pestisida dengan konsentrasi tinggi. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dari peristiwa tersebut di atas berlangsung keterkaitan erat antara ekologi (kerusakan lingkungan), ekonomi (kemiskinan) dan social politik (korupsi dan kolusi antar pemegang kekuasaan dan pengusaha). Sebuah komplikasi yang rumit dan sekaligus menantang siapa saja yang sedang mengusahakan perbaikan hidup ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Apakah Gereja juga memedulikan untuk bidang dan isu yang sedemikian penting ini? Ataukah ia hanya memperhatikan sambil lalu saja? Ia banyak berbicara dalam rapat –rapat tetapi terlalu sedikit berbuat? &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Data dan kisah sedih mengenai komplikasi petani dan pertanian di atas sudah banyak sekali diceritakan. Yang menjadi tantangan adalah bagaimana menyusun Pastoral, program, dan aksi yang menanggapi persoalan penting ini. Kalau Gereja mau terlibat dalam tantangan raksasa, pertama-tama ia tidak terjebak mengklim diri sebagai pahlawan segala-galanya yang dapat menolong dan dapat mengatasi persoalan ini. Klaim ini malah menjadi sumber kegagalan. Yang diharapkan dari Gereja dalah ketekunan dan kesetian hadir di tengah-tengah petani. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tentu bukan sembarang ketekunan dan kesetiaan. Gereja diharapkan hadir dengan pendekatan partisipatoris. Gereja member inspirasi dan motivasi agar daya tahan masyarkat dan pertanian bertumbuh dan berkembang dari dalam diri mereka sendiri. Hanya pemberi inspirasi karena masyarakat petani itu sendiri yang akhirnya mengambil inisiatif untuk melakukan pembaruan , dan Gereja menjadi teman dialog yang konstruktif. Subsidi diberikan kemudian jika disepakati oleh semua pihak. Jangan bayangkan konsep di atas itu mudah saja dipraktikkan. Tidak ada situasi dan problem yang komplek diatasi hanya dengan konsep dan teori yang ditulis di atas kertas. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Gereja sudah terbukti unggul dalam hal pendekatan pastoral: mendengarkan, membimbing, konseling. Tetapi ilmu dan ketrampilan tersebut belum cukup untuk dunia pertanian dan petani. Komunitas Gereja peduli pertania harus paham persoalan teknis. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Mendalami fenomena pertanian yang berkelanjutan dan mempunyai orientasi pada lingkungan Gereja membutuhkan beberapa pengetahuan sekular: sosiologi, ilmu pertanian lingkungan, dan pembentukan komunitas. &lt;em&gt;Skill&lt;/em&gt; ini penting agar ada langkah konkrit untuk keluar dari lingkaran poltik kapitalisme dunia pertanian. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Petani mampu digerakkan untuk bereksperimen teknologi-teknologi bercocok tanam baru yang ramah terhadap lingkungan. Tetapi sekali lagi membutuhkan ilmu-ilmu teknis, seperti ilmu iklim, tanah, biologi serangga dan sebagainya. Tantangan Gereja menjadi lebih besar karena petani selalu membutuhkan bukti konkret. Bahwa eksperimen ini sungguh memberikan harapan peningkatan kemakmuran untuk dirinya.Petani juga akan menjadi kuat bila ia bersatu dalam komunitas. Dengan demikian, dibutuhkan ilmu-ilmu sosial yang lebih spesifik, seperti teknik komunikasi, analisa sosial, dan organisasi. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi pendampingan pastoral saja tidak cukup. Cukup banyak ahli dalam gereja yang bisa merumuskan langkah-langkah pastoral itu dengan sangat baik. Tetapi yang kita butuhkan lebih dari itu. Yaitu datang, bertemu dan tinggal dengan petani. Ikut bersama mereka dalam duka dan kegembiraan, kecemasan dan harapan. &lt;em&gt;(Rm. Siprianus Yitno, Pr, pemerhati dan peminat bidang pertanian) &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5601930913131294630-7266340066832410031?l=pseks-organik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/7266340066832410031'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/7266340066832410031'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-organik.blogspot.com/2009/11/refleksi-gereja-dan-pertanian.html' title='Refleksi, Gereja Dan Pertanian'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SvCTuYEKR_I/AAAAAAAABME/GbmelymuwcQ/s72-c/11460_1257497965689_1476825625_714914_741900_n.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5601930913131294630.post-3546211970177711904</id><published>2009-10-31T14:17:00.000-07:00</published><updated>2010-07-30T14:19:01.587-07:00</updated><title type='text'>Petani Dipaksa Beli Pupuk Organik</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Petani di Desa Bandungrejo, Kecamatan Plumpang, Tuban mengeluhkan suliltnya mendapatkan pupuk bersubsidi dari Keluarga Kelompok Tani (Gapoktan) desa setempat. Pasalnya, kelompok tani sendiri juga kekurangan stok lantaran kesulitan mendapatkan pupuk bersubsidi dari distributor yang mengharuskan membeli pupuk organik merek petrogranik terlebih dulu sebelum mendapat jatah pupuk bersubsidi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian diungkapkan Edy Toyibi, Direktur Watu Tiban Center (WTC) setelah mendapat keluhan dari masyarakat petani, Jumat (30/10). “Para petani di sana mengeluh dan melaporkan permasalahan ini ke WTC. Padahal, pupuk bersubsidi adalah hak para petani,” tegas aktivis Tuban ini. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dijelaskan, untuk mendapatkan empat jenis pupuk bersubsidi, petani diwajibkan membeli pupuk petroganik sebanyak 50 sak, yang setiap saknya berharga Rp 25.000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jika tidak membeli pupuk petroganik, pihak distributor tidak akan mendistribusikan stok pupuk kepada petani. “Jelas ini pelanggaran. Pupuk bersubsidi adalah hak petani, tapi kenapa ada kewajiban untuk membeli petroganik dari distributor,” kata Edy. “Dan ini jelas tindakan kriminal karena ada unsur pemaksaan di dalamnya,” sambungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini sudah terjadi sejak beberapa waktu lalu, dan sejumlah petani yang sangat membutuhkan sudah ada yang nekat menuruti persyaratan tersebut karena tidak ada pilihan lain. Namun, karena keterbatasan ekonomi yang ada akhirnya para petani mulai resah dan menjerit akibat tekanan yang terjadi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, beberapa petani yang berhasil diwawancari Surya hanya berani mebenarkan kejadian itu namun tidak berani menjelaskan secara detail permasalahanya. “Hal itu memang terjadi. Tapi, saya tidak bisa menjelaskan banyak,” kata salah satu warga seperti ketakutan jika namanya dipublikasikan. Demikian halnya dengan Fauzan, selaku ketua Gapoktan Bandungrejo juga sama sekali tidak berani berbicara tentang permasalahan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terpisah, Inkoptan (induk koperasi tani) yang merupakan distributor pupuk di daerah Plumpang mengaku bahwa pemberian pupuk petroganik ke petani merupakan upaya pemerintah untuk mensosialisasikan dan membelajari petani menggunakan pupuk petroganik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak ada pemaksaan, mungkin masyarakat yang salah paham dengan system paket pupuk petroganik dengan pupuk kimia yang disubsidi itu. Tujuanya adalah untuk mengubah kebiasaan masyarakat menggunakan pupuk kimia yang membahayakan kesuburan tanah. Dan ini merupakan program pemerintah yang akan dijalankan pada 2010,” terang Muhammad Musa, pengawas Inkoptan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian halnya yang diungkapkan kepala Dinas Pertanian Pemkan Tuban Kusno Adiwiyoto. “Memang ada paket pupuk perpaduan pupuk kimia bersubsidi dan pupuk organik. Tujuanya adalah agar petani menggunakan pupuk organik untuk mengembalikan kesuburan tanah pertanian,” katanya. “Tapi, dalam hal ini sama sekali tidak ada paksaan,” tegasnya menambahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu sesuai dengan Peraturan Gubernur (Pergub) nomor 158 tahun 2008 yang ditindak lanjuti dengan Perturan Bupati (Perbub) nomor 4 tahun 2009. dimana dalam ketentuan disebutkan bahwa untuk tahun 2009 di Tuban didistribusikan pupuk organik sebanyak 3.824 ton, pupuk NPD 10.670 ton, ZA 4.173 ton, Superphos 6.892 ton dan pupuk urea sebanyak 50.900 ton. &lt;em&gt;(Surya Online, 31 Oktober 2009)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5601930913131294630-3546211970177711904?l=pseks-organik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/3546211970177711904'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/3546211970177711904'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-organik.blogspot.com/2009/10/petani-dipaksa-beli-pupuk-organik.html' title='Petani Dipaksa Beli Pupuk Organik'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5601930913131294630.post-1873164944982178277</id><published>2009-10-26T11:24:00.000-07:00</published><updated>2009-10-26T11:42:15.815-07:00</updated><title type='text'>Hari Pangan Sedunia XXIX - KWI: Kedaulatan Pangan, Petani Sebagai Subyek</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SuXsG8XFClI/AAAAAAAABL0/XSo7qkHUqKE/s1600-h/6.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 200px; DISPLAY: block; HEIGHT: 134px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5396979332499704402" border="0" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SuXsG8XFClI/AAAAAAAABL0/XSo7qkHUqKE/s200/6.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bertempat di Kompleks Studio Audio Visual Puskat, Yogyakarta para delegatus sosial Keuskupan se-Indonesia menghadiri acara Temu Delsos-Hari Pangan Sedunia, yang diadakan Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi Konferensi Waligereja Indonesia. Acara yang berlangsung pada 20-24 Oktober 2009 tersebut mengambil tema, Kedaulatan Pangan, Petani Sebagai Subyek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara diawali dengan misa pembukaan yang dipimpin oleh selebran utama, &lt;strong&gt;Mgr. Petrus Turang&lt;/strong&gt;, selaku Ketua Komisi PSE KWI, didampingi &lt;strong&gt;Rm. St. Bijanta, CM&lt;/strong&gt;, Sekertaris Komisi PSE-KWI dan &lt;strong&gt;Rm. Rosarius Sapto Nugroho, Pr&lt;/strong&gt;. Setelah santap malam bersama, Mgr. Petrus Turang menyampaikan paparan tentang Spiritualitas Hari Pangan Sedunia. Menurut beliau, gerakan HPS relevan dengan semangat kemurahan hati, belarasa dan solidaritas yang diteladankan Yesus sendiri. “Usaha ini memang tidak semudah karya karitatif, maka perlu dijalin kerjasama dengan siapapun, termasuk pendekatan kepada para pastor paroki, juga lembaga lain dalam Gereja seperti WKRI,Yayasan Pendidikan, Komisi Komunikasi Sosial serta siapapun yang berkehendak baik seperti para pemilik modal atau pemerintah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari kedua, &lt;strong&gt;Prof.Dr. Susetiawan&lt;/strong&gt;, Kepala Pusat Studi Pedesaan dan Kawasan, Universitas Gadjah Mada menyampaikan makalah, Meninjau Kembali Otonomi Desa, Kedaulatan Pangan dan Pemberdayaan. Beliau menyatakan bahwa saat ini kita berada dalam cengkeraman kekuatan ekonomi Internasional dalam arus neoliberalisme. Dampaknya, kehidupan publik tunduk pada logika pasar dan privatisasi. Seluruh kehidupan menjadi sumber demi laba korporasi sehingga kualitas kesejahteraan umum diabaikan. Perusahaan-perusahaan multinasional dan transnasional memojokkan negara berkembang sehingga kedaulatan negara terabaikan. Bentuknya antara lain, penghapusan dan pemotongan subsidi yang menjadikan petani sebagai korban dan dikorbankan. Martabat manusia pun direndahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sesi berikut, peserta yang terbadi dalam kelompok diajak untuk merefleksikan keadaan tersebut dengan beberapa elemen penting dalam kehidupan petani. Hasilnya, aneka poin penting yang harus diperhatikan jika hendak menuju kedaulatan pangan dan menempatkan petani sebagai subyek. Antara lain: perlunya memperkuat posisi petani dengan jejaring yang semakin solid di wilayah masing-masing, pengembangan kapasitas petani, animasi dengan memberikan Roh, semangat dan motivasi gerakan pertanian hingga advokasi yang membela posisi tawar petani, juga keberadaan benih serta spiritualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari ketiga, &lt;strong&gt;Rm. Teguh Santosa, Pr&lt;/strong&gt;, merangkum proses yang berjalan menjadi pijakan diskusi. Ia mengajak peserta memiliki persepsi yang sama bahwa kompetensi Gereja dalam rangka kedaulatan petani tak lain adalah kompetensi etis, yang membedakan dengan kompetensi teknis para penyuluh pertanian. Menghadapi petani yang tak berdaya dan sekedar menjadi obyek pembangunan, maka perlu kompetensi etis para delsos, sebagai animator dan fasilitator agar petani menjadi subyek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam paparan kelompok tentang kepemimpinan menjadi animator dan fasilitator ditemukan beberapa kata kunci, perlunya sikap dasar rendah hati, tidak menyerah, bertanggung jawab, menguasai materi, menghargai budaya, netral, peka, sabar, mampu menggalang gerakan, membuat komitmen serta kemampuan analisa dan refleksi. Pula, perlunya kemampuan dalam memfasilitasi yaitu, mampu memformulasikan, mengkristalisasi agar temuan mudah dipahami, mengatur waktu, menggunakan metode, merumuskan sasaran serta melakukan pelaporan, evaluasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari keempat, proses yang ditempuh untuk menempatkan petani menjadi subyek ialah dengan melalukan analisa &lt;em&gt;SWOT&lt;/em&gt;, baik secara internal dan eksternal disertai rekomendasi dan program bagi setiap Keuskupan. Masing-masing regio berkumpul dan melakukan analisa sesuai dengan keadaan nyata di tempatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para utusan Komis PSE Keuskupan Regio Jawa dalam analisanya menemukan beberapa hal. Kekuatannya: sumber daya Gereja hirarkis dengan jaringan meluas sampai ke bawah, refleksi iman menjadikan &lt;em&gt;concern&lt;/em&gt; pertanian organik sebagai yang terbaik, sumber daya modal: memiliki &lt;em&gt;Credit Union&lt;/em&gt; sumber modal yang bisa diakses untuk pertanian organik, produk organik dibutuhkan manusia (&lt;em&gt;trend &lt;/em&gt;organik), daya serap pasar tinggi, harga jual produk bersaing, quality control menjamin kepercayaan konsumen dengan adanya kode petani / tanggal kemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelemahannya, sumber daya Gereja memahami pertanian organik secara beragam, &lt;em&gt;concern&lt;/em&gt; pertanian organik belum terkomunikasikan secara luas dan tepat, kurangnya komunikator dan bahan sosialisasi pertanian organik tidak menyebut soal gaya hidup sehat dan keberpihakkan pada petani. Dan lagi, budaya makan &lt;em&gt;instant, junk food&lt;/em&gt;, menjadikan produk pertanian organik sebagai makanan kelas dua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peluang yang ada antara lain: sumber daya petani memiliki etos kerja pantang menyerah, fasilitator yang mengkomunikasikan pertanian organik dengan menarik. Sementara dari sumber daya petani masih berpikir soal ekonomis jangka pendek, belum soal essensi pertanian organik demi kelestarian dan keutuhan ciptaan. Sedangkan yang turut mendukung ialah program pemerintah di bidang pertanian berupa akses dana, pelatihan, pengembangan sumberdaya serta fasilitator dan sistem pemerintahan yang dapat dipakai untuk menyuarakan pertanian organik. Selain kebutuhan pangan masih tinggi, geliat &lt;em&gt;trend&lt;/em&gt; budaya kembali ke kearifan lokal dan gaya hidup sehat, didukung pula dengan pengembangan teknologi tepat guna berbasis kearifan lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa yang ditemukan sebagai ancaman gerakan pertanian organik yang menempatkan petani sebagai subyek adalah, sumber daya modal kurang, lahan sempit karena pewarisan tanah tidak digunakan untuk lahan pertanian, kebijakan pemerintahan yang membuat petani tidak independen seperti &lt;em&gt;import&lt;/em&gt; bahan pangan, sikap perusahaan besar mengobyekkan petani menjadi sekedar plasma, memonopoli pasar, mematikan kemandirian petani, konsumen yang mengeluh produk organik harganya mahal, kesinambungan stok lemah, pemalsuan produk yang menurunkan kepercayaan konsumen, tidak adanya &lt;em&gt;standar quality control&lt;/em&gt;, budaya konsumerisme yang menganggap &lt;em&gt;trendy&lt;/em&gt; makanan &lt;em&gt;instant&lt;/em&gt;, menjadikan makanan organik dan lokal sebagai makanan kelas dua. Dan teknologi pertanian tercerabut dari petani dan menjadi sarana bisnis dari para penguasa dan pemilik modal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari berbagai paparan tersebut direkomendasikan beberapa keputusan penting, ialah: perlunya Nota Pastoral tentang Pangan yang sehat dan berkeadilan, menciptakan para animator, fasilitator yang mampu mengkomunikasikan gerakan pertanian organik secara menarik, mendorong &lt;em&gt;Credit Union&lt;/em&gt; agar melayani kebutuhan para petani, memperbanyak produsen / produk pertanian sehat untuk memenuhi kesinambungan stok dengan pemanfaatan teknologi berbasis kearifan lokal dan mengembangkan jaringan antar produsen produk pertanian sehat untuk memenuhi ketersediaan pangan sehat. &lt;em&gt;(A. Luluk Widyawan, Pr)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5601930913131294630-1873164944982178277?l=pseks-organik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/1873164944982178277'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/1873164944982178277'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-organik.blogspot.com/2009/10/hari-pangan-sedunia-kwi-kedaulatan.html' title='Hari Pangan Sedunia XXIX - KWI: Kedaulatan Pangan, Petani Sebagai Subyek'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SuXsG8XFClI/AAAAAAAABL0/XSo7qkHUqKE/s72-c/6.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5601930913131294630.post-8634583966774703631</id><published>2009-08-21T14:50:00.000-07:00</published><updated>2010-07-30T14:53:21.202-07:00</updated><title type='text'>Budidaya Sawi Dan Kangkung Organik</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Sawi dan kangkung merupakan tumbuhan yang biasanya dijadikan sayuran dalam setiap menu masakan. Bagian yang paling sering dijadikan sayur adalah daunnya. Kebutuhan akan sawi dan kangkung tidak akan pernah habis. Oleh karenanya diperlukan sebuah pembudidayaan secara terus menerus. Salah satu budidaya sawi dan kangkung dapat kita jumpai di Desa Wringinanom Kecamatan Tongas. Budidaya sawi dan kangkung yang diciptakan oleh Kelompok Tani ”Abdi Sentosa” di bawah binaan PPL Kecamatan Tongas ini tidak menggunakan pupuk organik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Selama ini masyarakat sini hanya menggantungkan diri kepada tanaman pangan. Dimana hasilnya belum tentu menguntungkan dan harus menunggu lama untuk satu kali panen. Namun jika mencoba inovasi baru budidaya sawi dan kangkung, dalam satu kali tanam kita bisa panen berkali-kali. Intinya, budidaya sawi dan kangkung ini hasilnya cukup menjanjikan,” jelas Koordinator PPL Kecamatan Tongas Mualim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan (BKP3) Kabupaten Probolinggo Hasyim Ashari mengatakan inovasi budidaya tanaman hortikultura terutama sawi dan kangkung ini merupakan salah satu terobosan baru yang diciptakan oleh PPL Kecamatan Tongas. Terbukti, program ini dapat menyerap tenaga kerja. Sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. “Kita akan terus memberi motivasi kepada PPL untuk terus mengembangkan ide kreatifnya. Langkah ini merupakan salah satu cara untuk meningkatkan ketahanan pangan, terutama di daerah yang rawan pangan,” ujar Hasyim Ashari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Ketua Kelompok ”Abdi Sentosa” Desa Wringinanom Mahmudi didampingi PPL Pendamping Desa Wringinanom Dartono mengatakan melalui upaya budidaya tanaman hortikultura utamanya sawi dan kangkung ini, pendapatan masyarakat semakin bertambah. Sebab inovasi ini mampu menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar. “Saat ini kami sudah bekerja sama dengan dua rumah makan besar di Probolinggo. Setiap hari kita mengirim 24 Kg sawi dan 15 Kg kangkung ke satu rumah makan. Kalau dua rumah makan berarti tinggal dikalikan dua saja,” terang Mahmudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahan yang dimiliki Kelompok Tani ”Abdi Sentoso” Desa Wringinanom seluas 3 hingga 4 hektar. Membudidayakan tanaman sawi dan kangkung ternyata lebih menjanjikan jika dibandingkan tanaman pangan. Secara analisa Mahmudi menjelaskan untuk lahan seluas 380 m2, jika ditanami padi akan memperoleh beras sebanyak 1,2 kwintal. Itupun harus menunggu sekitar tiga bulan untuk bisa panen. Belum lagi perawatannya dan biaya-biaya yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jika dihitung, dalam masa satu kali panen padi, kita akan mendapatkan penghasilan bersih sebesar Rp. 1,2 juta. Bandingkan dengan tanaman sawi. Dalam ukuran luas yang sama, dalam satu kali tanam, kita hanya membutuhkan sebesar Rp. 657 ribu. Namun setelah panen, kita akan mendapatkan keuntungan sebesar Rp. 2,5 juta. Tanaman sawi hanya membutuhkan waktu 25 hari untuk bisa dipanen. Jika dibandingkan dengan padi, hasilnya sangat jauh. Disini juga waktunya lebih efisien dan singkat,” jelas Mahmudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sama juga terjadi pada tanaman kangkung darat. Dalam satu kali tanam, dibutuhkan biaya sebesar Rp. 692 ribu. Namun setelah dipanen akan diperoleh keuntungan sebesar Rp. 2,4 juta. Padahal dalam satu kali tanam, kangkung bisa panen lebih dari satu kali. Umur masa panen tanaman kangkung sama dengan tanaman sawi. “Budidaya tanaman sawi dan kangkung ini dapat membantu perekonomian masyarakat Desa Wringinanom Kecamatan Tongas,” lanjut Mahmudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Mahmudi, sebelum menanam sawi ataupun kangkung, terlebih dahulu tanah diolah dan dibuat bedeg dengan lebar satu meter dan panjang disesuaikan dengan panjang lahan. Setelah itu tanah diratakan hingga halus dan ditaburi pupuk organik. Selanjutnya, lahan tersebut diairi dan didiamkan selama satu minggu. Setelah itu benih sawi bisa langsung ditaburi. ”Supaya taburannya rata, kita biasanya mencampurinya dengan pasir. Setelah satu minggu, jika ada yang terlalu rapat kita pindahkan. Setelah 25 hari kita sudah dapat panen sawi. Untuk ukuran lahan seluas 380 m2, kita membutuhkan benih sebanyak 300 gram,” tambah Mahmudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal serupa juga dilakukan dalam budidaya tanaman kangkung. Setelah diairi dan didiamkan selama satu minggu, benih kangkung tersebut kita tancapkan ke lahan dengan jarak antara 15 hingga 20 cm. ”Dalam budidaya tanaman ini, kita selalu mengedepankan kualitas tanaman yang dihasilkan. Oleh karenanya kita menggunakan pupuk organik dari pada pupuk an organik,” ungkap Mahmudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman sawi dan kangkung yang menggunakan pupuk organik rasanya lebih enak dan punel, lebih tahan disimpan dan tidak mudah layu. Selain itu, juga tidak mudah patah. ”Budidaya tanaman sawi dan kangkung ini telah banyak membantu meningkatkan pendapatan masyarakat Desa Wringinanom, terutama yang tergabung dalam Kelompok Tani Abdi Sentosa. Mudah-mudah, pasar penjualan sawi dan kangkung ini bisa lebih luas lagi,” harap Mahmudi. &lt;em&gt;(Probolinggokab.go.id)&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5601930913131294630-8634583966774703631?l=pseks-organik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/8634583966774703631'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/8634583966774703631'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-organik.blogspot.com/2009/08/budidaya-sawi-dan-kangkung-organik.html' title='Budidaya Sawi Dan Kangkung Organik'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5601930913131294630.post-1375364280093778654</id><published>2009-07-29T14:30:00.000-07:00</published><updated>2010-07-30T14:33:04.851-07:00</updated><title type='text'>Referensi Organik Di Jawa Timur</title><content type='html'>Organik Healthy Choice&lt;br /&gt;Jl. Bukit Darmo Boulevard B9-10&lt;br /&gt;031-7320018 .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yayasan Kaliandra Sejati&lt;br /&gt;Jl Serayu No 4 Surabaya&lt;br /&gt;031-5682912&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkebunan Organik. Dusun Gumoh, Desa Dayurejo, Prigen, Pasuruan.&lt;br /&gt;0343-6152578&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mitra Bumi Indonesia&lt;br /&gt;Jl Karang Empat IV/17 Surabaya.&lt;br /&gt;031-3817567&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah Gizi Natural Green&lt;br /&gt;Jl Raya Kendangsari 33 A Surabaya.&lt;br /&gt;031-8436010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kinagro&lt;br /&gt;Jl Babatan Pilang HI/12A Surabaya.&lt;br /&gt;031-70297408&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PPLH&lt;br /&gt;(Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup) Jatim Desa Seloliman, Trawas,&lt;br /&gt;Mojokerto. 0321-618752&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5601930913131294630-1375364280093778654?l=pseks-organik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/1375364280093778654'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/1375364280093778654'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-organik.blogspot.com/2009/07/referensi-organik-di-jawa-timur.html' title='Referensi Organik Di Jawa Timur'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5601930913131294630.post-5894281287922116116</id><published>2009-05-23T14:23:00.000-07:00</published><updated>2010-07-30T14:25:17.556-07:00</updated><title type='text'>Mentan Resmikan Pabrik Di Madura</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Menteri Pertanian (Mentan), Anton Apriantono, meresmikan pabrik pupuk organik super “Petroganik” di Desa Saronggi, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, Jumat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peresmian pabrik pupuk organik super tersebut, secara simbolis dilakukan Mentan, dengan menandatangani prasasti.”Dengan mengucap ‘Bismillahirrahmanirrahim’, saya resmikan pabrik pupuk organik super di Sumenep, PT Sumekar Abdi Sejahtera. Semoga bermanfaat,” katanya di Sumenep.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menjelaskan, petani Indonesia terlalu lama dan banyak mengandalkan pupuk kimia. “Akibatnya, unsur organik di lahan pertanian Indonesia semakin berkurang, dan akhirnya mengakibatkan tingkat kesuburannya semakin rendah,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solusinya, katanya, petani harus kembali memperbanyak penggunaan pupuk organik, agar unsur organik yang bisa meningkatkan kesuburan lahan pertanian bisa berkembang maksimal.&lt;br /&gt;“Saya berharap petani kembali ke hal tradisional, dalam hal ini, memperbanyak penggunaan pupuk organik, dan mulai mengurangi pupuk kimia,” katanya mengungkapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga menjelaskan, pupuk kimia tetap dibutuhkan, hanya saja porsinya harus dikurangi. Setelah meresmikan pabrik pupuk tersebut, Mentan melakukan temu wicara dengan 400 petani yang merupakan perwakilan kelompok tani se-Sumenep. Sebelum meresmikan pabrik pupuk, Ia sempat melihat produk pertanian unggulan di Sumenep yang dipajang di saung tersendiri, di kawasan pabrik pupuk tersebut. &lt;em&gt;(Surya Online, 23 Mei 2009)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5601930913131294630-5894281287922116116?l=pseks-organik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/5894281287922116116'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/5894281287922116116'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-organik.blogspot.com/2009/05/mentan-resmikan-pabrik-di-madura.html' title='Mentan Resmikan Pabrik Di Madura'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5601930913131294630.post-2015643587306872143</id><published>2009-04-23T14:15:00.000-07:00</published><updated>2010-07-30T14:16:44.601-07:00</updated><title type='text'>Konsumsi Pupuk Organik Masih Rendah</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Konsumsi pupuk organik di Jatim terbilang masih sangat rendah dibandingkan konsumsi pupuk anorganik. Padahal, pupuk berbahan dasar organik (sampah maupun kotoran hewan) punya keuntungan jangka panjang lebih unggul. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sigit Agung Himawan, Director PT Komposindo Granular Arendi, pemilik merk dagang pupuk Rabog mengatakan, market share pupuk organik di Jatim masih sangat kecil. Secara nasional, share-nya baru di kisaran 1 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya, peluang menggarap bisnis pupuk organik ini masih sangat besar. Apalagi Indonesia punya bahan baku organik melimpah,” jelas Sigit, usai gathering Ikatan Alumni ITS di Gedung Rektorat ITS, Selasa (21/4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandingkan dengan bahan baku pupuk anorganik yang sebagian besar masih ketergantungan impor, khususnya phosphat dan kalium. Sigit optimistis jika konsumsi pupuk organik akan terus naik dari tahun ke tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebutuhan pupuk nasional, baik organik maupun anorganik, harusnya mencapai 20 juta ton per tahun. Namun, saat ini baru ter-cover seperempatnya. Untuk suplai pupuk anorganik rata-rata bisa sampai 1,5 juta ton dan pupuk organik 3 juta ton per tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diakuinya, pupuk organik saat ini memang belum jadi primadona bagi para petani. Ini karena penggunaan pupuk organik lebih boros. Tak heran jika pangsa pasarnya masih rendah. “Sebagai pembanding, untuk lahan seluas satu hektare jika menggunakan pupuk anorganik hanya membutuhkan tiga kilogram. Tapi jika menggunakan pupuk organik lahan butuh pupuk 2 ton,” jelas Sigit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait harga jual pupuk organik, lanjut Sigit, sebetulnya beda tipis. Untuk kemasan 40 kg dijual Rp 60.000, per kg dihargai Rp 1.500. Sedangkan pupuk anorganik bersubsidi dijual eceran Rp 500 per kg. Untuk pupuk anorganik yang non-subsidi ada yang dijual Rp 1.700 per kg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari lima pabrik PT Komposindo Granular Arendi, baru mampu menghasilkan 150 ton per hari. “Tiap pabrik baru menghasilkan rata-rata 30 ton pupuk organik per hari. Jadi, total produksi per bulan tak kurang dari 4.500 ton,” kata Sigit, yang berencana buka pabrik di Nganjuk dan Lampung akhir 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Asosiasi Distributor Pupuk Jatim Agung Wahyudi menambahkan, peluang menggarap pupuk organik masih sangat besar. Petani bisa memproduksi sendiri dengan bahan baku yang melimpah dan teknologi yang lebih sederhana. “Trennya saat ini mengarah ke pupuk organik,” ujar Agung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, stok pupuk di Jatim sendiri sampai saat ini masih aman. Apalagi dengan adanya pupuk organik, maka stok pupuk secara umum sangat terbantu. Kebutuhan pupuk anorganik di Jatim sepanjang 2008 mencapai 1,1 juta ton. Diharapkan sampai akhir 2009 bisa tembus 1,3 ton. &lt;em&gt;(Surya Online, 22 April 2009) &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5601930913131294630-2015643587306872143?l=pseks-organik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/2015643587306872143'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/2015643587306872143'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-organik.blogspot.com/2009/04/konsumsi-pupuk-organik-masih-rendah.html' title='Konsumsi Pupuk Organik Masih Rendah'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5601930913131294630.post-4038714031539515141</id><published>2009-03-18T14:54:00.000-07:00</published><updated>2010-07-30T14:56:02.506-07:00</updated><title type='text'>Padi Organik, Sumber Kesejahteraan ?</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Petani selalu dipuja karena produksi mereka menjadi tumpuan kehidupan hampir semua orang. Namun ironisnya, sebagian besar dari petani masih menyandang predikat sebagai penduduk miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai negara agraris, mata pencaharian sebagai petani juga cukup mendominasi di sejumlah daerah, termasuk di antaranya Kabupaten Kudus, Jateng. Di daerah ini, sebagian besar wilayahnya merupakan areal pertanian, dengan luas tanam untuk padi hingga 19.920 hektare, setiap masa tanam (MT).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luas areal tersebut dapat memproduksi sebanyak 116.472 ton gabah kering giling, atau 63.680 ton beras. Meskipun menjadi penupang kehidupan ribuan orang, mata pencaharian petani nyatanya belum menjanjikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asa petani mulai muncul dengan pengembangan tanaman padi organik mengingat harga beras organik bisa mencapai Rp 7.000/kg. Harga beras nonorganik berkisar antara Rp 4.000/kg hingga Rp 5.000 /kg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untuk mengubah pola berfikir petani memang susah. Perlu kesabaran dan ketekunan," ujar Sekretaris Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kudus, Hadi Sucahyono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebagian besar petani berfikir pragmatis dan sulit diubah meski itu untuk kepentingan mereka," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menambahkan, percobaan pengembangan tanaman padi organik di Kecamatan Undaan dilakukan sejak 2004 dengan luas areal sekitar dua hektar dari tanah bengkok di Desa Undaan Kidul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil yang dicapai pada tahun lalu per hektar mencapai 4-4,5 ton gabah kering panen, dengan harga jual per kilogram beras mencapai Rp 7.000, sementara harga beras biasa hanya Rp 4.000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, biaya operasional dibanding padi konvensional lebih murah, per hektar hanya Rp 500 ribu, sedangkan sawah konvensional bisa mencapai dua kali lipatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, percobaan saat itu baru mencapai 75 persen menggunakan pupuk organik, karena saluran irigasinya masih tercemar oleh sawah konvensional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara penggunaan pestisida untuk memberantas hama petani setempat diubah dengan memanfaatkan lengkuas, jahe, daun sirsak, dan abu dapur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usia tanam, katanya, tidak ada perbedaan yang signifikan, sama dengan sawah konvensional, yakni sekitar 110 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Awalnya, yang ditanam baru varietas chi herang. Rencananya sesuai permintaan akan ditanam jenis varietas umbu," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengatakan, kendala utama agar petani berani beralih menanam padi organik adalah pemasarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan pemasaran hingga kini belum terselesaikan dalam mengembangkan tanaman padi organik, meski diklaim lebih baik bagi kesehatan dan lebih ramah lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berharap, sejumlah pihak, terutama pemerintah setempat bersedia membantu pemasaran beras organik yang dihasilkan para petani. "Setidaknya para petani mendapatkan fasilitas untuk memasarkannya hingga ke sejumlah supermarket," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab, kata dia, pangsa pasar beras organik terbatas pada kalangan ekonomi kelas menengah ke atas, mengingat harga beras organik per kilogram mencapai Rp 7.000/kg. Sedangkan harga beras nonorganik berkisar antara Rp 4.000 hingga Rp 5.000/per kg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelan tapi pasti, petani di sejumlah daerah di Kabupaten Kudus mulai melirik tanaman padi organik, mengingat persoalan pasokan pupuk yang sering kali terlambat dan mengalami kelangkaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, luas areal di Kecamatan Undaan bertambah menjadi lima hektar, sementara di daerah lainnya, seperti di Desa Bulungcangkring muncul areal baru seluas dua hektar dan di Hadipolo seluas satu hektar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat respon petani yang tertarik mencoba padi organik untuk meningkatkan derajat hidup mereka, Dinas Pertanian Kudus pun kini mulai rajin menggelar pelatihan untuk para petani tentang teknik menanam padi organik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setidaknya, para petani memiliki bekal untuk lebih meningkatkan penghasilannya di bidang pertanian," kata Kabid Tanaman Pangan Dinas Pertanian, Peternakan dan Kelautan Kudus, Bambang Arnowo. &lt;em&gt;(Inilah.com, 18 Maret 2009)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5601930913131294630-4038714031539515141?l=pseks-organik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/4038714031539515141'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/4038714031539515141'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-organik.blogspot.com/2009/03/padi-organik-sumber-kesejahteraan.html' title='Padi Organik, Sumber Kesejahteraan ?'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5601930913131294630.post-5136192831346837931</id><published>2009-02-21T14:19:00.000-08:00</published><updated>2010-07-30T14:22:58.807-07:00</updated><title type='text'>Gagas Pendirian Pabrik Pupuk Organik</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Lantaran kecewa mendapat alokasi pupuk organik yang sangat sedikit, Pemkot Batu berniat membuat pabrik pupuk organik sendiri. Lewat pabrik ini diharapkan, kebutuhan petani Batu akan pupuk dapat tercukupi semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untuk pupuk anorganik, alokasinya cukup banyak dan sudah mencukupi. Hanya saja untuk kebutuhan pupuk organik masih kurang,” beber Eko Suhartono, Kepala Bagian Humas dan Protokoler Pemkot Batu, Jumat (20/2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekadar diketahui, kebutuhan pupuk organik selama setahun di Kota Batu rata-rata mencapai 142.699 ton. Namun suplai yangditerima petani dari Petrokimia Gresik hanya 84 ton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Kabag Perekonomian, Dr Achmad Samuji, ke depan pemkot tak bisa lagi terlalu bergantung terhadap pasokan pupuk organik dari Petrokimia Gresik. Karena itu, inisiatif membangun pabrik sendiri muncul. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;”Pemkot membuka pintu seluas-luasnya bagi swasta untuk mendirikan pabrik organik di Kota Batu. Tak hanya izinnya yang akan kami jamin, tapi juga pemasarannya. Setidaknya kami bisa menyediakan pupuk organik bersubsidi jauh lebih banyak,” aku Samuji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memudahkan pendirian pabrik dan penyediaan tenaga kerja, kata Samuji, pihak swasta bisa bekerja sama dengan KUD. Pemkot menjamin akan membeli pupuk yang dihasilkan dengan harga yang sama seperti dibeli dari Petrokimia dan akan menjualnya ke petani dengan harga yang lebih murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini peluang bisnis baru. Biasanya, kami membeli dari Petrokimia Rp 1.200 per kg dan dijual Rp 500/kg ke petani. Kami berharap KUD di Kota Batu menangkap peluang bisnis ini agar petani tak lagi kekurangan pasokan pupuk organik,” tandasnya.st11&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suplai dan Bebutuhan Pupuk di Kota Batu antara lain, jenis pupuk dan kebutuhan (ton) suplai dari Petrokimia yaitu: Urea 1.051 1.051, ZA 3.971 3.971, Phonska 2.475 2.475, Pupuk Organik 142.699 84 sebagaimana sumber di Bagian Perekonomian Pemkot Batu 2009. &lt;em&gt;(Surya Online, 21 Februari 2009)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5601930913131294630-5136192831346837931?l=pseks-organik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/5136192831346837931'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/5136192831346837931'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-organik.blogspot.com/2009/02/gagas-pendirian-pabrik-pupuk-organik.html' title='Gagas Pendirian Pabrik Pupuk Organik'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5601930913131294630.post-7059558941363427365</id><published>2008-12-09T14:13:00.000-08:00</published><updated>2010-07-30T14:14:48.228-07:00</updated><title type='text'>Pupuk Organik Tak Diminati Petani</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Meskipun saat ini pupuk sedang langka, pupuk organik yang diproduksi Ikatan Petani Pengandali Hama Terpadu (IPPHT) Kabupaten Madiun, Jawa Timur, tak diminati petani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koordinator IPPHT Kabupaten Madiun, Kaslan mengatakan, petani sudah terbiasa menggunakan pupuk unorganik sehingga pupuk yang dibuat oleh IPPHT itu kurang diminati, Senin (8/12).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Padahal pupuk yang ada selama ini tidak ramah lingkungan,” katanya saat ditemui di Desa Tiron, Kabupaten Madiun, Jatim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaslan menyayangkan sikap petani kini sudah tidak lagi memperhatikan masalah lingkungan sehingga banyak lahan di daerahnya itu kurang produktif. “Para petani sudah telanjur dimanjakan pupuk kimia,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, pihak Kaslan gencar melakukan sosialisasi penggunaan pupuk organik buatan IPPHT, namun hingga saat ini belum menunjukkan adanya peningkatan pengguna pupuk organik tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, petani sudah enggan berpindah dari pupuk kimia ke pupuk organik karena sudah telanjur menjadi budaya yang disosialisasikan pemerintah pada era Evolusi Hijau dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal menurut penelitian Kaslan, pupuk organik lebih ramah lingkungan dan dapat diproduksi dengan biaya murah, bahkan kualitas dan hasil tanaman tidak kalah dengan pupuk kimia. Sedang pembuatan pupuk organik sendiri tidak sulit. “Bisa dilakukan dengan menggunakan metode Ferinsa (fermentasi urin sapi) dengan mencampurkan 25 liter urin sapi ke dalam satu liter air gula dan empon-empon. Kemudian difermentasikan selama dua minggu, pupuk cair tersebut siap digunakan,” katanya menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini pupuk buatan IPPHT itu hanya digunakan oleh kalangan terbatas seperti petani tanaman hias yang mempunyai kesadaran tinggi terhadap masalah lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaslan berharap agar pemerintah menghapuskan subsidi pupuk untuk memberikan kesadaran kepada para petani agar beralih menggunakan penggunaan pupuk organik. &lt;em&gt;(Surya Online, 8 Desember 2008)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5601930913131294630-7059558941363427365?l=pseks-organik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/7059558941363427365'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/7059558941363427365'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-organik.blogspot.com/2008/12/pupuk-organik-tak-diminati-petani.html' title='Pupuk Organik Tak Diminati Petani'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5601930913131294630.post-6418355985198735632</id><published>2008-10-28T14:42:00.000-07:00</published><updated>2010-09-01T09:01:39.934-07:00</updated><title type='text'>Menimbang Pilihan Organik</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Sejumlah riset menunjukkan sayuran dan buah-buahan mengandung lusinan jenis zat berbahaya. Walhasil, rasanya benar apa yang dilontarkan oleh aktor Hollywood, Aaron Eckhart, dalam film &lt;em&gt;Thank You for Smoking&lt;/em&gt;. Dia menyatakan, label berbahaya seharusnya tidak hanya tertera pada rokok, tapi juga sayuran dan buah-buahan yang jelas-jelas mengandung pestisida. Bahkan juga jenis minuman dan makanan yang, meski sudah dicap aman untuk kesehatan, tak lepas dari bahaya, seperti susu dari Tiongkok yang mengandung melamin, dan mi plus formalin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilihan pun jadi serba sulit. Niat sehat tak selalu berbuah manis. Para ilmuwan dari National &lt;em&gt;Academy of Science&lt;/em&gt;, Amerika Serikat, pun mengungkapkan bahwa jenis pestisida, yakni organofosfat, organoklorin, serta kombinasinya, dalam jangka panjang terbukti menyebabkan kerusakan sistem saraf, gangguan hormon, cacat pada janin, kanker, dan mengganggu sistem imun dalam tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak mengherankan, masyarakat di perkotaan pun ramai-ramai melirik produk berlabel organik. Bahkan di negara maju, tingkat pembelian produk jenis ini melonjak. Di Negeri Abang Sam, industri organik tumbuh 17-20 persen per tahun. Sedangkan pertumbuhan industri makanan konvensional hanya berkisar 2-3 persen per tahun lantaran warga negeri tersebut menggunakan 50-100 persen bahan organik untuk kebutuhan dapurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah semua harus serba organik? Sejumlah pakar menemukan sejumlah buah-buahan dan sayuran yang mengandung bahan kimia. Meski dicuci, tetap mengandung level residu pestisida yang tinggi, terutama pada apel, anggur, bayam, dan kentang. Namun, hal itu tidak berlaku bagi jenis lain, seperti pisang, mangga, atau jagung. Artinya, kita tak harus mencomot yang serba organik. Dengan rata-rata harga bahan organik yang lebih tinggi, ada baiknya kita pintar-pintar berstrategi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahli terapis organik dari &lt;em&gt;Healthy Choice&lt;/em&gt; Kemang, Angela Ardhianie, menyebutkan definisi sederhana produk organik, yakni produk yang pada proses penanaman (sayuran) dan pengolahannya (daging) tidak menggunakan bahan kimia atau zat-zat berbahaya. Namun, Angela mengakui, masih ada kekurangan pada produk organik, misalnya bentuk sayuran yang tidak menarik dan banyak yang berlubang karena dimakan ulat dan serangga. "Predator memang dibiarkan memakan sayuran itu," paparnya dalam acara "Demo Masak Menggunakan Material Organik", di Pacific Place, Jumat lalu. Belum lagi, dalam prosesnya, butuh tenaga manusia yang lebih banyak buat pengawasan dan waktu yang lebih lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, kata Angela, istilah makanan organik itu tidak sepenuhnya mengacu pada obyek makanan, tapi lebih spesifik lagi, karena menyangkut gaya hidup dalam pengolahan makanan mentah menjadi siap saji. Contoh riilnya, banyak orang tetap menggunakan panci atau wajan berlapis teflon yang sudah terkelupas atau tergores. Kondisi ini, menurut dia, sangat berbahaya karena gas bakal tembus ke makanan dan sangat mungkin masuk ke perut. "Bisa mengakibatkan brain damage dan kanker ginjal," ucapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Indonesia juga masih sering mengkonsumsi makanan yang berulang-ulang dihangatkan. "Dimasak, digoreng, direbus, kemudian dipanasi lagi esoknya. Bahkan ada yang berhari-hari," ujar Angela. Karena itu, kata dia, masyarakat sudah harus menaruh perhatian pada pilihan makanan. Dua ribu tahun yang lalu, figur medis terkemuka sepanjang sejarah, Hippocrates, pernah mengungkapkan, makanan itu menjadi obat Anda dan biarkan obat menjadi makanan Anda. Jadi sekarang, semua itu terpulang pada masing-masing orang. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tak Selalu Perlu Organik!&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Yang wajib&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Buah-buahan: apel, ceri, anggur, pir, stroberi, raspberi&lt;br /&gt;2.Sayuran: sayuran hijau seperti bayam, kentang. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tidak Perlu&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;1.Buah-buahan: pisang, kiwi, mangga, pepaya, nanas.&lt;br /&gt;2.Sayuran: asparagus, alpukat, brokoli, kembang kol, jagung, bawang, kacang polong. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ragam Organik&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;1. 100 persen organik. Bila yang tertera dalam kemasan makanan bertulisan seperti itu, berarti bahan-bahan itu benar-benar 100 persen organik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Organik. Bila hanya tercantum satu kata ini, ada kemungkinan kandungan bahan organiknya paling sedikit 95 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Mengandung bahan organik. Jika kata-kata ini yang tercantum dalam label, kandungan bahan organiknya sekitar 75 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Standar Makanan Organik&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;1. Bebas pestisida&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tanpa penyubur tanaman yang terbuat dari bahan sintetis atau limbah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Bebas herbisida.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Tanpa antibiotik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Menggunakan teknik pengolahan alami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Tanpa tambahan hormon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Tidak menggunakan radiasi. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;(Koran Tempo, 28 Oktober 2008)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5601930913131294630-6418355985198735632?l=pseks-organik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/6418355985198735632'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/6418355985198735632'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-organik.blogspot.com/2008/10/menimbang-pilihan-organik.html' title='Menimbang Pilihan Organik'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5601930913131294630.post-5843354348678208170</id><published>2008-07-07T11:32:00.000-07:00</published><updated>2010-09-01T09:02:42.174-07:00</updated><title type='text'>Alternatif Makanan Non Beras</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Harga beras yang melonjak naik menembus angka Rp 6.000 membuat pusing ibu-ibu rumah tangga. Di Kota Solo, Jawa Tengah, misalnya, harga beras jenis IR 64 atau C4 yang tadinya di bawah Rp 5.000 dari hari ke hari terus meroket seakan tak terkendali.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Meskipun kini ada operasi pasar (OP) dengan harga Rp 3.700 per kg, dampaknya tidak serta merta dirasakan masyarakat. Walaupun harga beras di tingkat pedagang seperti di Pasar Legi sudah turun, di tingkat eceran masih tetap tinggi.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kondisi itu mendorong ibu-ibu di Kelurahan Kadipiro, Kota Solo, mengampanyekan makanan nonberas. Senin (26/2), ibu-ibu tim penggerak PKK yang tergabung dalam Kelompok Kerja (Pokja) III Kelurahan Kadipiro menggelar "Lomba Masak Makanan Nonberas" di Kantor Kelurahan Kadipiro.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam lomba ini, masing-masing kelompok PKK yang mewakili beberapa rukun warga (RW) membuat makanan dari bahan bukan beras. Ada yang membuat tiwul (hasil olahan dari tepung ubi kayu melalui proses tradisional) goreng, tiwul urap (sayur-sayuran), nasi jagung urap, dan nasi dari singkong.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Karena tujuannya memang untuk mencari alternatif makanan pokok nonberas, setiap makanan disajikan lengkap dengan lauk pauknya, seperti telor, ayam, tempe, tahu, krupuk, dan juga sayur. Bahkan, ada yang membuat puding dari jagung.Selain bahannya mudah didapat, harga bahan makanan sumber karbohidrat nonberas itu juga murah. Nasi jagung plus sayur urap dan tempe yang dibuat Ny Ariyani (35), warga RT 03/RW 07 Kelurahan Kadipiro, misalnya, hanya menghabiskan bahan Rp 7.000. Padahal, makanan yang dibuatnya cukup untuk makan kenyang lima orang.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bahan yang digunakan adalah 0,5 kg tepung jagung seharga Rp 1.500 ditambah sayuran dan bumbu masak lainnya seharga Rp 5.500."Dengan harga beras sekarang, uang segitu hanya dapat beras satu kilo. Sisanya tinggal seribu. Untuk beli kalau dibelanjakan sayur saja tidak cukup," ujar ibu-ibu yang lain.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Harus dibiasakanAtas hasil karya para ibu-ibu itu, Ketua Pokja III Kelurahan Kadipiro Muryati menyatakan, "Rasanya tidak kalah lezat dari nasi." Hanya, masyarakat memang sudah tidak lagi terbiasa. Sudah biasa makan nasi.Untuk kembali membiasakan makan makanan nonberas, Lurah Kadipiro Naniek Suprijatmi Urip Rejeki minta tim penggerak PKK terus berkampanye.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pasalnya, di masyarakat Jawa, makanan nonberas sebagai sumber kalori sebenarnya pernah menjadi kebiasaan. Sekarang pun masih ada masyarakat yang melakukannya. Warga di lereng Gunung Merbabu, Magelang, misalnya. Hari Rabu pekan lalu, Kompas sempat mencicipi nasi jagung yang disajikan keluarga Tarjosardi (57) di Dusun Semampiran, Desa Ketunden, Kecamatan Pakis.Puluhan warga yang sedang bergotong-royong memperbaiki rumah Tarjosardi terlihat lahap menyantap nasi jagung dengan lauk lodeh tempe dan mangut tempe.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Menurut Kepala Dusun Semampiran Gimin, jagung merupakan bahan makanan pokok warganya sampai saat ini.Oleh karena itu, mereka sangat risau ketika tanaman jagung yang sedang mulai berbuah itu diterjang angin ribut pada pertengahan Februari lalu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan makan nasi jagung juga dilakukan kembali oleh sebagian warga di berbagai desa di Kabupaten Rembang. Kebetulan, musim panen jagung sekarang ini bertepatan dengan melambungnya harga beras. Mereka lalu lebih baik makan nasi jagung. Hanya, bagi yang belum terbiasa, untuk makan nasi jagung memang membutuhkan lauk-pauk yang lebih enak dan lebih mahal.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5601930913131294630-5843354348678208170?l=pseks-organik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/5843354348678208170'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/5843354348678208170'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-organik.blogspot.com/2008/07/alternatif-makanan-non-beras.html' title='Alternatif Makanan Non Beras'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5601930913131294630.post-9171853177932048451</id><published>2008-07-07T11:28:00.000-07:00</published><updated>2010-09-01T09:03:21.417-07:00</updated><title type='text'>Kampanye Pupuk Organik Dari Klaten</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Memperingati Hari Pangan se-Dunia, Paguyuban Tani Organik “Sari Pratiwi" Klaten, Jawa Tengah, menggelar pameran hasil-hasil pertanian yang menggunakan pupuk organik mulai Sabtu (20/10) hingga Minggu (21/10) kemarin. Pameran ini merupakan bagian dari kampanye kepada petani agar melepaskan ketergantungan terhadap penggunaan pupuk kimia (anorganik).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di Lokasi pameran yang menempati Lapangan Ngendo, Kecamatan Jogonalan, Klaten, Paguyuban Tani Organik (PTO) Sari Pratiwi Klaten juga menggelar Sarasehan “Hak Atas Pangan." Sarasehan menghadirkan pembicara Dosen Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Dr FX Wagiman, Direktur Operasional CV Lembah Hijau Multi Farm Solo Andreas Guno Pradangga, dan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama KH Muhaimin.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pameran hasil pertanian yang menggunakan pupuk organik ini diikuti sejumlah kelompok tani organik. Produk yang dipamerkan semuanya berasal dari pertanian organik, seperti beras organik, berbagai jenis sayuran organik seperti wortel, sawi, kentang, pare, tomat, cabai, kacang panjang, kangkung, bayam. Juga ada jagung, singkong, dan ubi-ubian. Sejumlah kelompok tani juga memamerkan makanan olahan dari hasil pertanian organik, seperti jus wortel instan dan berbagai jenang.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Klaten Sri Mulyaningsih menyambut baik langkah PTO Sari Pratiwi yang terus memasyarakatkan penggunaan pupuk organik. Sebab, dari satu juta petani di Klaten baru 20-an persen yang menggunakan pupuk organik. “Belum banyak yang menyadari dampak dari penggunaan pupuk anorganik yang berlebihan," ujarnya.Ketua PTO Sari Pratiwi B Jarot Triwibowo di lokasi pameran menyatakan tekadnya untuk terus menyosialisasikan dampak negatif penggunaan pupuk anorganik bagi pelestarian alam dan kesehatan manusia.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5601930913131294630-9171853177932048451?l=pseks-organik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/9171853177932048451'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/9171853177932048451'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-organik.blogspot.com/2008/07/kampanye-pupuk-organik-dari-klaten.html' title='Kampanye Pupuk Organik Dari Klaten'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5601930913131294630.post-4295752681736795800</id><published>2008-07-07T08:05:00.001-07:00</published><updated>2010-09-01T09:05:13.477-07:00</updated><title type='text'>Petani Pilih Pupuk Organik</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Mahalnya harga pupuk kimia nonsubsidi dan menghilangnya pupuk bersubsidi di beberapa daerah di Sumatera Utara, seperti Serdang Bedagai, Simalungun, Toba Samosir, dan Tapanuli Utara, membuat petani daerah tersebut mulai beralih menggunakan pupuk organik. Mereka mengaku bisa mengurangi pengeluaran. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pusat Koperasi Kredit Sumatera Utara yang memiliki 280.000 orang telah memprogramkan pelatihan penggunaan pupuk organik. Menurut Pelaksana Manajer Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) Sumatera Utara (Sumut) Robinson Bakara, hampir 60 persen anggota Puskopdit Sumut adalah petani. Mereka adalah orang yang paling terpukul akibat menghilangnya pupuk bersubsidi. Di sisi lain, pupuk kimia nonsubsidi, lanjut Robinson, selain harganya tak terjangkau petani biasa, juga sulit ditemukan di pasaran. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;”Sekarang kami mulai menganjurkan petani untuk menggunakan pupuk organik. Sebanyak 21 koperasi kredit atau credit union di Sumatera Utara, yang tersebar mulai dari Karo, Humbang Hasundutan, Simalungun, hingga Tapanuli Utara, kami jadikan proyek percontohan untuk penggunaan pupuk bersubsidi,” papar Robinson, Jumat (20/6) di Siborongborong, Tapanuli Utara. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Robinson mengatakan, menghilangnya pupuk bersubsidi dan mahalnya harga pupuk nonsubsidi membuat Puskopdit Sumut ikut menanggung akibatnya. ”Petani anggota kami kan mengambil kredit untuk membeli sarana produksi. Mahalnya harga pupuk nonsubsidi dan menghilangnya pupuk bersubsidi dari pasaran membuat mereka tak lagi bisa bertani. Ini membuat petani tak bisa lagi mengembalikan pinjaman ke koperasi,” tuturnya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di Siborongborong, pupuk organik mulai digunakan petani jeruk. Netty Sianipar, petani jeruk di Desa Lobu Tua, Kecamatan Siborongborong, Tapanuli Utara, telah satu tahun menggunakan pupuk organik. Menurut Netty, dia mulai menggunakan pupuk organik setelah mendapat pelatihan di Puskopdit Sumut. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Netty yang merupakan anggota Koperasi Kredit Satolop Siborongborong mengaku banyak merasakan manfaatnya setelah menggunakan pupuk organik. ”Manfaat yang jelas saya rasakan adalah ongkos produksi yang berkurang drastis. Jika menggunakan pupuk kimia, saya harus mengeluarkan uang sampai Rp 15 juta untuk mendapatkan 1,5 ton pupuk NPK. Dengan pupuk organik sebanyak 1,5 ton yang memiliki kandungan sama dengan NPK, saya paling harus mengeluarkan Rp 2,4 juta untuk ongkos pembuatannya,” kata Netty. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dia kini telah mendapatkan manfaat dari sekali panen jeruknya tahun ini. Menurut Netty, panen jeruk biasa dia lakukan dua kali dalam setahun. Dari hasil panen setelah menggunakan pupuk organik, ada peningkatan produksi sekitar 20 persen. ”Kalau dulu dengan pupuk kimia, hasil panen jeruk untuk lahan seluas satu hektar 50 ton. Sekarang dengan pupuk organik, satu hektar bisa menghasilkan 60 ton jeruk,” katanya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Netty mengungkapkan, perubahan fisik paling mencolok setelah dia menggunakan pupuk organik adalah tekstur tanaman. Saat menggunakan pupuk kimia, setelah pemupukan tekstur tanah mengeras dan dia harus kembali menggemburkan tanah jika mau melakukan pemupukan lagi. Kini, dengan menggunakan pupuk organik, tekstur tanah, lanjut Netty, bisa gembur sendiri. ”Hal ini tentu mengurangi pekerjaan,” katanya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pelatihan pemakaian pupuk organik yang dilakukan Puskopdit Sumut, kata Robinson, meliputi cara pembuatan hingga mempersiapkan pemasaran produk pertanian organik. Robinson mengatakan, Puskopdit Sumut masih cukup kesulitan mengubah tradisi petani menggunakan pupuk kimia ke pupuk organik. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;”Kesulitannya karena petani sudah sangat tergantung menggunakan pupuk kimia. Belum lagi mereka juga masih khawatir bagaimana memasarkan hasil pertanian organik mereka,” katanya. Namun, Robinson yakin bakal semakin banyak petani di Sumut yang menggunakan pupuk organik. ”Dua tahun terakhir, pupuk kimia nonsubsidi harganya semakin mahal, sementara pupuk bersubsidi menghilang di pasaran. Satu-satunya cara petani bisa kembali melakukan aktivitasnya ya dengan menggunakan pupuk organik,” ujarnya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pupuk organik dibuat dari bahan-bahan organik atau alami. Bahan-bahan yang termasuk pupuk organik, antara lain, adalah pupuk kandang, kompos, gambut, rumput laut, dan guano. Berdasarkan bentuknya, pupuk organik dapat dikelompokkan menjadi pupuk organik padat dan pupuk organik cair. Beberapa orang juga mengelompokkan pupuk-pupuk yang ditambang, seperti dolomit, fosfat alam, kiserit, dan juga abu, ke dalam golongan pupuk organik. Beberapa pupuk organik yang diolah dipabrik, misalnya, adalah tepung darah, tepung tulang, dan tepung ikan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pupuk organik cair, antara lain, adalah ekstrak tumbuh-tumbuhan, cairan fermentasi limbah cair peternakan, dan fermentasi tumbuh-tumbuhan. Pupuk organik memiliki kandungan hara yang lengkap.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5601930913131294630-4295752681736795800?l=pseks-organik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/4295752681736795800'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/4295752681736795800'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-organik.blogspot.com/2008/07/petani-pilih-pupuk-organik.html' title='Petani Pilih Pupuk Organik'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5601930913131294630.post-41103979591815265</id><published>2008-02-19T19:41:00.000-08:00</published><updated>2010-09-01T09:06:20.025-07:00</updated><title type='text'>Pengembangan Padi Organik Jatim Terganjal Pasar</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Masyarakat menginginkan makanan yang aman dari sisi kesehatan. Untuk memenuhi permintaan pasar itu, maka muncullah padi organik, yakni padi yang disahkan oleh suatu badan independen untuk ditanam dan diolah menurut standar organik yang ditetapkan. Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan yang diimbangi dengan meningkatnya kemampuan daya beli akhir-akhir ini telah mendorong konsumsi terhadap produk makanan yang aman bagi kesehatan dan ramah lingkungan terus meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan pola konsumsi masyarakat terhadap produk makanan ‘berlabel hijau’ inilah yang sejak beberapa tahun terakhir mulai ditangkap sebagai peluang pasar yang potensial dan ingin digarap oleh para petani di Jatim dengan mengembangkan budi daya tanaman padi organik. Hal ini kemudian dipadukan dengan program Pemprov Jatim yang menginginkan Jatim ‘lebih maju’ dari sekadar produsen beras konvensional yang dihasilkan dari sawah seluas 1.160.426 hektare dengan produksi 8,9 juta ton gabah per tahun untuk ditingkatkan menjadi produsen beras organik yang lebih ‘bergengsi’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muh. Maksum, Kepala Dinas Pertanian Provinsi Jatim mengatakan sebenarnya budi daya tanaman pertanian berbasis teknologi organik yang dikembangkan di Jatim bukan hanya padi. Sejumlah komoditas lain, mulai sayur mayur dan buah-buahan bahkan sudah lebih awal dikembangkan dengan pendekatan teknologi budi daya pertanian organik. “Seperti kentang, kobis, wortel hingga buah-buahan bahkan umbi-umbian yang dikembangkan dengan budi daya tanaman organik sudah banyak ditemui di berbagai super market.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, tampaknya Pemprov Jatim memiliki pertimbangan tertentu, antara lain teknis dan pasar yang lebih potensial, maka pengembangan budi daya tanaman padi organik lebih dikedepankan. Sementara pengembangan tanaman organik nonpadi lebih diserahkan ke pelaku bisnis dengan kerjasama petani setempat seperti yang dikembangkan seorang pengusaha swasta dengan petani disekitar Batu dan Malang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Uji coba&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan berbagai pertimbangan, termasuk kesiapan teknis dan dukungan pemerintah daerah, pengembangan budi daya tanaman padi organik di Jatim diawali di Kabupaten Lumajang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepatnya di desa Oro-oro Ombo, Kecamatan Pronojiwo, Kab. Lumajang pada akhir 2001. Hasil panen perdana padi organik di wilayah kerja Kelompok Tani Among Tani seluas 25 hektare saat itu menuai sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petanipun gembira. Meski produksi gabah hanya 4,9 ton per hektare atau dibawah rata-rata produksi padi konvensional yang mencapai 5,3 ton per hektare, tetapi karena nilai jual gabah kering giling (GKG) yang saat itu Rp1.700 per kg atau jauh lebih tinggi dari GKG padi konvensional sebesar Rp1.100 per kg, maka keuntungan yang diterima petani relatif masih lebih tinggi. “Karena sejumlah input budi daya a.l. penggunaan pupuk anorganik dan pengendalian hama penyakit yang menggunakan bahan alami jauh lebih rendah,” kata Eddy Prasetyo Utomo, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lumajang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 2002 luas tanaman padi organik di Lumajang ditingkatkan menjadi 75 hektare di Kecamatan Candipuro dan Pronojiwo. Luas itu tetap dipertahankan sampai kini. Pada awalnya, perluasan areal pertanaman terus dibayangi sukses, karena respon pasar cukup menjanjikan. Dimana hasil penjualan beras organik relatif lancar. “Dimana untuk memenuhi kebutuhan lokal saja saat itu kurang,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu petani bahkan sudah mampu membuat pupuk casting yang merupakan bahan organik dari kotoran cacing yang diberi pakan jerami dan kotoran ternak. Pupuk organik ini sebagai pengganti pupuk Urea dan SP36. Dan untuk pengendalian hama/penyakit digunakan bahan alami, termasuk cairan daun tembakau atau tanaman mimbo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Penggunanan bahan alami dalam budi daya padi organik ini selain bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah penerimaan petani juga perbaikan kualitas lingkungan berupa meningkatnya kandungan organik (C Organik) pada tanah yang tergerus hingga rata-rata dibawah 2% akibat penggunaan bahan anorganik yang berbahan baku sintetis,” kata F. Kasiadi, peneliti dari Badan Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Malang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan untuk antisipasi perkembangan budi daya padi organik di masa depan, Pemkab Lumajang juga bekerjasama dengan BPTP Malang mengembangkan budi daya pertanian terpadu, yaitu penerapan teknologi pertanian yang digabungkan dengan ternak. Kerja sama ini, kata Kasiadi, melibatkan sekitar 16 wilayah kecamatan di Lumajang. “Salah satu tujuannya untuk memacu populasi ternak dan sekaligus memanfaatkan kotoran ternaknya untuk dijadikan bahan baku pembuatan pupuk organik.” Keberhasilan petani padi organik di Lumajang ini kemudian menyulut semangat petani di sejumlah daerah lain untuk coba-coba mengembangkan padi organik, termasuk Kabupaten Malang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan catatan Dinas Pertanian Jatim, potensi budi daya pertanian organik di Malang mencapai 220 hektare, tapi menurut Poerwanto, mantan kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Malang saat itu yang dikembangkan baru sekitar lima hekater saja, yaitu di Desa Sumber Ngepoh, Kec. Lawang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebenarnya saat itu akan diperluas ke Tumpang dan Kromengan yang juga ditujukan untuk melestarikan padi varietas Tumpang yang merupakan padi unggul daerah. Tapi karena berbagai kendala akhirnya baru Lawang yang dikembangkan,” katanya kepada Bisnis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah daerah lain di Jatim yang juga potensial untuk pengembangan budi daya pertanian organik di Jatim, adalah Magetan (418 hektare), Tulungagung (140 hektare), Jombang (37 hektare), Ngawi (55 hektare) dan Madiun (20 hektare), Blitar, Banyuwangi, Jember, Mojokerto dengan luas total sekitar 1.830 hektare.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu hingga kini ternyata belum banyak daerah yang mengembangkan teknologi budi daya pertanian organik tersebut. “Bahkan Banyuwangi maupun Jember belum melakukan apa-apa,” kata Kasiadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pemasaran Seret&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang menjadi sebab mengapa daerah-daerah tersebut belum banyak yang bergerak, ternyata mereka punya alasan yaitu pasaran beras organik agak seret. Kondisi ini bertolak belakang dengan sikap optimistis Maksum yang sebelumnya sempat mengatakan ada permintaan beras organik dari Singapura dan Eropa sebanyak 1.000 ton per bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum sempat peluang pasar ekspor tersebut direalisasi, ternyata di Lumajang terjadi perkembangan yang kurang menggembirakan. Eddy menuturkan harga jual gabah kering giling (GKG) padi organik pada tahun lalu hanya laku Rp1.300 per kg. Yang berarti tidak beda jauh dengan GKG padi konvensional yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp1.100 per kg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dengan harga seperti itu yang berarti pendapatan petani relatif tidak beda dengan petani padi konvensional. Hal ini menyebabkan semangat petani jadi mengkerut,” katanya kepada Bisnis belum lama ini. Bahkan, lanjut dia, ketika ikut lelang komoditas pertanian yang diselenggarakan di Surabaya beberapa bulan lalu, beras organik Lumajang hanya ditawar Rp3.000 per kg, sementara harga beras konvensional kelas menengah berkisar antara Rp2.500 hingga Rp2.600 per kg. “Yang berarti tidak jauh beda.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemasaran beras organik ke pasar umum, kata Eddy, terpaksa dilakukan setelah Koperasi Pertanian Nusantara yang berpusat di Yogyakarta tidak lagi menyerap hasil panen petani. Koperasi tersebut yang sebelumnya terikat perjanjian dengan petani menyerap seluruh hasil panen dengan harga Rp1.700 per kg untuk gabah GKG hanya merealisasi satu kali, yaitu hasil panen pertama. “Setelah itu tidak. Maka kemudian pemasarannya ditangani dinas [Pertanian].”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi inilah, menurut dia, yang akhirnya menyebabkan semangat mengembangkan padi organik di Lumajang mulai kendur. Dinas Pertanian Lumajang kemudian memutuskan untuk sementara waktu mengerem laju perluasan tanaman padi organik, meski diakui sejumlah petani dari kawasan lain di luar Pronojiwo dan Candipuro minta tanaman padi organik diperluas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami tidak ingin tergesa-gesa daripada nanti petaninya kecewa. Lebih baik kami mempersiapkan dulu dengan melihat perkembangan pasarnya. Kalau bagus kita langsung genjot lagi.” Kasiadi melihat seretnya penyerapan pasar terhadap beras organik merupakan kunci utama yang menghambat pengembangan budi daya organik di masa mendatang. “Bukan hanya untuk padi organik, seluruh barang produksi yang ditujukan bagi pemasaran. Meski kualitas barang yang dihasilkan bagus bagaimanapun, tapi kalau pasar tidak merespons ya..tetap saja tidak laku [dijual]. Tidak bisa dipaksakan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, lanjutnya, selain masalah pemasaran pengembangan budi daya padi organik juga memiliki kendala lain, yaitu menyangkut teknis baik lokasi maupun teknis budi daya terkait dengan pembuatan pupuk organik serta penyediaan bibit unggul daerah. “Tapi kunci utamanya di pasar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lokasi budi daya pertanian organik, kata dia, harus benar-benar isolatif dengan mendapat air pengairan langsung dari sumber mata air agar tidak tercemar atau terkontaminasi oleh pestisida atau residu pupuk anorganik yang terbawa air irigasi. “Lokasi ini tepatnya di kawasan dataran tinggi.” Itupun harus dibuktikan melalui penelitian oleh lembaga sertifikasi organik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut satu sumber, untuk proyek padi organik di Lumajang penelitian lokasi atas kegiatan itu ditangani oleh lembaga sertifikasi organik Embrio dan Lembaga Pengawasan Produk Pertanian. Embrio merupakan lembaga yang mendapat lisensi dari International Federation of Organik Agriculture Movement (IFOAM) yang berpusat di Jerman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setifikasi ini selain untuk melindungi konsumen dari penipuan dan manipulasi oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab, juga menunjukkan bahwa seluruh proses persiapan, produksi, penyimpanan, pengangkutan hingga pemasaran telah memenuhi tahapan yang dipersyaratkan sesuai ketentuan yang berlaku secara internasional.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian hal itu akan memudahkan pemasaran, termasuk jika produk tersebut diekspor, termasuk ke Eropa sekalipun. Pembuatan pupuk organiknya juga rumit karena bersifat bulk, sehingga transportasinya susah. Tidak praktis. “Belum teknis pembuatannya yang juga perlu proses pembelajaran.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bibit Lokal&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Menyangkut bibit padi organik yang digunakan, Kasiadi menyatakan, seharusnya verietas unggul lokal, di mana selain produksinya tinggi juga memiliki rasa nasi yang enak. Saat ini, kata dia, ketersediaan bibit padi unggul lokal ini relatif sulit didapat karena memang sudah tergolong langka. “Sehingga jika diperlukan dalam jumlah massal dalam satuan waktu tertentu tidak tersedia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hasil kegiatan pemuliaan di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Malang, hingga kini sudah berhasil mengumpulkan sekitar 100 varietas padi unggul lokal yang ada di Jawa a.l. varietas Jawa, Bengawan, Tumpang, Wangi, Gilirang, Fatmawati, Selanggeng, hingga Bagus. “Proyek pertanian organik ini selain untuk meningkatkan pendapatan petani juga pelestarian terhadap varietas tanaman unggul lokal.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mengembangkan pasar, kata dia, harus ada pihak ketiga yang menjadi pioneer. “Lebih baik kalau pihak ketiga ini merupakan perusahaan yang cukup kuat modalnya dan memiliki jaringan distribusi luas, sehingga jaminan pemasaran bisa terjaga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukur mereka juga bersedia menjadi bapak angkat bagi petani produsen dengan memberi pinjaman modal kerja dengan skema yang saling menguntungkan, tambahnya. Pengalaman yang dijalin petani padi di Lumajang dengan Koperasi Pertanian Nusantara patut dijadikan kajian untuk menjalin kerja sama serupa dengan pengusaha lainnya. Tanpa begitu, pihaknya yakin, prospek bagus beras organik tidak akan bisa tergarap secara optimal. &lt;em&gt;(Bambang Sutejo, praktisi pertanian )&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5601930913131294630-41103979591815265?l=pseks-organik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/41103979591815265'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/41103979591815265'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-organik.blogspot.com/2008/02/pengembangan-padi-organik-jatim.html' title='Pengembangan Padi Organik Jatim Terganjal Pasar'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5601930913131294630.post-366636561917517262</id><published>2006-05-09T14:26:00.000-07:00</published><updated>2010-07-30T14:29:06.055-07:00</updated><title type='text'>Pertanian Organik, Hasil Panen Selalu Surplus</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Pemkab Ngawi menuju pertanian organik tidaklah keliru. Sebagai akibat petani berkeinginan panen berlimpah lalu menggunakan pupuk dengan jumlah sangat besar, akan mengakibatkan lahan menjadi kritis karena berkurangnya unsur hara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara, hasil tanaman pangan di kabupaten ini menjadi andalan utama dan merupakan salah satu penghasil padi terbesar di Provinsi Jawa Timur (Jatim). Bahkan pada tahun 2005, hasil panen menempati urutan ketiga di provinsi ini setelah Kabupaten Banyuwangi dan Jombang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita selalu surplus sekitar dua per tiga hasil panen setiap tahunnya. Untuk konsumsi masyarakat Ngawi sendiri maksimal hanya sepertiga," ujar Ir Marsudi, Kabid Produksi Tanaman Pangan Ir Marsudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 2005 ini, dari luas tanam sekitar 99.606 ha dengan luas panen 95.386 ha, produksi pada gabah kering giling mencapai 559.399,80 ton atau rata-rata setiap hektare menghasilkan 58,65 kwintal. "Dari jumlah itu, dua pertiganya adalah angka surplus," ujar Ir Marsudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat dari 19 kecamatan di Kabupaten Ngawi yang merupakan lumbung padi di daerah ini, yakni Kecamatan Geneng dengan rata-rata produksi padi 69.672 ton gabah kering giling (GKG)/tahun, disusul Kecamatan Paron dengan produksi 59.640 ton GKG/tahun dan Kecamatan Kedunggalar 62.021 ton GKG/tahun serta Kecamatan Widodaren dengan produksi 55.020 ton GKG/tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk terus menjaga produksi beras yang menjadi andalan di Provinsi Jatim tapi kondisi tanah tidak rusak, maka Pemkab Ngawi yang memiliki sasaran hasil tanaman pangan ini naik dua persen terus menerus mengarahkan para petani lewat kelompok-kelompok tani untuk beralih menuju pertanian organik yang ramah lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari beberapa kelompok tani yang sudah mencoba mengkombinasikan pupuk organik dan anorganik ternyata mampu menghasilkan hasil 10-11 ton/ha. "Sebenarnya banyak yang produksi per hektarenya mencapai sembilan ton ke atas," ujar Ir Dwi Ningrum, Kabid Perencanaan dan Pengendalian Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Pemkab Ngawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menambahkan, kalau tanah sudah kembali normal maka hasil produksinya dapat meningkat dengan baik. Sekarang ini yang masih terjadi, petani menggunakan pupuk organik dan anorganik dengan jumlah banyak untuk meningkatkan hasil produksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itulah, sejak tiga tahun terakhir pada kelompok tani terus menerus diberi pelatihan untuk menggunakan pupuk organik maupun pestisida alami yang ramah lingkungan. Hingga 2004, sepertiga kelompok tani sudah mengikuti pelatihan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura juga melarang para petani untuk membuat sumur dangkal (pantek) lagi guna mengairi sawahnya. "Kita kan tidak ingin lingkungan kita semakin rusak," ujar Ir Dwi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, para petani secara perlahan mulai diberi arahan untuk mengubah pola tanam, yakni padi-padi-palawija (musim kemarau). Sebelumnya, para petani menanam dengan pola padi-padi-padi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau mereka kekurangan air, khususnya di daerah lebih atas, maka akhirnya akan menuruti pola yang kita harapkan. Hasilnya bagus dan tidak merusak tanah, apalagi palawija itu kan sedikit menggunakan pupuk dan masih bisa menggunakan pupuk sebelumnya yang untuk padi ditambah pupuk organik," ujar Ir Marsudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga kini, hasil produksi padi di Kabupaten Ngawi menjadi incaran para pedagang beras dari kota-kota di Jatim dan Jateng. Apalagi, musim tanam dan panen lebih awal sebulan di banding kota-kota lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musim tanam dan panenan lebih awal ini sebetulnya untuk menjaga harga gabah turun, namun kenyataannya stabilitas untuk mencegah harga gabah anjlok itu belum bisa teratasi. "Kita sampai menyimpan hasil panen ke Jombang," kata Ir Dwi. &lt;em&gt;(Suara Karya Online, 8 Mei 2006)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5601930913131294630-366636561917517262?l=pseks-organik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/366636561917517262'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/366636561917517262'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-organik.blogspot.com/2006/05/pertanian-organik-hasil-panen-selalu.html' title='Pertanian Organik, Hasil Panen Selalu Surplus'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5601930913131294630.post-2472636423359163373</id><published>2003-10-03T15:16:00.000-07:00</published><updated>2010-09-01T09:09:27.802-07:00</updated><title type='text'>Perancis Kaya Produk Organik</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Perancis, suatu negara yang berpenduduk 59 juta itu, terkenal di dunia karena budaya dan kuliner makanannya. Para pemilik restoran yang canggih di luar Perancis berlomba menyajikan hidangan makanan yang berkonotasi Perancis, dengan nama hidangannya dalam bahasa Perancis, untuk mengontrol citra dan harganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan diterbitkannya standar pangan organik di Perancis, tren perkembangan pangan organik melonjak tajam selama beberapa tahun terakhir ini. Pada saat penulis berkunjung ke Eropa dalam rangka mengikuti Sidang Codex, di Roma, akhir bulan Juni 2003 ini, sempat memanfaatkan waktu senggangnya untuk mempelajari perkembangan pangan organik di daratan Eropa, khususnya di negara Perancis. Berikut disampaikan sekilas kondisi terakhir pangan organik di Perancis untuk digunakan sebagai pembanding bagi mereka yang tertarik berbisnis di bidang pangan organik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya setiap detik pembelanja bahan pangan dan makanan di Perancis semakin tertarik pada produk organik dan mereka membeli beberapa produk pangan organik dari "tingkat sambil lalu" menjadi pelanggan reguler, akhirnya rutin tetap. Lebih dari 52 persen masyarakat Perancis membelanjakan uangnya sekitar 65 euro setiap tahun bagi pangan organik yang mereka minati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun pada awalnya mereka hanya dapat membeli pangan organik pada toko outlet atau food store yang sangat khusus (specialized food store), khususnya selama tiga dasawarsa yang telah silam, tetapi saat ini, khususnya sejak 5 tahun terakhir, masyarakat Perancis telah dapat membeli pangan organik dari berbagai kios-kios atau food store makanan segar atau olahan biasa, tetapi dengan nama Food Store Pangan Organik, yang di sana di sebut BIO. Memang terasa sekali bahwa masyarakat Perancis telah tinggi kepeduliannya terhadap kesehatan, lingkungan hidup, serta good healthy life.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pergeseran Permintaan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari laporan hasil analisis terhadap European Market for Organic Food oleh Hamm, Gronefeld dan Halpin, di tahun 2002, dapat diringkas sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pangsa pasar terbesar di Perancis masih di tangan para pedagang pengecer konvensional yang meliputi 42 persen, sedangkan di pedagang pengecer pangan organik 28 persen, dan di baker dan butcher yang digolongkan sebagai pedagang food craft sebanyak 5 persen. Sisanya sekitar 23 persen dapat ditemui di pasar kaget yang hanya terjadi setiap minggu sekali, atau langsung di lokasi petani di country side yang letaknya di pinggiran kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meningkatnya permintaan pangan organik dipicu oleh derasnya pemberitaan berita dan isu keamanan pangan di media masa serta semaraknya diskusi di berbagai pertemuan resmi maupun gunjingan rileks, di kafe-kafe dan di berbagai forum di masyarakat mengenai keracunan, penyakit, dan polusi. Hal mana ternyata telah mendorong secara bermakna meningkatnya permintaan pangan organik oleh masyarakat konsumen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu juga sekaligus telah mendorong meningkatnya variasi produk pangan organik tidak lagi terbatas pada produk hortikultura tetapi meluas ke produk-produk hewani dan produk jadi, bumbu, dan makanan siap saji, bahkan makanan bayi, sampai produk kosmetik. Jenis pasar tidak lagi berkutat pada pasar perdagangan eceran, tetapi berkembang menjadi pasar dalam bentuk ke arah specialized market.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis pasar semakin profesional dan memiliki kredibilitas tinggi. Bahkan kini, supermarket yang besar-besar di arena shoping center di pinggiran kota berlomba saling mengembangkan etalase-etalase produk organik yang sangat mencolok perhatian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari data evaluasi penelitian terhadap kebutuhan konsumen diperoleh kenyataan adanya pergeseran keinginan konsumen mengenai produk pangan organik, yaitu dari groceries bergeser ke pasar produk segar. Buah-buahan dan sayuran segar, daging segar dan berbagai sausage dan produk susu, telah menjadi komoditas organik yang paling populer. Padahal, di masa lalu produk-produk tersebut terabaikan, praktis di semua rantai pemasaran, sehingga logistiknya terbengkalai, banyak produk segar hilang dari pajangan di shelf-shelf supermarket, termasuk buah, sayur-mayur, daging, dan produk susu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemajuan bermakna yang Perancis telah capai adalah di bidang pemantapan pengembangan dasar pemasaran yang luas bagi pangan organik di segala lini, apakah itu pedagang eceran konvensional maupun pasar mingguan atau pasar-pasar special bagi produk organik. Berbagai produk organik yang meliputi beberapa ribu jenis articles (items) saat ini telah dapat diperoleh di sekitar 400 outlet di food store pangan organik yang besar- besar dan di berbagai supermarket organik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pangan Organik&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luas area pertanian organik di Perancis melonjak empat kali sejak tahun 1995. Yaitu berkembang dari 100.000 hektar di tahun 1995 menjadi lebih dari 420.000 hektar di tahun 2001, setara dengan 1,5 persen dari seluruh area pertanian Perancis. Pertumbuhan dari tahun sebelumnya adalah 13 persen. Jumlah lahan tersebut digarap oleh sekitar 10.400 petani organik dan pedagang produk organik. Pemerintah Perancis telah memproyeksikan untuk mengembangkan area pertanian organik di seluruh Perancis meningkat menjadi 5 persen pada tahun 2005. Meskipun hal itu berarti harus ada peningkatan pertumbuhan sekitar 25 persen sampai 30 persen per tahunnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perancis demikian halnya Inggris, merupakan negara net importer di bidang pangan organik. Karena alasan tersebut Perancis memiliki potensi peluang yang sangat besar untuk mengembangkan bidang pertanian organik serta perluasan pabrik-pabrik pengolahan pangan organik, untuk dapat memenuhi permintaan konsumen (captived market) dalam negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengembangan brand di bidang pangan organik sangat maju di Perancis. Menurut data yang dilaporkan dari hasil survei yang dilakukan AC Nielsen untuk tahun 2002, pangsa pasar pangan organik meliputi 3 persen yang dipasarkan secara eceran. Data mana dianggap sedikit terlalu besar dari kenyataan. Meskipun demikian, perlu diakui bahwa data yang lebih akurat masih sulit diperoleh dari sektor tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedemikian jauh yang menjadi leader pasar eceran pangan organik berada di tangan industri lokal Perancis sendiri. Carrefour merupakan pasar eceran terbesar kedua di bidang pangan organik yang memperoleh pangsa pasar pangan organik sekitar 18 persen, Leclerc 13 persen, dan Auchan 11 persen (AC Nielsen, 2002). Sisanya dibagi antar-industri pemasaran yang kecil-kecil, sebagian besar dilakukan oleh Monoprix, suatu industri pemasaran yang memfokuskan dirinya secara intensif di bidang peningkatan dan substainability terhadap citra atau image pangan organik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pemasaran&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Monoprix Department Store yang terletak di berbagai pusat perkotaan Perancis tidak hanya menawarkan pangan organik, tetapi juga nonpangan organik, seperti bahan-bahan pembersih organik dan kosmetik serta peralatan dapur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peraturan mengenai standar label kemasan produk pangan organik telah diterapkan di Perancis sejak tahun 1983. Pada prinsipnya labeling bersifat sukarela (voluntary). Pemerintah Perancis mengeluarkan logo resmi yang lazim dikenal sebagai AB Logo dalam kotak persegi yang berwarna hijau. Huruf AB-nya sendiri berwarna putih, seolah-olah ada gambar kupu-kupu menclok. Kata AB singkatan dari "Agriculture Biologique".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Logo mana tercantum di semua produk organik di seluruh Perancis. Logo AB tersebut merupakan suatu tanda bahwa produk yang ada dalam kemasan tersebut dipastikan telah memenuhi segala persyaratan peraturan yang telah disetujui di seluruh Eropa, yaitu EC Organik Agriculture Regulation 2092/91. Dari hasil survei yang telah dilaporkan menyatakan bahwa 41 persen masyarakat Perancis telah kenal dan tahu benar akan makna dan arti logo tersebut (2002) dibanding hanya 10 persen ketika survei sejenis dilakukan pada tahun 1998.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas logo resmi biasanya juga dicantumkan logo perusahaan, yang biasanya memiliki logonya masing-masing, misalnya Monoprix, logonya berbentuk persegi berlatar belakang hitam dengan kata BIO yang berwarna hijau. Adapun Le Caddy Bio dengan logo persegi panjang dengan gambar kereta belanja supermarket dan bagian bawahnya bendera hijau dengan tulisan putih Bio, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari angka statistik tahun 2000, jumlah pelaku business pangan organik telah mencapai 5.500 perusahaan dagang dan industri pengolahan produk organik, yang terdiri dari food store besar, serta supermarket, dan bentuk craft bakerrie dan pabrik pengolahan juice organik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diperkirakan sekitar 90 persen dari pedagang pangan di Perancis menawarkan organik. Sebagian besar cabang-cabang pemasaran produk organik di Perancis didukung oleh pusat pembelanjaan khusus, boleh dikata terjadinya lebih awal dari apa yang telah terjadi di Jerman. Dari pembelanjaan tersebut sebagian berbentuk "superrette bio", yaitu suatu supermarket kecil-kecilan yang memiliki luas lantai pemasaran 150 sampai 300 meter persegi, meskipun ada juga yang berukuran besar, seperti halnya Nouveaux Robinson, yang berlokasi di Montreuil dekat Paris dan Serpent Vert di Strasbourg dengan luas lantai pemasaran 400-600 meter persegi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kooperasi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kooperasi (Coop) di bidang pangan organik juga berkembang pesat yang dikenal sebagai Biocoop, suatu perusahaan dengan 200 stores independent.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biocoop mengembangkan sendiri pedoman dan menerapkan suatu &lt;em&gt;standard procurement&lt;/em&gt; yang yang tinggi, dengan tujuan untuk mendesak produk pasar conventional keluar dari peredaran. Jumlah &lt;em&gt;specialized food store&lt;/em&gt; sebanyak 500 shops, yang dimiliki oleh salah satu dari delapan multiple yang terdapat di Perancis. Beberapa dari multiple tersebut di antaranya Rayons Vert dan Naturalia, telah memfokuskan diri untuk membuka dan mengoperasikan supermarket organik. &lt;em&gt;Food store&lt;/em&gt; pangan organik yang telah menjadi anggota &lt;em&gt;Biocoop&lt;/em&gt; dapat membeli dagangannya dari &lt;em&gt;store &lt;/em&gt;milik&lt;em&gt; cooperative&lt;/em&gt;, baik yang besar maupun yang kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa semester pertama tahun 2002, sekitar 30 persen susu organik di seluruh Perancis telah dipasarkan melalui rantai pasar konvensional. Diperkirakan sepertiga dari seluruh produk susu organik di Perancis disuplai oleh Biolait, suatu perhimpunan dari sekitar 350 petani produsen susu yang memproduksi 50 juta liter susu per tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peningkatan produksi susu 20 persen tahun yang lalu kini telah turun menjadi hanya sekitar 5 persen kenaikan. Di Perancis, 80 persen dari seluruh susu organik diolah oleh 35 dairies, masing-masing &lt;em&gt;dairy&lt;/em&gt; memproses sekitar satu juta susu setahunnya. &lt;em&gt;(Kompas, 3 November 2003)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5601930913131294630-2472636423359163373?l=pseks-organik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/2472636423359163373'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/2472636423359163373'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-organik.blogspot.com/2003/10/perancis-kaya-produk-organik.html' title='Perancis Kaya Produk Organik'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5601930913131294630.post-1758563789256434220</id><published>2002-01-25T15:14:00.000-08:00</published><updated>2010-07-30T15:15:32.746-07:00</updated><title type='text'>Hanya Satu Persen Lahan Gunakan Pupuk Organik</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Dari sekitar 900.000 hektar lahan pertanian produktif di Jawa Timur (Jatim), sekitar 99 persen lahan menggunakan pupuk kimia. Sementara pemakaian pupuk organik hanya satu persen dari luas lahan yang ada. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Padahal, penggunaan pupuk kimia tanpa dosis yang tepat akan membuat tanah rusak dan kehilangan unsur hara," kata Direktur Klinik Konsultasi Pertanian HM Noer Soetjipto SP MM, Kamis (24/1), usai mengikuti acara diskusi. Ia mengatakan, saat ini petani banyak menggunakan pupuk kimia untuk memacu hasil produksinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, petani tidak sadar bahwa mereka telah merusak tanah. Tanah menjadi keras, unsur hara hilang, dan hasil produksi pertanian semakin menurun. Penurunan produksi pertanian membuat petani semakin meninggikan dosis pupuk yang digunakan. "Akibatnya, kerusakan semakin parah," kata Soetjipto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menjelaskan, untuk mengembalikan kondisi tanah agar sesuai kondisi semula (natural) dibutuhkan pupuk organik yang lebih ramah lingkungan. Pupuk organik berfungsi memperbaiki struktur tanah, meningkatkan bahan organik, dan memperbaiki aktivitas mikroba tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan penelitian di Jepang, rehabilitasi tanah dengan kondisi yang sudah parah seperti Indonesia membutuhkan waktu lima tahun lebih, dengan kondisi tiga kali musim tanam per tahun. Setiap hektar lahan membutuhkan 500 kg pupuk organik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, kata Soetjipto, ada berbagai jenis pupuk organik. Yang tengah dikembangkan Soetjipto adalah pupuk organik dari limbah jamur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain ramah lingkungan, penggunaan pupuk organik juga menguntungkan secara ekonomis. Harga satu kilogram pupuk organik Rp 500, sementara harga pupuk urea (yang sering digunakan petani) Rp 1.300. Perbandingannya, dalam satu hektar lahan, petani hanya mengeluarkan dana Rp 250.000 jika menggunakan pupuk organik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan yang menggunakan pupuk kimia jauh lebih banyak lagi. Satu hektar tanah butuh 200 kg pupuk urea, 100 kg pupuk SP 36, dan 75 kg pupuk KCl. Dihitung dari pemakaian pupuk urea saja, petani harus mengeluarkan dana Rp 260.000 per hektar. Belum lagi dana untuk pupuk jenis lainnya. &lt;em&gt;(Kompas 25 Januari 2002)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5601930913131294630-1758563789256434220?l=pseks-organik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/1758563789256434220'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5601930913131294630/posts/default/1758563789256434220'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pseks-organik.blogspot.com/2002/01/hanya-satu-persen-lahan-gunakan-pupuk.html' title='Hanya Satu Persen Lahan Gunakan Pupuk Organik'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry></feed>
